Selamat datang di Jurnal harian Fairus

Jangan pernah katakan "tidak" pada dunia, tapi katakanlah aku bisa menggenggamnya dengan caraku sendiri.

NEVER GIVE UP

SEMANGAT :)

Find Out More Purchase Theme

Official Account

Youtube

Bantu Subcribe yaa :)

Read More

Instagram

Bantu Follow Yaa :)

Read More

Facebook

Bantu Add Friends Yaa :)

Read More

Twitter

Bantu Follow Yaa :)

Read More

LATEST POST

21 Desember 2020

Perumpamaan Seseorang Membaca Al-Quran Seperti Buah Utrujah

Perumpamaan Seseorang Membaca Al-Quran Seperti Buah Utrujah

Oleh: Siti Rosanti, Fakultas ilmu dakwah & komunikasi, UIN Bandung.

 Buah utrujah seketika menjadi pengharum ruangan, pemandangannya menyenangkan, kulitnya berbau harum, dagingnya adalah buah-buahan, bagian asamnya adalah lauk dan bijinya adalah penangkal racun

  Seorang muslim dan beriman, pastilah selalu membaca al-Qur’an. Karena al-Qur’an selain kalamullah, juga sebagai petunjuk dan penenang jiwa yang lagi resah.

  Al-Quran menjadi sebaik-baik petunjuk bagi manusia untuk menemukan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Membaca, mempelajari, menghafal dan mengamalkan isi kandungan al-Quran akan mengantarkan pada kemuliaan.

  Bisa jadi pula orang yang membaca Al-Qur’an bukan sekadar membaca dan menghafal. Namun hendaknya al-Qur’an tersebut bisa diaplikasikan atau diamalkan. Semakin banyak mengkaji al-Qur’an, mestinya semakin bagus iman dan akhlaknya. Karena sifat orang yang membaca al-Qur’an itu akan tercium wanginya. Artinya, ia akan buktikan dalam amal dan perilakunya keseharian.

Rasulullah ﷺ memberikan beberapa perumpamaan bagi orang yang membaca dan tidak membaca Al-Quran.

        “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan roihanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059)

          Rasulullah ﷺ menjelaskan perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Quran seperti buah utrujah yang memiliki rasa enak dan baunya wangi. Utrujah sendiri merupakan buah yang masuk pada marga dari jeruk. Buah ini sangat harum dan enak bahkan dijadikan sebagai bahan untuk membuat parfum.

       Orang mukmin yang membaca al-Quran bukan saja membuatnya mulia, terhormat, melainkan juga memancarkan kemuliaannya sehingga memberi manfaat bagi orang-orang lainnya. Dalam at- Tibyan, Imam Nawawi menjelaskan bahwa dengan membaca al-Quran bisa melembutkan hati sehingga membuat yang membacanya mencium harumnya iman.

        Orang mukmin yang tidak membaca al-Quran seperti kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Kurma merupakan buah yang rasanya manis dan memiliki banyak khasiat untuk kesehatan kendati buah ini tak memunculkan harum. Beberapa ulama berpendapat kategori ini merupakan orang yang beriman dan menjalankan ibadah namun hari-hari jarang dihiasi dengan membaca al-Quran.

     Sedang perumpaman orang durhaka (munafik) yang membaca al-Quran seperti buah raihana, baunya wangi namun rasanya pahit. Buah raihana memiliki wangi sehingga kerap diguanakan untuk wewangian. Namun buah ini memiliki rasa yang pahit bahkan disebutkan mengandung racun.

   Imam Nawawi menjelaskan kategori ini merupakan orang yang membaca al-Quran tapi tak mengamalkannya. Orang seperti ini kerap menampakkan diri dihadapan orang lainnya seperti orang suci namun pada praktiknya kerap lalai dari ketaatan kepada Allah.

         Ketika Rasulullah ﷺ membicarakan tentang pentingnya al-Qur’an dan Utrujah sekaligus menyinggung soal kurma. Seperti dikutip Abu Abdillah al-Maqdisi al-Hambali dalam kitab Khamsuna Fashlan fith Thibbin Nabawi disebutkan bahwa Ibnu Umar berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada pohon yang daunnya tidak bisa jatuh. Dan pohon itu adalah perumpamaan orang muslim. Katakan padaku, pohon apakah itu? Orang-orang langsung berpikir pohon bawadi. Abdullah (Ibnu Umar) berkata, “Aku berpikir dalam hati bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengatakannya. Dan Rasululah pun bersabda, pohon itu adalah pohon kurma.”

Para ulama berbeda pendapat tentang alasan beliau menyerupakan pohon kurma dengan orang muslim. Ada yang berpendapat karena pohon kurma tidak bisa hamil sebelum dikawinkan.

       Ada yang berpendapat karena jika dipotong kepalanya, maka pohon kurma akan mati. Dan ini ada alasan yang menonjol karena pohon kurma mempunyai banyak kebaikan (manfaat) yang sangat banyak.

      Seperti buahnya enak, daunnya selalu rindang, selalu ada buahnya, bisa dimakan dengan cara dan jenis yang beragam, serta bisa dimanfaatkan beragam keperluannya seperti serabutnya, daunnya dan pelepahnya bisa digunaan untuk papan, kayu glondongan, kayu bakar dan sebagainya. Sedangkan bijinya untuk makanan unta. Jadi semuanya bermanfaat.

         Bahkan jummar adalah jantung pohon kurma yang lunak dan bisa dimakan. Menurut para dokter, jummar mempunyai karakter dingin , kering pada level pertama. Meski rasanya sepat, baik untuk mengatasi tenggorokan yang kasar, diare, mengobati borok.

       Adapun utrujah, karakternya dingin, tapi bijinya karakternya panas dan mengandung sedikit kelembaban. Rasanya masam, adapun kulitnya pembangkit rasa gembira dan penangkal racun . Jika ditaruh di mulut, dapat mengharumkan bau mulut dan mengusir angin. Dan jika dicampur dengan rempah-rempah dapat membantu pencernaan.

