Selamat datang di Jurnal harian Fairus

Jangan pernah katakan "tidak" pada dunia, tapi katakanlah aku bisa menggenggamnya dengan caraku sendiri.

NEVER GIVE UP

SEMANGAT :)

Find Out More Purchase Theme

Official Account

Youtube

Bantu Subcribe yaa :)

Read More

Instagram

Bantu Follow Yaa :)

Read More

Facebook

Bantu Add Friends Yaa :)

Read More

Twitter

Bantu Follow Yaa :)

Read More

LATEST POST

31 Oktober 2019

Waktu: Kawan atau Lawan?

Waktu: Kawan atau Lawan?


Imam Al Ghazali berpesan, " yang bisa mengisinya dengan hal-hal yang baik baginya waktu menjadi kawan. Begitu juga sebaliknya, yang tidak mengisinya dengan hal-hal yang baik baginya waktu menjadi lawan."

Menjadi  kawan atau  lawan itu tergantung bagaimana dan cara kita menempatkannya, sebab seseorang akan menjadi musuh alias lawan terhadap apa apa yang tidak diketahuinya. Imam Hasan al-Banna mengungkapkan, " Al wakibat aktsaru minal auqaat... Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia." Ini bisa kita maknai sebagai inspirasi untuk lebih mendisiplinkan waktu dalam praktik.  Memulainya dari diri sendiri bukan menuntut kepada orang lain.

Waktu dibutuhkan petani untuk mengukur dan mengatur waktu tanam, pemupukan, penyemprotan hama hingga pemanenan. Dibutuhkan pelajar untuk mengetahui daya serap pelajaran. Dibutuhkan pegawai untuk pengajian. Dibutuhkan ibu dalam mengetahui persalinan. Dibutuhkan pedagang untuk menghitung keuntungan dan baliknya modal untuk break ovent point. Dibutuhkan manusia untuk menentukan jeda dengan ibadah. Dibutuhkan para sopir, masinis, dan pilot untuk memperkirakan perjalanan. Semua orang membutuhkan. Orang yang sadar waktu itulah manusia yang hidup, tak peduli waktu sama saja seperti orang mati yang perlu ditakdirkan 4 kali.

Dalam menyikapi waktu kawan atau lawan ada beberapa tipe dan karakter manusia.

Lihat juga, Cinta Dunia Takut Mati

Karakter pertama,orang yang melewati kesempatan dan merugi karena ia tidak peduli atau tidak tahu adanya kesempatan itu. Waktu adalah musuh baginya karena ketidaktahuannya. Menjadi bencana. Rugi di dunia dan akhirat. Karena momentum kebaikan tak bisa dimanfaatkan dengan baik.

Karakter kedua, semoga orang-orang yang menunggu kesempatan tidak proaktif dan cenderung menguntungkan hidupnya pada tindakan orang lain, oportunis, dan cenderung munafik. Mengambil di air keruh, mencari kesempatan Dalam kesempitan. Memang ada sih orang sukses dari cara ini sebagaimana yang terjadi pada kaum munafik di Madinah, di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Saba' yang sering memicu konflik horizontal.

Karakter ketiga, orang yang menggunakan kesempatan untuk kebaikan. Baginya setiap kesempatan adalah ladang Amal, momentum prestasi, dan wahana aktualisasi diri. Dia berkawan dengan waktu agar bisa maju dan kreatif mengisi hari dengan lembaran amal unggulan.

Lihat Juga The Power of Deadline; Batas Akhir menjadi Kekuatan

Kelompok keempat, orang yang berupaya maksimal menciptakan momentum dan kesempatan dengan berkreasi, berinovasi dan pro-aktif membuka peluang peluang amal kebaikan. Memberi ruang yang luas untuk mendesain karya. Menggali gagasan cerdas, cemerlang dan brilian untuk selalu terdepan dalam perubahan. Pikiran besarnya adalah menciptakan pekerjaan bukan mencari kerja. Merintis Jalan bukan sekedar mendompleng pada kesuksesan orang lain.

Saudaraku, Mari berkawan dengan waktu seperti Al-A'msy yang usianya mendekati 70 tahun, namun belum pernah disaksikan ketinggalan takbiratul ihram dalam salat berjamaah. Bagaimana untuk bisa seperti ini, sobat? Tentu perlu direncanakan bukan?

  1. Ketenangan adalah cara menghemat energi.
  2. Perenungan adalah cara menyerap energi.
  3. Memberi adalah cara menyalurkan energi.(Anis Matta, Tarbawi edisi 154 Th.8/2007)

Ketenangan adalah syarat utama menjadi manusia produktif.




