26 Oktober 2019

Ritual-Ritual Perayaan Hari Besar Islam di Bajo


Oleh:  Fairuz Hutami

Sebagai muslim, orang bajo juga menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadan aktifitas melaut memang masih berjalan, namun banyak orang bajo yang tinggal  di kampung untuk berpuasa. Namun demikian, dalam melaksanakan kewajiban agama itu mereka memadukannya dengan ajaran-ajaran adat dan tradisi yang mereka juga yakini. Karena orang bajo menilai bulan Ramadhan merupakan bulan yang baik dan penuh berkah, maka menjelang kedatangannya pun  disambut dengan ritual membaca do’a. dengan melakukan pembacaan do’a, mereka memohon kepada Tuhan agar pada bulan Ramadhan nanti mereka bisa mendapatkan berkah yang berlimpah. Ritual membaca doa ini dilakukan pada dua hari atau satu hari terakhir di bulan Sya’ban menurut penanggalan Hijriah. Waktu untuk membaca do’a dilakukan pada sore hari, yaitu selepas Ashar dan sebelum Magrib, atau sekitar pukul 15.30 – 17-30.

Ritual membaca do’a dilakukan di rumah seseorang yang menginginkan untuk menggelar acara ini, dengan mengundang para tetangga di kiri-kanannya, kira-kira 10-25 orang, serta mengundang imah kampoh untuk memimpin acara membaca do’a. sejak pagi biasanya si tuan rumah sudah mempersiapkan diri, seperti memasak makanan makanan yang akan disajikan pada cara tersebut. Apabila mempunyai sedikit kelebihan maka si tuan rumah akan menyembelih ayam untuk disajikan, namun bila tidak, ikan dan makanan laut lainnya selalu menjadi sajikan utama. Untuk acara ini, ayam, ikan, atau makanan laut lainnya dimasak rica-rica atau berbumbu pedas dengan kuah, dan sebagian lagi digoreng.

Sebelum acara dimulai,  makanan yang disajikan disusun sedemikian rupa di atas tikar dan karpet yang digelar diatas lantai, dengan membentuk empat persegi panjang, yang nanti akan dikelilingi para hadirin yang mengikuti ritual membaca do’a. pada bagian tepi disusun nasi di piring-piring berjumlah sekitar 20-25 buah, kemudian dalam baris kedua dalam bentuk persegi panjang itu di susun piring-piring berisi lauk, yaitu ayam, ikan, atau makanan laut yang lainnya. Di deret bagian tengah, makanan kecil, yang biasanya dihidangkan adalah pisang goreng, kue cucur, kue dadar, atau kue bolu, yang di kiri-kanannya diletakkan air minum dari gelas-gelas dan air untuk mencuci tangan dalam mangkok-mangkok kecil. Tempat duduk imam diletakkan pada bagian depan, dan nasi yang disajikan untuk imam lebih banyak dari pada nasi yang lain, membentuk seperti “bukit” kecil di piring, sementara nasi di piring-piring yang lain rata berbentuk datar. Ditempat duduk imam juga telah disediakan dupa atau padupaan, atau tempat untuk membakar dupa, sebagai salah satu kelengkapan untuk membaca do’a. Padupaan umumnya terbuat dari peralatan rumah tangga yang sudah tidak dipakai lagi, seperti panci bekas atau piring bekas yang terbuat dari logam. Bentuk susunan penyajian tersebut bisa dilihat pada gambar berikut.

Ketika acara akan dimulai, tuan rumah akan memanggil tetangga-tetangga dekat disekitar rumahnya dan menyuruh seseorang untuk memanggil imam untuk memimpin acara pembacaan do’a. Para tetangga pun berdatangan dan mereka mengambil tempat duduk masing-masing, melingkari makanan yang telah disajikan. Para hadirin umumnya laki-laki. Kalau pun ada perempuan yang ikut dalam baca do’a, biasanya dia adalah kerabat atau tetangga yang mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan tuan rumah, dan mereka pun duduk dibelakang, terpisah dengan laki-laki.

Segera setelah imam datang dan duduk di tempat yang telah disediakan, acara pun dimulai, imam pertama-tama membakar dupa di padupaan  sambil membaca do’a sendiri secara perlahan-lahan. Kemudian, ketika imam sudah membaca do’a dengan mengangkat dan membuka kedua tangannya, maka para hadirin pun ikut mengangkat dan membuka kedua tangannya, pertanda do’a dibaca secara bersama-sama yang dipimpin langsung oleh imam. Pada proses ini sesekali imam membakar dupa di padupaan. Membakar dupa dimaksudkan sebagai sarana  untuk mengantarkan do’a kehadirat Yang Maha Tinggi, bersama dengan mengepulnya asap dupa ke atas.

Menurut imam, do’a-do’a yang dibaca adalah do’a-do’a keselamatan yang umum dalam ajaran islam. Maka tidak bisa diketahui apa bacaan do’a-do’a tersebut. Yang jelas, do’a tersebut diawali dengan bacaan basmalah, kemudian memohon kepada Tuhan dangan bacaan ¬Al-lahuma,  dan diakhiri dengan bacaan Aamiin. proses pembacaan do’a hanya berlangsung singkat, sekitar 10 menit saja. Segera setelah imam mengakhiri do’anya dengan mengucapkan Aamiin dan mengusapkan kedua tangan ke- wajahnya masing-masing.



Setelah selesai, si tuan rumah kemudian mengajak sang imam bersalaman sembari meyerahkan uang ala kadarnya ke pada imam. Setelah itu, si tuan rumah mempersilahkan para hadirin untuk menyantap hidangan yang telah disajikan.para hadirin pun segera menyantap hidangan yang tersaji di hadapan mereka, dengan keyakinan bahwa makanan tersebut telah mengandung berkah karena sudah dibacai do’a oleh imam. Sementara itu, sang imam hanya menyantap makanan ala kadarnnya, dengan segera mohon diri kepada tuan rumah karena harus memimpin baca do’a di beberapa tempat lainnya.


Referensi:
Baskara, Benni. 2016. Islam Bajo; Agama Orang Laut, Banten: PT Kaurama Buana Antara.

0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About