       Konon ada kisah seorang Kisra (Raja Persia) marah terhadap sejumlah tabib dan memerintahkan agar mereka dijebloskan ke dalam penjara. Lalu ia menyuruh mereka memilih satu jenis lauk dan tidak boleh lebih dari satu. Ternyata mereka memilih buah Utrujah. Kemudian mereka ditanya. Mengapa kalian memilih Utrujah bukan yang lain.

       Mereka menjawab, karena buah utrujah seketika menjadi pengharum ruangan, pemandangannya menyenangkan, kulitnya berbau harum, dagingnya adalah buah-buahan, bagian asamnya adalah lauk dan bijinya adalah penangkal racun dan mengandung Minyak


03 Desember 2020

SEMANGAT YANG TAK PERNAH PADAM

SEMANGAT YANG TAK PERNAH PADAM

👐Untuk kalian yang selalu semangat dalam belajar👌

😚 Kalian Hebat. Kalian Luar Biasa😉

Disusun Oleh: Fairus Utami

Kisah ini berawal dari mereka yang sekolah di  pondok pesantren dan mereka sebentar lagi akan lulus Madrasah Tsanawiyah, tapi semangat mereka belajar masih membara, menyelami lautan ilmu pengatahuan yang berserakan dimana-mana, mencarinya dari berbagai lembaran buku lama dan para guru yang ahli dalam bidangnya, sehingga terkempullah ia menjadi satu pengatahuan sebagai referensi ilmu memandu wahyu dan dari situ juga kami mengerti bahwa betapa penting seseorang mempunyai ilmu, pengatahuan, wawasan yang luas. Dan dibekali ilmu yang oleh para guru mereka wariskan serta banyaknya bacaan buku menjadikan mereka untuk selalu belajar dan selalu semangat menggapai cita-cita mereka masing-masing. Meskipun pada hakikatnya sebagian dari mereka nantinya ada yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena terkedala biaya sekolah dan factor finansial yang tidak memadai dan pada akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk berhenti dan memilih serta menentukan jalannnya sendiri. Itu sekilah pengantar dari carita ini.

Baca juga : Arti Sahabat Sejati

Disebut “semangat tak pernah padam” karena tulisan ini akan dimulai dari sebuah kisah perjalanan dan pengalaman hidup seseorang yang semasa sekolahnya selalu semangat, optimis dan tidak pernah menghiraukan gurauan yang negative kepadanya. Nanti saya akan beritau diakhir episode siapa sosok seseorang itu.

Baca lagi yang ini : Kapan Bicara dan Kapan Diam

Kisah ini berawal dari hari kelulusan mereka di pondok pesantren, mereka terlihat gembira diatas panggung perpisahan yang mana sebentar lagi mereka akan dipakaikan kopiah tassel sebagai tanda bukti bahwa mereka telah lulus selama tiga tahun belajar di pesantren tersebut. Sorakan serta teriakan penonton dari berbagai arah membuat mereka semakin terharu dan bahkan salah satu dari mereka menangis menjadi-jadi dihari kelulusan itu. Hari-hari yang dinanti-nantikan kini telah datang dan hadir didepan mata mereka.

Setelah acara perpisahan selesai, mereka pun pulang kerumahnya masing-masing dengan sejuta kegembiraan dan setelah itu mereka berhak memilih dan memilah jalan hidup mereka. Mereka diantara ada yang langsung kerja, ada yang membantu orang tuanya, ada yang merantau dan ada juga mereka yang masih semangatnya membara untuk selalu terus melanjutkan studi semampu mereka, mereka adalah orang-orang yang hebat. Yahh memang, setiap orang mempunyai rencana dan mempunyai tujuan masing-masing dan kita tidak boleh ikut campur terhadap apa yang mereka telah pilih karena setiap pilihan pasti terbaik bagi mereka.

Coba Baca yang ini : Cara Menyikapi Kesulitan

Kisah ini akan lebih esklusif kepada seseorang salah satu diantara mereka yang ekonomi keluarganya sangat rendah tapi ia sendiri mempunyai cita-cita setinggi langit. Tapi factor ekonomi tidak memudarkan atau melemahkan semangat belajarnya, factor ekonomi tidak menjadi suatu masalah baginya, yang terpenting dan menjadi masalahnya sekarang adalah; adakah nanti ridho yang diberikan orangtuanya ketika ia melanjutkan studinya? Itu saja yang ia harapkan dan itu juga yang membuatnya bimbang tidak karuan. Lantas, diapun mendatangi ibunya untuk mengatakan hal demikian dengan membawa keyakinan bahwa ibunya nanti meridhoi dan memberikan izin kepadanya untuk melanjutkan studinya.

Berani baca ga : Berjuang untuk Menggapai Kesempurnaan

Obrolan pun dimulai. Dia berterus terang kepada ibunya bahwa dia ingin melajutkan studinya ke Madrasah Aliyah, ibunya langsung menatapnya dengan tatapan penuh kegembiraan serta bercampur dengan kesedihan. Disisi lain ibunya gembira karena anaknya masih mempunyai keinginan untuk melanjutkan studinya dan disisi lain ibunya sedih karena dari segi finansial orangtuanya kurang mampu untuk mengsekolahkannya, karena makan saja mereka harus banting tulang dulu baru bisa makan, hmmm. Tapi apa jawaban ibunya? Ibunya menjawab dengan senyuman yang menawan mengatakan “kamu tetap lanjut sekolah, kami akan mencarikan kamu biaya agar kamu tetap sekolah nak” saat mendengar itu, dia sangat gembira karena telah mendapatkan ridho dari ibunya.