Daftar Pustaka

Solikhin Abu Izzuddin, Deadline Your Life; Ingin Mati, Agar Hidup Lebih Berarti. Yogyakarta, 2012. Pro-U Media

29 Oktober 2019

The power of Deadline

The power of Deadline


     Batas menjadi kekuatan karena kita tidak bisa menjadi yang terbaik dalam segala hal yang kita lakukan. Kita mesti menentukan bidang yang kita kuasai dengan baik sehingga bisa menjadi yang terbaik di bidang kita. Lebih baik menjadi nomor satu dalam bidang kita yang sesungguhnya daripada nomor dua dari bayang-bayang sukses orang lain.

            Cara efektif untuk segera menyelesaikan masalah adalah dengan melakukan deadline, membuat batas yang jelas. Sehingga seluruh energy akan dikerahkan menuju penyelesaian. Batas membuat cerdas. Penambahan waktu tidak mesti produktif dan berkualitas, justru menetapkan batas dan mengurangi waktu akan membuat bergegas. Orang sibuk lah yang produktif, karena terbentuk kultur berdisiplin yang kuat.

Lihat Juga Cinta Dunia Takut Mati

            Penelitiaan mengenai orang-orang dewasa mengucapkan: kecenderungan bersikap disiplin, berhati-hati dan patuh memiliki pengaruh positif sebesar 18 persen terhadap kebahagian.




Daftar Pustaka
Solikhin Zero To Hero & Kang Puji Hartono. 2010. Spiritual Problem Solving ; Jangan Kalah Oleh Masalah. Yogyakarta, Pro-U Media.

Lihat Juga Cermin Spiritual


Cinta Duniawi dan Takut Mati

Cinta Duniawi dan Takut Mati

   


   Kecintaannya terhadap kesenangan duniawi senantiasa bertambah. Kesukaannya memenuhi syahwat selalu berkobar. Pikirannya tidak jauh dari pelampiasan syahwat tadi sehingga dia merasa tentram bila sudah memperolehnya. 


     Apabila melihat orang lain memperoleh kenikmatan dunia seperti harta, kedudukan, pangkat, rumah atau pakaian bagus dia merasa tersiksa dan menganggap dirinya gagal. Lebih tersiksa lagi yang mendapatkan duniawi itu adalah saudaranya sendiri atau sahabatnya. Hingga timbul pada dirinya hasad, di mana ia tidak ingin kenikmatan itu ada pada saudaranya atau sahabatnya.


Daftar Pustaka
Solikhin Zero To Hero & Kang Puji Hartono. 2010. Spiritual Problem Solving ; Jangan Kalah Oleh Masalah. Yogyakarta, Pro-U Media.




Cermin Spiritual

Cermin Spiritual


Seorang ulama jebol sandalnya saat pergi shalat Jum’at. Mengapa jebol sandalnya? Dia sadar, ternyata karena ia belum mandi untuk shalat Jum’at.

Astagfirullah.?
Sakit perut? Cek makananmu dan cara makanmu.
Sakit kepala? Kaji ulang pikiranmu dan apa yang selalu kau pikirkan. 
Sakit hati? Cek kembali penyakit apa saja yang engkau undang untuk bersarang. 
Kedekatan spiritual seseorang kepada Allah adalah kunci dari setiap persoalan. Kualitas penghambaan menjadi deteksi dini ketika masalah terjadi.

Masalah itulah cermin spiritual kita yang sesungguhnya. Cermin agar kita ;
1.      Tahu dan lebih bisa memahami diri sendiri;
2.      Tahu dari apa kita dibuat;
3.      Tahu siapa kita sesungguhnya;
4.      Tahu mengapa kita beraksi seperti yang kita lakukan;
5.      Tahu kekuatan kita dan bagaimana meningkatkannya;
6.      Tahu kelemahan kita dan bagaimana cara mengatasinya.

Lihat Juga The Power of Deadline ; Batas Kekuatan

Hasan al-Basri, “Sesungguhnya mengherankan apa yang diperbuat anak Adam. Membasuh kotorannya sekali atau dua kali sehari, kemudian berani menantang penguasa langit.” Astagfirullaahaal’azhiim

Hudzaifah Ibnu Yaman, “Hal yang paling kutakutkan dari umat ini adalah apabila mereka lebih terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dari pada apa yang mereka ketahui dari ilmu.”