Baca juga : Memaknai Ujian yang Datang

Setalah mendapatkan ridho dari kedua orangtuanya, semangatnya pun mulai tumbuh kembali, dia meresa dunia sedang berpihak padanya, dia sangat kelihatan gembira. Lalu bergegaslah ia memenumi temannya seangkatannya untuk memberikan info sekaligus mencari tahu kemana mereka setelah lulus nanti, satu persatu dia temui dan jumpai, ada info yang menyedihkan dan ada juga info menjadi kegembiraan padanya. Info menyedihkan ketika ia mendengar dari sebagian curhatan termannya bahwa mereka tidak akan melanjutkan sekolahnya dan info gembiranya masih ada teman angkatannya yang masih mau berjuang bersamanya di sekolah yang sama, itu cukup membuat dia lega karena masih ada teman sefrekuensi dengannnya

Lanjut cerita mereka sudah masuk di Madrasah Aliyah bersama sebagian temannya, hari-hari baru mereka lalui masih membawa semangat yang membawa dalam benak mereka yahh meskipun suasananya agak berbeda tapi tidak membuat semangat mereka lentur begitu saja. Diwajah mereka selalu ada harapan yang mereka ingin gapai. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan seiring dengan perkembangan yang mereka sudah rasakan, adanya perbedaan mereka yang dulu dan sekarang tapi masih dalam semangat yang selalu menyala untuk selalu mengali ilmu pengatahuan meskipun disekolah itu fasilitas belajar masih bisa dikatagorikan minim, sarana prasarana yang masih kurang, serta minimnya pengajar.

Baca coba : Berjalan Sendiri atau Bersama-sama

Lantas pada suatu hari, datanglah seorang yang berpakaian cukup rapi yang diutus dari suatu PT untuk mencari beberapa orang untuk dijadikan kariawan dalam PT tersebut. Orang yang berpakaian rapi itu pun melaksanakan tugasnya dengan berkeliling desa dan mengunjungi rumah antar rumah untuk memberikan informasi terkait yang ia bawa dan membicarakan kepada pemilik rumah maksud kedatangannya ke desa tesebut. Lantas belum lama, orang itu sampai dirumah satu keluarga yang anaknya itu masih sekolah dibangku Madrasah Aliyah yang baru beberapa bulan masuk sekolah. Diapun memberikan info terkait kedatangannya kesini dan mengajak keluarga tersebut untuk bekerja disana dengan jaminan yang cukup menyakinkan baik itu untuk kehidupan mereka sehari-hari ataupun untuk biaya sekolah anaknya serta biaya tranformasi ditanggung oleh PT tersebut. Singkat cerita keluarga tersebut mengiyakannya dan mengisi kontrak kerja selama beberapa tahun.

Baca ini : Arti Sebuah Perjalanan Hidup

Kemudian keesokan harinya, seorang ibu dari seorang anak yang sekolah di Madrasah Aliyah mengatakan kepadanya anaknya bahwa mereka akan berangkat dalam beberapa hari ini ke salah satu PT untuk bekerja dalam waktu yang tidak ditentukan. Anak itupun sempat sedih dan bahkan sempat keluar air matanya karena ia tidak sanggup akan ditinggalkan oleh keluarganya tercinta, saat itu ia belum memberikan jawaban kepada keluarganya akan kesetujuannya atau tidak. Sore harinya, duduklah dia didepan pantai dekat rumahnya sambil merenungkan akan kehidupannya nanti setelah keluarganya sudah berangkat. Dan disisi lain ia tidak mau ditinggalkan sendirian di desa dan ingin sekali ikut bersama keluarganya meskipun dia sendiri akan rela meninggalkan sekolahnya dan melupakan cita-cita besarnya.

Pagi pun telah datang lagi, suara ayam berkokok diberbagai penjuru rumah, terbitlah fajar dari arah timur dan saatnya dia siap-siap untuk berangkat sekolah, tapi sebelum berangkat ke sekolahnya, ia mengatakan pada ibunya tentang keputusan yang telah ia renungkan kemarin sore dengan berbagai pertimbangan yang sudah matang. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ia akan ikut bersamanya dan akan melepaskan semua apa yang telah ia perjuangkan selama ini, bukan tidak mau mengapresiasi perjuangannya selama ini tapi ia memilih lebih dekat dan selalu ibu, ayah dan adiknya.

Coba baca ini: Ujian Sebagai Perbaikan Kepribadian

Nanti akan kita lanjutankan lagi ceritanya di part-2, apakah seorang anak yang pintar itu akan mengembangkan bakatnya dalam dunia kerja atau malah akan frustasi dengan kata lain tidak melakukan apa-apa hanya sedekar merenung dan menerima nasib saja.

Tunggu saja yahhhh dan jangan lupa COMENTAR dibawah yahh, dan SHARE ke teman-teman kamu

  

28 Oktober 2020

Patologi Sosial: Problem Sosial, Dinamika Problem Sosial

Patologi Sosial: Problem Sosial, Dinamika Problem Sosial

 


A.    Pengertian Prolem Sosial

Malasalah sosial adalah istilah dalam sosiologi yang lahir menjadi bagian gejala sosial. Masalah Sosial ini terbentuk dari dua kata, yakni masalah dan sosial. Masalah artinya adalah ketidaksetaraan yang terjadi antara keinginan dan kenyataan, sedangkan sosial berarti masyarakat. Jadi, secara umum masalah sosial ialah persenjangan yang terjadi dalam masyarakat. Menurut Kartini Kartono, pengertian masalah sosial merupakan semua bentuk tingkah laku individu atau kelompok yang melanggar adat istiadat dalam kehidupan masyarakat. Sebagian besar masyarakat menganggap masalah sosial mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya, dan juga merugikan banyak orang, termasuk mengacaukan keteraturan sosial yang sudah berjalan.

Masalah sosial merupakan kondisi yang tidak diinginkan ada di dalam masyarakat karena dapat mengganggu ketenteraman masyarakat dan diperlukan adanya tindakan sebagai hasil dari kesepakatan bersama untuk mengatasinya atau memperbaikinya. Masalah sosial dianggap sebagai persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang bersifat immoral, berlawanan dengan hukum yang bersifat merusak. Masalah-masalah sosial tidak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Lihat juga: Pengertian, Tujuan, Objek Formal Patologi Sosial

Masalah sosial merupakan masalah yang timbul akibat dari interaksi sosial antara individu, antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial berkisar pada ukuran nilai, adat istiadat, ideologi dan tradisi yang ditandai dengan suatu proses sosial yang disosiatif. Bahkan masalah sosial timbul dari proses perkembangan masyarakat. Apalagi kalau proses perkembangan itu berlangsung dengan cepat sehingga menimbulkan keguncangan di dalam masyarakat. Sehingga masyarakat kekagetan budaya (cultural shock) dan kesenjangan budaya (cultural cultural lag).

Lihat Lagi: Sejarah, Latar Belakang Dan Akar dari Patologi Sosial

Masalah sosial timbul karena adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, di mana dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut yang menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Suatu kondisi yang normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antara unsur-unsur masyarakat atau unsur-unsur kebudayaan. Apabila antara unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan atau ketidaksesuaian, maka hubungan-hubungan sosial terganggu yang mengakibatkan kegoyahan dalam kehidupan kelompok.

Masalah sosial merupakan salah satu problema dalam kependudukan yang selalu hadir dan juga muncul dalam kehidupan masyarakat. Masalah sosial ini terbentuk karena setiap individu dan individu lainnya memiliki keinginan yang berbeda.

Situasi sosial yang tidak diinginkan oleh sejumlah orang karena dikhawatirkan akan mengganggu sistem sosial dan perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah perilaku yang menyimpang dari nilai atau norma-norma (Horton dan Leslie, 1984). Sedangkan menurut Zastrow (2000). Masalah sosial adalah suatu kondisi sosial yang mempengaruhi sejumlah besar orang yang memerlukan perbaikan segera dengan sekumpulan tindakan-tindakan. Begitupun dengan menurut Pincus dan Minahan, (1975) Masalah sosial adalah suatu situasi atau kondisi sosial yang dievaluasi oleh orang-orang sebagai suatu situasi atau kondisi yang tidak mengenakkan atau situasi problematic

B.     Masalah Problem Sosial

Setiap individu berkepentingan dengan individu-individu lain dalam kelompoknya sendiri maupun di luar kelompoknya. Dalam kehidupan sehari-hari rasa berkepentingan itu tersalurkan melalui proses sosialisasi dan interaksi sosial. Proses sosialisasi merupakan suatu proses pembelajaran sejak anak itu masih kecil dengan tujuan untuk membentuk kepribadiannya. Interaksi sosial terjadi ketika anak itu mulai bergaul dengan orang lain baik dalam lingkungan keluarganya sendiri maupun dengan orang lain atau masyarakat di luar lingkungan keluarga.

Dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat, manusia harus mengemban nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku sebagai penuntun atau pedoman dalam kehidupannya. Oleh karena itu berbicara mengenai nilai berarti kita berbicara tentang hal-hal yang ideal atau das sollen yaitu sesuatu yang seharusnya, bukan das sein atau sesuatu yang senyatanya terjadi. Namun dalam kenyataannya ada orang atau sekelompok orang yang dengan sengaja dan sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang akan menimbulkan kesenjangan dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah dalam masyarakat. Apabila masalah-masalah itu menjadi berlarut-larut, maka gejala atau kenyataan itu akan menjadi masalah sosial. Jadi yang dimaksud dengan masalah sosial adalah kesenjangan antara das sollen yaitu sesuatu yang seharusnya ada dengan das sein yaitu sesuatu yang senyatanya terjadi.

1)      Karakteristik Masalah Sosial

a.       Kondisi yang dirasakan banyak orang

Sebuah masalah baru bisa dikatakan sebagai suatu masalah sosial jika keadaannya dirasakan oleh banyak orang (masyarakat). tetapi tidak ada batasan tetang berapa jumlah orang yang harus merasakan masalah itu. Bila sebuah masalah mendapatkan suatu perhatian serta pembicaraan yang lebih dari satu orang, masalah itu adalah sebuah masalah sosial.

b.      Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan

Menurut pandangan hedonisme, orang lebih cendrung mengulang sesuatu yang menyenangkan serta lebih menghindari sesuatu yang tidak mengenakan. Orang lebih menghidari masalah, sebab masalah selalu tidak menyenangkan. Penilaian masyarakat sangat menentukan sebuah masalah bisa dikatakann sebagai sebuah masalah sosial.

c.       Kondisi yang menuntut perpecahan

Sebuah kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahan. Biasanya, sebuah keadan dianggap perlu dipecahkan bila masyarakat menganggap masalah itu perlu dan harus dipecahkan.

Sebagai Contoh :  Pada waktu lalu, masalah kemiskinan tidak dikategorikan sebagai masalah sosial, karena waktu itu masyarakat menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang alamiah dan masyarakat belum mampu memecahkannya

2)      Jenis-Jenis Masalah Sosial

Masalah-masalah sosial yang hidup dalam masyarakat dapat diklasifikasikan kedalam beberapa hal, yaitu:

·         Kemiskinan

Masalah kemiskinan bisa dipandang secara relatif oleh masing-masing orang, hal ini tergantung pada taraf kehidupan masyarakat setempat. Bagi masyarakat modern, miskin itu dipandang karena tidak terpenuhinya seluruh kebutuhan hidupnya. Akan tetapi bagi masyarakat yang sederhana kemiskinan itu dipandang karena mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan primernya seperti sandang, pangan, dan papan.

Jadi secara umum kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana anggota masyarakat tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok, dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu, miskin budaya dan budaya miskin.