Daftar Pustaka
Solikhin Zero To Hero & Kang Puji Hartono. 2010. Spiritual Problem Solving ; Jangan Kalah Oleh Masalah. Yogyakarta, Pro-U Media.



26 Oktober 2019

Suku Bajo Sang Raja Panglima Lautan : Pembeda Antara Orang Sama Laut dan Orang Bagai Darat

Suku Bajo Sang Raja Panglima Lautan : Pembeda Antara Orang Sama Laut dan Orang Bagai Darat



Siapakah Orang Bajo?

Orang Bajo Atau Suku Bajo lazimnya dikenal sebagai orang orang laut, karena tidak seperti sebagian besar orang lainnya yang hidup di darat, mereka hidup di laut. Orang Bajo pada zaman dahulu hidup mengembara atau nomadik di lautan dengan perahu-perahu tradisional mereka yang disebut dengan leppa, namun saat ini mereka banyak bermukim di tepi-tepi pantai atau gugusan-gugusan karang. Walaupun demikian, mereka tetap membangun permukiman di atas air laut, hal itu menunjukkan kehidupan mereka masih tidak bisa dilepaskan dari laut.

Sesungguhnya, sebutan “Bajo”, “Suku Bajo”, “Orang Bajo”, pada umumnya digunakan penduduk wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut ini, yang tersebar di berbagai wilayah. Sedangkan di wilayah Indonesia Barat, kelompok ini disebut “Orang Bajo”, “Suku Laut”, Atau “Rakyat Laut”, sebutan yang biasa digunakan orang Melayu di Riau dan penduduk Pulau Sumatera pada umumnya, juga di Kepulauan Natuna, Malasia Barat, juga di Brunei Darusalam dan Filipina, mereka biasa di sebut “Orang Bajau”, “Suku Asli”, “Sama Bajau”, “Sama Di laut”, “Bajau Di laut”, “Orang Samal”, atau “Samal Bajo Laut”. Di wilayah Myanmar dan Thailand mereka disebut sebagai “Orang Mawken” atau “Choa Nam”.

Sementara itu, orang Bajo sendiri menyebut diri mereka sebagai sama atau orang sama, dan menyebut orang lain di luar mereka sebagai bagai atau orang bagai. Karena hidup mereka dilaut, maka sebutan sama atau orang sama berarti menunjuk pada orang laut dan kehidupan laut, sedangkan sebaliknya, sebutan bagai atau orang bagai  menunjukkan kepada orang darat atau orang darat. Menurut mereka, sebutan sama berarti juga orang laut, itu dimana-mana tinggalnya adalah tetap satu suku dan sama, dalam arti mereka sama-sama orang laut dimana pun mereka berada. Sebaliknya, sebutan bagai bagi orang bagi orang darat juga menunjukkan bahwa orang darat bukan satu dan tidak sama, melainkan banyak macam atau berbagai-bagai, Antara satu tempat dan tempat lainnya di darat berbeda-beda lah orangnya.

Meskipun orang laut disebut dengan nama yang berbeda-beda tergantung letak pada geografis tempat mereka bermukim, namun dari sisi kebudayaan mereka mempunyai kesamaan yang menjadi ciri khas, karakteristik yang sangat jelas adalah pola permukiman mereka yang didirikan diatas air di pesisir pantai atau gugusan-gugusan karang, dan mata pencaharian mereka sebagai nelayan tradisional. Selain itu, mereka menggunakan bahas yang sama, adat istiadat kepercayaan dan pola perilaku yang cenderung sama, yang semua itu menunjukkan suatu kesamaan budaya. Berdasarkan kebudayaan ini, maka bisa dikatakan mereka termasuk atau berasal dari satu rumpun yang sama.

Lihat juga Ritual Besar Orang Bajo Saat Ramadhan Akan Datang

Sebagai orang yang hidupnya dilaut, orang  Bajo mempunyai keyakinan asli yang berasal dan terbentuk dari lingkungan hidupnya. Mereka percaya pada penguasa laut, yang mereka sebut dengan Mbo Ma Dilao, yang diyakini sebagai inkarnasi dari arwah nenek moyang mereka yang memiliki kekuatan luar biasa sehingga mampu menguasai dan menjaga lautan. Namun demikian, disamping memiliki keyakinan asli mereka sendiri, orang Bajo juga mengaku mereka muslim. Hal ini menunjukkan Islam telah diterima orang Bajo dan menjadi bagian dari identitas keagamaan mereka.
Lihat juga, Bisa Merasa dan Bukan Merasa Bisa