Miskin budaya adalah miskin pengetahuan atau miskin kreativitas, dengan keterbatasan kemampuannya maka seseorang tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik, sehinggatidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya atau kebutuhan primernya. Adapun budaya miskin adalah budaya malas, orang yang etos kerjanya sangat rendah meskipun mereka mempunyai kemampuan, pengetahuan yang memadai dan juga memiliki daya kreatifitas.

·         Kejahatan atau Kriminalitas

Kejahatan berhubungan dengan organisasi-organisasi yang hidup dalam masyarakat. Biasanya kejahatan yang dilakukan oleh seseorang disebabkan karena adanya kekecewaan, merupakan bentuk kompensasi, dapat juga ditimbulkan oleh golongan yang menganggap dirinya kebal terhadap hukum dan sarana-sarana pengendalian sosial lainnya, juga situasi sosial yang memberikan peluang atau kesempatan untuk melakukan kerja

·         Disorganisasi Keluarga

Adapun yang dimaksud dengan disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai satu unit karena anggota keluarga gagal memenuhi kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya. Bentuk-bentuk disoganisasi keluarga antara lain:

  1. Unit keluarga tidak lengkap karena hubungan di luar perkawinan
  2. Perceraian dimana-mana
  3. Tidak ada komunikasi yang baik diantara anggota keluarga
  4. Krisis keluarga yang disebabkan faktor intern dan eksternal

·         Peperangan

Masalah peperangan berbeda dengan masalah sosial lainnya karena menyangkut beberapa masyarakat sekaligus, sehingga merupakan masalah sosial yang paling sulit dipecahkan. Peperangan mengakibatkan disorganisasi dalam berbagai aspek kemasyarakatan baik bagi negara yang dapat memenangkan perang maupun bagi negara yang kalah perang.

·         Pelanggaran Terhadap Norma-norma Masyarakat

Bentuk masalah sosial yang disebabkan karena adanya pelanggaran terhadap norma-norma sosial yang hidup dalam masyarakat dapat berupa:

  1. Pelacuran, berpengaruh besar terhadap moral seseorang.
  2. Delinkuensi anak-anak yaitu, kelompok anak-anak muda yangtergabung dalam suatu  organisasi baik formal maupun non formalyang mempunyai tingkah laku yang tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya.
  3. Alkoholisme, akibat dari alkoholisme adalah kurangnya kemampuan untuk mengendalikan diri baik secara fisik, psikologis, maupun sosial sehingga tindakannya akanmengganggu ketenteraman masyarakat secara umum.

·         Masalah Kependudukan

Masalah kependudukan merupakan masalah dasar terjadinya masalah-masalah sosial yang lain. Artinya masalah kependudukan  menjadi pendorong timbulnya masalah-masalah sosial yang lain. Pertumbuhan penduduk akan diikuti oleh pertumbuhan kebutuhan hidupnya. Apabila kebutuhan hidup itu tidak terpenuhi akan mengakibatkan terjadinya berbagai ketimpangan, misalnya dalam bidang ekonomi, ekologi atau lingkungan, pendidikan dan sebagainya.

·         Masalah Lingkungan

Secara umum, masalah lingkungan dapat diartikan sebagai masalah yang terjadi dalam lingkungan hidup manusia. Masalah lingkungan ini tidak bisa berdiri sendiri artinya masalah ini terkait dengan masalah-masalah yang lain, seperti masalah kependudukan, misalnya tingginya arus urbanisasi, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan sebagainya. Selain itu juga terkait dengan  perkembangan Iptek.

C.    Dinamika Proses Sosial

Sosialisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang terjadi bila seseorang menghayati dan melaksanakan norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga akan merasa menjadi bagian dari kelompoknya tadi. Dipandang dari sudut kepentingan individu, sosialisasi adalah suatu proses sosial yang terjadi bila seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku kelompoknya.

Dinamika proses dalam hidup bersosial terutama dalam kehidupan bersama di dalam suatu kelompok masyarakat akan melahirkan sebuah kebudayaan yang berisi berbagai tujuan dan cara bersama yang diperkenankan untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai akibat dari proses sosialisasi, setiap individu belajar mengenali berbagai tujuan kebudayaannya. Selain itu, mereka juga mempelajari berbagai cara untuk mencapai tujuan yang selaras dengan kebudayaannya. Jika kesempatan untuk mencapai tujuan tersebut tidak tercapai, maka setiap individu mencari cara lain yang terkadang menimbulkan penyimpangan. Kemungkinan perilaku menyimpang pun semakin besar apabila tiap individu diberi kesempatan untuk memilih caranya sendiri.

Para ahli sosiologi dan antropologi merasa yakin, bahwa tidak ada masyarakat manusia yang dalam pertumbuhannya tidak mengalami proses dinamika dan perubahan sosial budaya. Betapapun kecil dan sedikit perubahan-perubahan itu, pada akhirnya setelah melalui beberapa kurun waktu, akhirnya perubahan sosial budaya itu akan terakumulasi dan semakin tampak.

Jika dilihat dari teori pengendalian, kebanyakan orang menyesuaikan dirinya dengan nilai dominan karena adanya pengendalian dari dalam ataupun dari luar. Pengendalian dari dalam berupa norma yang dihayati dan nilai yang dipelajari seseorang. Sedangkan pengendalian dari luar berupa imbalan sosial terhadap konformitas (tindakan mengikuti warna), dan sanksi hukuman terhadap tindakan penyimpangan. Dalam masyarakat konvensional, terdapat empat hal yang mengikat individu terhadap norma masyarakatnya, yaitu

a. kepercayaan, mengacu pada norma yang dihayati;

b. ketanggapan, yakni sikap tanggap seseorang terhadap pendapat orang lain, berupa sejauh mana kepekaan seseorang terhadap kadar penerimaan orang konformis;

c. keterikatan (komitmen), berhubungan dengan berapa banyak imbalan yang diterima seseorang atas perilakunya yang konformis;

d. keterlibatan, mengacu pada kegiatan seseorang dalam berbagai lembaga masyarakat, seperti majelis ta’lim, sekolah, dan organisasi setempat. Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang akan salah satu pengikat ter - sebut, semakin kecil pula kemungkinan baginya untuk melakukan penyimpangan.

Pergaulan seseorang yang sedang tumbuh dewasa, pada umumnya tidak terlepas dari peniruan (imitasi) terhadap orang lain yang diidolakannya. Akan tetapi, peniruan tersebut kadang bersifat negatif. Hal yang ditiru adalah budaya Barat, seperti dari Eropa atau Amerika yang dianggapnya mewakili dunia modern. Hal ini disebut westernisasi. Berperilaku seperti mereka akan membuat dirinya merasa modern. Padahal tidak demikian, karena yang ditiru sebagian besar bukan ilmu pengetahuan atau keterampilannya, melainkan pola, sikap, perilaku, kebiasaan, dan lain-lain yang biasa dilihat dari televisi, film, atau gaya kelompok pemain musik yang menjadi panutannya.

Semakin dewasa kebahagiaan seseorang juga semakin susah didapatkan. Selain karena kebutuhan hidup yang semakin bertambah, lifestyle seseorang juga akan berubah. Hal yang paling bahagia adalah saat tidak ada perasaan iri terhadap orang lain. Sempat menyadari bahwa kebahagiaan itu relatif yang bisa dicapai dengan berbagai cara. Setiap orang pasti memiliki standar kebahagiaannya sendiri. Contohnya ada seseorang yang memiliki kesenangan dengan berkesenian, ada juga seseorang yang memiliki kesenangan berbelanja untuk memenuhi hasrat kehidupannya. Saya mulai berpikir semua kebahagiaan tergantung kebersyukuran tiap orang.

Tugas Kampus Fairus Utami

 

SUMBER REFERANSI :

Ø  Burian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara

Ø  https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201626/materi1.html

Ø  https://www.gurupendidikan.co.id/masalah-sosial/ 

Ø  https://www.kompasiana.com/firwan.syawaliansyah/54f98c89a333110a068b5323/pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-masalah-sosial

Ø  https://www.pelajaran.co.id/2016/22/proses-dinamika-dan-perubahan-sosial-budaya-lengkap-penjelasan.html

Ø  https://www.whiteboardjournal.com/column/proses-dewasa-muda-dan-kebingungan-tentang-masa-depan/

Patologi Sosial: Latar Belakang, Sejarah dan Akar Patologi Sosial

Patologi Sosial: Latar Belakang, Sejarah dan Akar Patologi Sosial

 


A.    Latar Belakang Munculnya Patologi Sosial

Manusia sebagai makhluk yang cenderung selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya telah menghasilkan teknologi yang berkembang sangat pesat sehingga melahirkan masyarakat modern yang serba kompleks, sebagai produk dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, urbanisasi, dan lain-lain. Hal ini di samping mampu memberikan berbagai alternatif kemudahan bagi kehidupan manusia, juga dapat menimbulkan hal-hal yang berakibat negatif kepada manusia dan kemanusiaan itu sendiri yang biasa disebut masalah sosial.

Lihat juga:Pengertian, tujuan dan Objek Formal Patologi Sosial

Adanya revolusi industri menunjukkan betapa cepatnya perkembangan ilmu-ilmu alam dan eksakta, namun tidak seimbang dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial sehingga menimbulkan berbagai kesulitan yang nyaris dapat menghancurkan umat manusia. Misalnya, pemakaian mesin-mesin industri di pabrik-pabrik mengubah cara bekerja manusia yang dahulu memakai banyak tenaga manusia. Karena pemakaian tenaga kerja manusia diperkecil, terjadi pemecatan buruh sehingga pengangguran meningkat (terutama tenaga kerja yang tidak terampil). Penduduk desa yang tidak terampil di bidang industri mengalir ke kota-kota industri. Jumlah pengangguran di kota semakin besar karena ada kecenderungan pengusaha lebih menyukai tenaga kerja wanita dan anak-anak (karena upah yang lebih murah).

Pada akhirnya, keadaan ini semakin menambah banyaknya masalah kemasyarakatan (social problem). Masalah tersebut umumnya berkaitan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kesulitan beradaptasi dengan perubahan ini menyebabkan kebingungan dan kecemasan, dan dapat memicu konflik, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hal tersebut membuat manusia melakukan pola tingkah laku yang menyimpang dari pola yang umum, melakukan apa pun demi kepentingannya sendiri, bahkan cenderung dapat merugikan orang lain.

Masalahnya adalah kapan kita berhak menyebutkan peristiwa itu sebagai gejala patologis atau sebagai masalah social? Menurut kartini dalam bukunya “patologi social” menyatakan bahwa orang yang dianggap kompeten dalam menilai tingkah laku orang lain adalah pejabat, politisi, pengacara, hakim, polisi, dokter, rohaniawan, dan kaum ilmuan dibidang social. Sekalipun adakalanya mereka membuat kekeliruan dalam membuat analisis dan penilaian tehadap gejala social, tetapi pada umumnya mereka dianggap mempunyai peranan menentukan dalam memastikan baik buruknya pola tingkah laku masyarakat. Mereka juga berhak menunjuk aspek-aspek kehidupan social yang harus atau perlu diubah dan diperbaiki.

Ada orang yang berpendapat bahwa pertimbangan nilai (value, judgement, mengenai baik dan buruk) sebenarnya bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang objektif sebab penilaian itu sifatnya sangat subjektif. Karena itu, ilmu pengetahuan murni harus meninggalkan generalisasi-generalisasi etis dan penilaian etis (susila, baik dan buruk). Sebaliknya kelompok lain berpendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia dan kaum ilmuan tidak mungkin tidak menggunakan pertimbnagan nilai sebab opini mereka selalu saja merupakan keputusan yang dimuati dengan penilaian-penilaian tertentu.