DAFTAR PUSTAKA
-Baskara, Benny. Islam Bajo; Agama Orang Bajo. Banten, 2016. PT Kaurama Buana Antara

Ritual-Ritual Perayaan Hari Besar Islam di Bajo

Ritual-Ritual Perayaan Hari Besar Islam di Bajo


Oleh:  Fairuz Hutami

Sebagai muslim, orang bajo juga menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadan aktifitas melaut memang masih berjalan, namun banyak orang bajo yang tinggal  di kampung untuk berpuasa. Namun demikian, dalam melaksanakan kewajiban agama itu mereka memadukannya dengan ajaran-ajaran adat dan tradisi yang mereka juga yakini. Karena orang bajo menilai bulan Ramadhan merupakan bulan yang baik dan penuh berkah, maka menjelang kedatangannya pun  disambut dengan ritual membaca do’a. dengan melakukan pembacaan do’a, mereka memohon kepada Tuhan agar pada bulan Ramadhan nanti mereka bisa mendapatkan berkah yang berlimpah. Ritual membaca doa ini dilakukan pada dua hari atau satu hari terakhir di bulan Sya’ban menurut penanggalan Hijriah. Waktu untuk membaca do’a dilakukan pada sore hari, yaitu selepas Ashar dan sebelum Magrib, atau sekitar pukul 15.30 – 17-30.

Ritual membaca do’a dilakukan di rumah seseorang yang menginginkan untuk menggelar acara ini, dengan mengundang para tetangga di kiri-kanannya, kira-kira 10-25 orang, serta mengundang imah kampoh untuk memimpin acara membaca do’a. sejak pagi biasanya si tuan rumah sudah mempersiapkan diri, seperti memasak makanan makanan yang akan disajikan pada cara tersebut. Apabila mempunyai sedikit kelebihan maka si tuan rumah akan menyembelih ayam untuk disajikan, namun bila tidak, ikan dan makanan laut lainnya selalu menjadi sajikan utama. Untuk acara ini, ayam, ikan, atau makanan laut lainnya dimasak rica-rica atau berbumbu pedas dengan kuah, dan sebagian lagi digoreng.

Sebelum acara dimulai,  makanan yang disajikan disusun sedemikian rupa di atas tikar dan karpet yang digelar diatas lantai, dengan membentuk empat persegi panjang, yang nanti akan dikelilingi para hadirin yang mengikuti ritual membaca do’a. pada bagian tepi disusun nasi di piring-piring berjumlah sekitar 20-25 buah, kemudian dalam baris kedua dalam bentuk persegi panjang itu di susun piring-piring berisi lauk, yaitu ayam, ikan, atau makanan laut yang lainnya. Di deret bagian tengah, makanan kecil, yang biasanya dihidangkan adalah pisang goreng, kue cucur, kue dadar, atau kue bolu, yang di kiri-kanannya diletakkan air minum dari gelas-gelas dan air untuk mencuci tangan dalam mangkok-mangkok kecil. Tempat duduk imam diletakkan pada bagian depan, dan nasi yang disajikan untuk imam lebih banyak dari pada nasi yang lain, membentuk seperti “bukit” kecil di piring, sementara nasi di piring-piring yang lain rata berbentuk datar. Ditempat duduk imam juga telah disediakan dupa atau padupaan, atau tempat untuk membakar dupa, sebagai salah satu kelengkapan untuk membaca do’a. Padupaan umumnya terbuat dari peralatan rumah tangga yang sudah tidak dipakai lagi, seperti panci bekas atau piring bekas yang terbuat dari logam. Bentuk susunan penyajian tersebut bisa dilihat pada gambar berikut.

Ketika acara akan dimulai, tuan rumah akan memanggil tetangga-tetangga dekat disekitar rumahnya dan menyuruh seseorang untuk memanggil imam untuk memimpin acara pembacaan do’a. Para tetangga pun berdatangan dan mereka mengambil tempat duduk masing-masing, melingkari makanan yang telah disajikan. Para hadirin umumnya laki-laki. Kalau pun ada perempuan yang ikut dalam baca do’a, biasanya dia adalah kerabat atau tetangga yang mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan tuan rumah, dan mereka pun duduk dibelakang, terpisah dengan laki-laki.

Segera setelah imam datang dan duduk di tempat yang telah disediakan, acara pun dimulai, imam pertama-tama membakar dupa di padupaan  sambil membaca do’a sendiri secara perlahan-lahan. Kemudian, ketika imam sudah membaca do’a dengan mengangkat dan membuka kedua tangannya, maka para hadirin pun ikut mengangkat dan membuka kedua tangannya, pertanda do’a dibaca secara bersama-sama yang dipimpin langsung oleh imam. Pada proses ini sesekali imam membakar dupa di padupaan. Membakar dupa dimaksudkan sebagai sarana  untuk mengantarkan do’a kehadirat Yang Maha Tinggi, bersama dengan mengepulnya asap dupa ke atas.

Menurut imam, do’a-do’a yang dibaca adalah do’a-do’a keselamatan yang umum dalam ajaran islam. Maka tidak bisa diketahui apa bacaan do’a-do’a tersebut. Yang jelas, do’a tersebut diawali dengan bacaan basmalah, kemudian memohon kepada Tuhan dangan bacaan ¬Al-lahuma,  dan diakhiri dengan bacaan Aamiin. proses pembacaan do’a hanya berlangsung singkat, sekitar 10 menit saja. Segera setelah imam mengakhiri do’anya dengan mengucapkan Aamiin dan mengusapkan kedua tangan ke- wajahnya masing-masing.



Setelah selesai, si tuan rumah kemudian mengajak sang imam bersalaman sembari meyerahkan uang ala kadarnya ke pada imam. Setelah itu, si tuan rumah mempersilahkan para hadirin untuk menyantap hidangan yang telah disajikan.para hadirin pun segera menyantap hidangan yang tersaji di hadapan mereka, dengan keyakinan bahwa makanan tersebut telah mengandung berkah karena sudah dibacai do’a oleh imam. Sementara itu, sang imam hanya menyantap makanan ala kadarnnya, dengan segera mohon diri kepada tuan rumah karena harus memimpin baca do’a di beberapa tempat lainnya.


Referensi:
Baskara, Benni. 2016. Islam Bajo; Agama Orang Laut, Banten: PT Kaurama Buana Antara.

Ahmad Hassan Sebagai Penjaga Aqidah Umat

Ahmad Hassan Sebagai Penjaga Aqidah Umat


AHMAD HASSAN ;
PENJAGA AKIDAH UMAT
Seorang pejuang yang langka. Lewat lisan dan penanya, Ahmad Hassan membela agama allah dan berjuang untuk menghindarkan umat dari kesesatan”
oleh : Fairus Utami