Untuk menjawab dua pendirian yang kontroversial tersebut, kita dapat meninjau kembali masalah ini secara mendalam dari beberapa point yang disebutkan oleh Kartini Kartono dalam bukunya yang berjuduk Patologi social, sebagai berikut:

  1. ilmu pongetahuan itu sendiri selalu mengandung nilai-nilai tertentu. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan menyangkut masalah mempertanyakan dan memecahkan lesulitan hidup secara sistematis selalu dengan jalan menggunakan metode dan teknik-teknik yang berguna dan bernilai. Disebut bernilai karena dapat memenuhi kebutuhan manusiawi yang universal ini, baik yang individual maupun social sifatnya, selalu diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang bernilai.
  2. ada keyakinan etis pada diri manusia bahwa penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern untuk menguasai alam (kosmos,jagad) sangatlah diperlukan demi kesejahteraan dan pemuasan kebutuhan hidup pada umumnya. Jadi ilmu pengetahuan dengan sendirinya memiliki system nilai. Lagi pula kaum ilmuan selalu saja memilih dan mengembangkan usaha/aktivitas yang menyangkut kepentingan orang banyak. jadi memilih masalah dan usaha yang mempunyai nilai praktis.
  3. falsafah yuang demokratis sebagaimana tercantum dalam pancasila menyatakan bahwa baik individu maupun kelompok dalam masyarakat Indonesia, pasti mampu memformulasikan serta menentukan system nilai masing-masing dan sanggup menentukan tujuan serta sasaran yang bernilai bagi hidupnya.

Seperti apa yang dikatakan george lundberg salah seoreang tokoh sosiolog yang dianggap dominan terhadap aliran neo-positivisme dalam sosiologi menyatakan bahwa ilmu pengatahuan itu bersifat otoriter, karena itu ilmu pengetahuan mengandung dan harus memilki moralitas ilmiah atau hukum moral yang conform dan seimbang dengan hukum alam. Dan diperkuat oleh C.C. North, seorang sosiolog lain, menyatakan bahwa dalam usaha pencapaian tujuan dan sasaran hidup yang bernilai bagi satu kebudayaan atau satu masyarakat, harus disertakan etik social guna menentukan cara pencapaian sasaran tadi. Jadi, cara atau metode pencapaian itu secara etis-susila harus bisa dipertanggungjawabkan, sebab manusia normal dibekali alam dengan budidaya dan hati nurani sehingga ia dianggap mampu menilai baik dan buruknya setiap peristiwa.

Adapun Istilah / konsep lain untuk patologi social adalah, Masalah social, disorganisasi sosial / social disorganization / disintegrasi social, sosial maladjustment, Sociopathic, Abnormal, Sociatri.

Tingkah laku sosiopatik jika diselidiki melalui pendekatan (approach), sebagai berikut:

1) Approach Biologis

Pendekatan biologis tentang tingkahlaku sosiopatik dalam biologi biasanya terfokus pada bagian genetik.

  1. Patologi itu menurun melalui gen / plasma pembawa sifat di dalam keturunan, kombinasi dari gen-gen atau tidak adanya gen-gen tersebut
  2. Ada pewaris umum melalui keturenan yang menunjukkan tendesi untuk berkembang kearah pathologis (tipe kecenderungan yang luaar biasa abnormal)
  3. Melaui pewarisan dalam bentuk konstitusi yang lemah, yang akan berkembang kearah tingkahlaku sosiopatik.

Bentuk tingkahlaku yang menyimpang secara sosial yang disebabkan oleh ketiga hal tersebut diatas dan ditolak oleh umum seperti: homoseksualitas, alkoholistik, gangguan mental, dll.

2) Approach Psychologist dan Psychiatris

a) Pendekatan Psikologis

Menerangkan tingkahlaku sosiopatik berdasarkan teori intelegensi, sehingga individu melanggar norma-norma sosial yang ada antara lain karena faktor-faktor: intelegensi, sifat-sifat kepribadian, proses berfikir, motivasi, sifat hidup yang keliru, internalisasi yang salah.

b) Pendekatan Psychiatris

Berdasarkan teori konflik emosional dan kecenderungan psikopatologi yang ada di balik tingkahlaku menyimpang

c) Approach Sosiologis

Penyebab tingkahlaku sosiopatik adalah murni sosiologis yaitu tingkahlaku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan suatu norma umum yang pada suatu tempat dan waktu tertentu sangat ditentang atau menimbulkan akibat reaksi sosial “tidak setuju”. Reaksi dari masyarakat antara lain berupa, hukuman, segregrasi (pengucilan / pengasingan), pengucilan, Contoh: mafia (komunitas mafia dengan perilaku pengedar narkoba)

Menurut St. Yembiarto (1981) bahwa studi patologi social memilki fase-fase tersendiri[5]. Adapun perkembangan patologi sosial ada melalui tiga fase,

  1. Fase masalah sosial (social problem)

Pada fase ini menjadi penyelidikan patisos action masalah-masalah sosial seperti pengangguran, pelacuran, kejahatan, masalah penduduk, dst

  1. Fase disorganisasi sosial

Pada fase ini menjadi objek penyelidikan peksos adalah disorganisasi sosial, fase ini merupakan koreksi dan perkembangan dan fase masalah sosial

  1. Fase sistematik

Fase ini merupakan perkembangan dari dua fase sebelumnya. Pada fase ini patsos berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang memiliki sistem yang bulat.

 

B.     Sejarah Munculnya Patologi Sosial

Zaman pertemuan banyak kebudayaan sebagai hasil dari semakin padatnya jaringan komunikasi daerah, nasional, dan internasional. Amalgamasi antara bermacam-macam kebudayaan itu kadangkala bisa berlangsung lancar dan lembut. Tetapi, tidak jarang pula sebagiannya berlangsung melalui konflik-konflik hebat.