  • Biografi dan Perjalanan Hidup Ahmad Hassan

AHMAD Hassan (lahir di Singapura, tahun 1887). Ia terlahir hasil dari pernikahan Ahmad dan Muznah. Mereka menikah di Surabaya, ketika Ahmad sedang melakukan perjalanan perdagangannya di kota dagang itu. Usai menikah,  Ahmad memboyong Muznah ke Singapura. Meski lahir di Surabaya, Muznah berasal dari Palekat, Madras.
Selain berdagang, Ahmad adalah seorang wartawan. Ia adalah pemimpin Koran Nurul Islam yang terbit di Singapura. Ahmad ahli dalam bahasa dan agama, dan ia tak jarang terlibat perdebatan mengenai dua soal itu. Di dalam surat kabarnya Ahmad mengasuh rubrik Tanya jawab.
Ibarat pepatah, “buah tak akan jauh dari pohonnya.” Begitu pula dengan Hassan, rupanya, juga mewarisi tradisi intelektual ayahnya. Sejak usia 7 tahun, Hassan sudah belajar Al-Qur’an dan ilmu lainya. Lalu, ia masuk sekolah Melayu, dan belajar Bahasa Melayu, Arab, Inggris dan Tamil. Dengan ilmu itu;ah Hassan secara otodidak memperdalam agama, seperti Fara’id, Fiqh, Mantiq, Tafsir, dan lain-lainnya.
Secara formal, Hassan tak pernah menamatkan pelajarannya di sekolah dasar yang ditempuhnya, di usia 12 tahun, Hassan sudah ikut berdagang, menjaga toko milik iparnya, Sulaiman. Sambil berdagang, Hassan memperdalam ilmu agamanya pada Haji Ahmad di Bukkittiung dan Muhammad Thaib di Minto Road untuk belajar ilmu Nahwu dan Sharaf.
Ketika usia masih remaja, Hassan sudah mencari nafkah, dari pelayan toko sampai membuka vulkanisir ban. Setelah ilmunya dirasa cukup, pada tahun 1910, Hassan mengajar di Madrasah, dari tingkat Ibtidaiyah sampai Tsanawiyah.
Pada tahun 1912, Hassan bekerja di Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapura Press. Hassan menulis artikel yang berisikan nasihat-nasihat, mengajak pada kebaikan, dan menjauhi kemungkaran. Tidak jarang, Hassan menulis dalam bentuk puisi yang cukup gelitik dan menyentuh hati.
Dalam perkembangannya, tulisan Hassan mulai menemukan bentuknya. Yakni, punya sikap yang tegas terhadap persoalan yang menurut dia, masuk ke wilayah prinsip. Hassan, misalnya, mengancam keras kepada Qoldi (hakim) yang memeriksa perkara dan mengumpulkan Antara pria dan wanita ditempat duduk yang sama. Di surat kabar ini, Hassan bekerja sampai tahun 1916.
            Suratan takdir Hassan rupanya tidak hanya mukim di Singapura. Pada tahun 1921, Hassan berangkat ke Surabaya, mengelola toko milik pamannya sekaligus gurunya, Abdul Lathif. Sebelum berangkat, Abdul Lathif berpesan pada sang keponakannya, jangan bergaul dengan Faqih Hasyim yang dianggap sesat karena paham Wahabi.
Rupanya, di Surabaya, waktu itu, sedang terjadi konflik Antara kaum tua dangan kaum muda yang di pelopori oleh Faqih Hasyim, seorang pedagang sekaligus pendakwah. Faqih Hasyim, yang berasal dari padang itu, menggunakan rujukan dari buku yang dikarang oleh Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Zainuddin Labay, ketiganya asal dari Sumatra, dan Ahmad Soorkati, ulama asal Sudan yang mukim di Jakarta (Dulu masih bernama Batavia).
      Hassan datang ke Surabaya, awalnya, semata-mata hanya sebagai pedagang. Ia tinggal dirumah pamannya yang lain, Abdullah Hakim. Suatu ketika, sang paman meminta agar Hassan menemui K.H.A. Wahab Hasbullah. Belakangan, kiai Wahab menjadi terkenal karena ia adalah salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
            Dalam pertemuan ini,  Kiai Wahab bertanya pada Hassan, hukum membaca ushalli.
“Pak kiai, ushalli itu hukumnya sunnat” jawab Hassan.
“Dasarnya apa?” pak kiai kembali bertanya.
“Kalau itu, bisa dicari di kitab mana pun” jawab Hassan. Dalam benaknya, Hassan bertanya-tanya,  masalah yang ringan seperti ini kok ditanyakan?
            Rupanya, kiai Wahab sedang menjajagi Hassan. Pak kiai juga menyampaikan pada Hassan, bahwa di Surabaya sedang terjadi “perang dingin” Antara kaum tua dan kaum muda. Kiai Wahab lalu meminta Hassan untuk mencari dalil-dalilnya di dalam AL-Qur’an dan Hadits. Hassan meminta waktu sehari. Ia semalaman mencari dalilnya ushalli di kitab sahih Bukhari dan Muslim, juga ayat-ayat Al-Qur’an. Ternyata, masalah ushalli tidak ditemukannya. Hassan akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa pandangan kaum muda berada di jalur yang benar. Maka, ia pun bersahabat dengan Faqih Hasyim yang mewakili kaum muda.

Lihat Juga Introspeksi diri, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

            Perkembangan alam pikiran dan sikap seseorang tak bisa lepas dari pengaruh keluarga, pergaulan, dan bacaannya, begitu pula Hassan. Tak kala masih di Singapura, di usia yang masih belia, ia sering melihat ayahnya, seusai mengubur jenazah, langsung pulang. Tak ada acara talqin, tahlil, dan sebagainya. Begitu pula ketika mau melaksanakan shalat, tak usah ushalli. Selain dari ayahnya, Hassan juga dipengaruhi oleh tiga ulama asal India. Mereka adalah Thalib Rajab Ali Abdurrahman, dan Jaelani. Tiga orang ini bersama ayahnya dikenal faham Wahabi, sebuah istilah yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1791 M).  Abdul Wahbi sendiri dikenal sebagai  ulama yang mengadakan permunian ajaran Islam, khususnya di bidang aqidah. Berawal dari daerah Nejed, dan akhirnya mendapat dukungan dari Ibnu Su’ud, cikal bakal penguasa kerajaan Arab Saudi sekarang.
Di awal aktivitasnya, gerakan Wahabi tak jarang menggunakan aksi-aksi kekerasan, dalam bentuk merobohkan bangunan-bangunan yang berpotensi dipakai untuk aktivitas yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Karena itu, gerakan ini tak segan-segan untuk menghancurkan kuburan para sahabat Nabi saw. Karena di nilai telah digunakan sebagai tempat pemujaan baru selain Allah. Hassan terpengaruh terhadap sikap dan semangat membersihkan noda syirik dari kalangan Wahabi ini. Adapun caranya, Hassan lebih suka melakukan dengan cara berdebat secara langsung, atau menulis dalam bentul artikel atau buku.
            Karena tertarik pada ilmu menenun, pada tahun 1924 Hassan pergi ke Bandung. Tujuannya hanya satu, memperdalam ilmu pertenunan selam 9 bulan. Ia tinggal bersama keluarga Muhammad Yunus, seorang pendiri Persis. Usai sekolah tenun, Hassan sempat dipercaya mengelola pabrik tenun selama setahun. Tapi, karena kesulitan bahan baku pabrik tersebut akhirnya di tutup pada tahun 1926. Selama di Bandung inilah Hassan sering ikut aktivitas di Persis, dan secara resmi menjadi anggota, tahun 1926.
            Hassan masuk Persis tak kala ormas Islam ini berusia tiga tahun. Dan rupanya, ia secara popular di kalangan kaum muda yang progresif tahun-tahun berikutnya, Hassan identic dengan Persis, begitu pula Persis, identik dengan Hassan.

  • TENTANG DEMOKRASI

Suatu hari, sesuai memberikan ceramahnya, Hassan ditanya oleh seseorang, “tuan tadi mengatakan bahwa pemerintah Islam itu berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan musyawarah. Sedangkan pemerintah demokrasi tulen, hanya dengan rembukan rakyat. Diantara kedua ini, manakah yang lebih baik?”
            “Pemerintahan cara demokrasi atau kedaulatan rakyat, semata-mata kemauan rakyat. Kalau rakyat mau halalkan zina, mengizinkan produksi minuman beralkohol, dan seterusnya, niscaya boleh. Sedangkan menurut Islam, yang haram tetaplah haram; yang makruh tetaplah makruh, dan yang sunnah tetaplah sunnah. Kedaulatan rakyat berlaku di urusan-urusan luar dari yang tersebut.
            “Dalam pemerintahan dengan cara Islam, maksiat tak bisa jadi perkara biasa. Dalam system pemerintah demokrasi tulen, yang haram bisa jadi hala, yang wajib bisa jadi haram, asal di kehendaki oleh rakyat. Dari sini, tuan bisa tahu mana yang lebih baik.”

  • ULAMA KODOK

Ada yang menarik ketika Hassan menganalogikan sesuatu. Suatu saat, ia ditanya oleh seseorang, “Menurut hukum Islam, apa saja yang tidak boleh dimakan?”
            “Yang diharamkan oleh agama adalah bangkai, darh, daging babi, dan segala sesuatu yang diperuntukkan selain Allah. Hanya itu yang haram dimakan, lainnya tidak,” jawab Hassan.
            “Kalau kodok bagaimana, halal atau tidak?”
            “Tentu saja halal,” jawab Hassan.
            “Apa tidak jijik makan daging kodok?”
            “Soal jijik itu urusan tuan. Hanya sekedar jijik tidak akan mengubah hukum yang ada di dalam Al-Qur’an.”
            “Kalau begitu, Tuan Hassan ini pantas dijuluki sebagai ulama kodok,” si penanya memberi komentar.
            Hassan tak kalah cerdiknya. Ia balik bertanya pada si penanya, “Kalau kerbau, bagaimana pendapat Tuan?”
            “Tentu, boleh di makan,” jawab si penanya.
“Kalau begitu, Tuan lebih cocok dinamakan ulama kerbau”.
            Itulah gaya Hassan, dalam berdebat maupun dialog dengan seseoang. Tangkis dan cerdas, terkadang juga jenaka.


Lihat juga K.H. Ahmad Dahlan Pembaharu Dari Kauman.