Terjadilah konflik-konflik budaya dengan kemunculan situasi social yang khaotis dan kelompok-kelompok social yang tidak bisa dirukunkan sehingga mengakibatkan banyak kecemasan, ketegangan dan ketakutan dikalangan rakyat banyak, yang semuanya tidak bisa dicernakan dan diintegrasikan oleh individu. Situasi social seperti ini pada akhirnya mudah mengembangkan tingkah laku patologis/sosiopatik yang menyimpang dari pola-pola umum. Timbullah kelompok-kelompok dan fraksi-fraksi ditengah masyarakat yang terpecah-pecah, masing-masing menaati norma-norma dan peraturannya sendiri, dan bertingkah semau sendiri.

Maka muncullah banyak masalah social, tingkahlaku sosiopatik, deviasi social, disorganisasi social, disintegrasi social, dan diferensiasi social. Nlambat laun, hal itu menjadi meluias dalam masyarakat. Maka dengan tidak mengabaikan factor-faktor manusia dan psikologisnya, kita akan sedikit mencoba menganalisis terlebih dahulu pengertian, latar belakang dan sejarah patologi social yang diharapkan kita mendapatkan gambaran tentang maksud dari konsep patologi social itu sendiri.

Sejarah telah mencatat bahwa orang menyebut suatu peristiwa sebagai penyakit sosial murni dengan ukuran moralistis sehingga segala hal yang merupakan penyakit sosial, seperti kemiskinan, pelacuran, alkoholisme, perjudian, dan sebagainya harus segera dihilangkan di muka bumi. Kemudian pada awal abad 19-an sampai awal abad 20-an, para sosiolog mendefinisikan patologi sosial dan masalah sosial dengan sedikit berbeda.

Masalahnya adalah kapan kita berhak menyebutkan peristiwa itu sebagai gejala patologis atau sebagai masalah sosial? Menurut Kartini Kartono, orang yang dianggap kompeten dalam menilai tingkah laku orang lain adalah pejabat, politisi, pengacara, hakim, polisi, dokter, rohaniawan, serta kaum ilmuwan di bidang sosial. Sekalipun adakalanya mereka membuat kekeliruan dalam membuat analisis dan penilaian terhadap gejala sosial, pada umumnya mereka dianggap mempunyai peranan menentukan dalam memastikan baik buruknya pola tingkah laku masyarakat. Mereka juga berhak menunjuk aspek-aspek kehidupan sosial yang harus atau perlu diubah dan diperbaiki.

C.    Akar Patologi Sosial Kontemporer

Perspektif Patologi sosial diyakini merupakan perspektif tertua dari ke-7 perspektif. Jessie Bernard (1957) menamakannya sebagai pendekatan individual. Analogi organik juga menjadi perdebatan dalam pendekatan ini  dan Bernard (1957)  menyebutnya sebagai pendekatan Budaya dan Institusi. Sementara Rubington dan Weinberg (1995: 16) menjelaskan hal ini sebagai pengaruh analisis makro melalui pengambaran kongkret, yang menganalogikan masyarakat dengan mahluk hidup, dimana “Pemerintah sebagai Kepala, Pelayanan adalah pembuluh nadi dan polisi sebagai perpanjangan tangan dalam pengaturannya”. Kemudian Herbert Spencer membuat analogi simbolik yang menyebutkan bahwa masyarakat sebagai suatu organisme yang memiliki massa, serta struktur yang terus berkembang secara kompleks, dan mempunyai bagian-bagian yang berdiri sendiri. menurut para penganut perspektif ini, seseorang atau masyarakat disebut mengalami masalah sosial jika kegiatan organisme sosialnya terganggu. Gangguan ini disebut semacam penyakit atau patologi.

Samuel Smith (1911) dalam tulisannya Sosial Pathology serta Frank W. Blackmar dan J.L. Gillin (1923) dalam Outlines of sociology, mencerminkan perspektif patologi sosial kontemporer. Patologi sosial ini dapat disebabkan oleh dua factor, yaitu

(1). Ketidakmampuan individu menyesuaikan diri dalam menjalankan peranannya (maladjustment),

(2). Kegagalan masyarakat melakukan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan warganya (malfunction).

Disinilah ciri utama perspektif patologi sosial, bahwa permasalahan sosial selalu dicari pada kelemahan, baik pada individu maupun masyarakat. Dengan kata lain, masalah sosial itu selalu disebabkan oleh sesuatu yang tidak beres, karenanya perlu dilakukan pengobatan terlebih dahulu terhadap masalah yang tidak beres tersebut.

Perspektif patologi sosial mengenal 3 (tiga) penyimpangan, yaitu cacat (defect) atau bawaan lahir yang tidak bisa diajari, ketergantungan (dependent) yang menyebabkan kesulitan menerima pengajaran dan kenakalan (delinquent) yang bersifat menolak pelajaran. Penyebab dari penyimpangan tersebut bisa dilatarbelakangi oleh adanya pengaruh dari nilai-nilai yang salah di lingkungannya (Smith, 1911), seperti lingungan yang buruk akibat kepadatan penduduk, polusi, perkembangan teknoogi dan lain sebagainya. Baik pandangan klasik maupun modern melihat bahwa penanggulangan masalah sosial adalah melalui pendidikan moral.

 

REFERANSI :

Burian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara

Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Huntington, Samuel, 1997. the Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, New York: Simon and Schuster.

Taufiq Winarno. Pengertian, Latar Belakang, Dan Sejarah Patologi Sosial. Taufikjournal’s

https://taufiqjournal.wordpress.com/artikel/sejarah-patologi-sosial/ diakses 17 okteber 2020

Our Blog

99 Rating
Tulisan yang populer
9850 like
Banyak orang yang menyukai dalam sebulan ini
459 Followers
Pengikut terakhir dalam sebulan kebelakang

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About