  • DARI SEKULARISME SAMPAI TAKLID
            Dalam pandangan Hassan, ide sekularisme sangat berbahaya, terutama dalam hubungannya Islam dan paham kebangsaan atau nasionalisme. Padahal kebangsaan awalnya muncul dan berkembang di Eropa, lalu pada abad XX masuk ke Indonesia, dibawa oleh Dr. Soetomo dan Ir. Soekarno. Paham kebangsaan ini mengusung ideology “asli” Indonesia Yang, dalam implementasinya, menjauhkan dari hal-hal yang berbau asing, termasuk unsur-unsur agama yang sudah beradab-adab dijalani umat Islam.
            Hassan tampil menolak paham kebangsaan yang diusung oleh kedua pelopor pergerakan Indonesia itu. Menurut Hassan, paham kebangsaan menurut Soekarno dan Soetomo itu sama dengan ashabiyah, fanatisme kesukuan yang, oleh Islam, sangat ditantang. Dalam mengemukakan pandangan-pandangannya, Hassan tak pandang bulu. Siapa saja, yang menurutnya tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan Hadits, akan menjadi sasaran kritiknya, dengan tajam dan dalam. Maka, debat terbuka pun jarang di gelar, dan masyarakat terbuka dibiarkan memberi penilaian, mana pendapat yang lebih kuat dan perlu diikuti dan tidak.
            Dalam sejarahnya, Hassan pernah mengkritik Hasbi ash-Shiddieqy Karena soal jabat tangan Antara pria dan wanita yang buka mahramnya; dengan Hamka tentang kebangsaan; dan dengan Wahab Hasbullah berkaitan dengan Taklid. Mazhab, menurut Hassan, sama dengan Taklid, dan karena itu haram hukumnya menurut agama. Dalam sejarah hidupnya, Hassan tidak hanya berdebat dalam arti meluruskan pandangan yang di anggap keliru, dengan sesama ulama saja, baik dari kalangan modernis maupun tradisionalis. Tapi, Hassan juga berdebat dengan para pendeta, tokoh-tokoh Ahmadiyah,dan mereka yang ateis.

  • Tahun-tahun Mendekati Wafatnnya

            Sepanjang hidup, Hassan mempunyai seorang istri, Maryam, yang dinikahinya di Singapura pada tahun 1911. Maryam adalah peranakan Tamil-Melayu, dari keluarga yang taat berpegang pada agama. Dari pernikahan ini, pasangan Hassan-Maryan punya 7 anak, satu diantaranya, Abdul Qadir Hassan, yang juga penerus ayahnya. Pada tahun 1940, Hassan pindah ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren  Persis. Pada 10 November 1958, Hassan menghadap pada-Nya.
            Ahmad Sookarti, ulama asal Sudan yang juga pendiri jamiyah Al-Irsyad itu, memberi komentar tentang Ahmad Hassan, ”Sebagai seorang yang terpelajar, mempunyai tingkat tauhid yang tinggi, dan seorang pembela agama Allah yang selalu berjuang menghindarkan umat Islam dari kesesatan.”
            Sebagai manusia, Hassan punya batas usia. Ia telah tiada. Tapi semangat pemurnian Islam yang dikumandangkannya, dan ilmu yang diwariskannya, tak pernah pudar. Selain buku Soal-Jawab dan at-Tauhid yang sangat terkenal itu, Hassan juga menulis tentang Pemerintahan Cara Islam, ABC Politik, Islam dan Kebangsaan, dan Merebut Kekuasaan. Buku Soal-Jawab, misalnya, merupakan rujukan bagi persoalan hidup sehari-hari, dari masalah fiqih, akhlak, sampai Akidah.
            Selama ini, ada kesan, bahwa Hassan berperangai keras dan kritisannya tajam menghujam, seakan tidak melihat kondisi psikologis orang yang di kritiknya. Tapi, pesan itu akan sirna ketika mereka melihat Hassan dalam pergaulan hidup sehari-hari yang ternyata sangat lembut, baik ucapan maupun  gerak.

DAFTAR PUSTAKA

-Muhammad, Herry, DKK. 2006. Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh Pada Abad Ke-20. Depok. Gema Insani
           


K.H. AHMAD DAHLAN SEBAGAI PEMBAHARU DARI KAUMAN

K.H. AHMAD DAHLAN SEBAGAI PEMBAHARU DARI KAUMAN


"Berbagai ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaharu dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara."


            KIAI Haji Ahmad Dahlan (Lahir di Kauman, Yogyakarta, tahun 1868), adalah putra dari K.H. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman, seorang khatib tetap di Masjid Agung Yogyakarta. Ketika lahir, Abu Bakar memberi si anaknya Muhammad Darwis.

Di usia belita, oleh kedua orang tuanya, Darwis sudah diperkenalkan dengan pendidikan agama. Yang pertama menggemblengnya pertama kali adalah ayahnya sendiri, lalu para kiai di sekitar Yogyakarta. Sebagaimana umumnya anak kiai, Darwis belajar Ilmu Agama dan Bahasa Arab. Dengan bekal Bahasa Arab da ilmu-ilmu agama yang diperolehnya di Yogyakarta itu, pada tahun 1888, Darwis menunaikan ibadah haji, sekaligus bermukim di Mekkah guna menuntut ilmu selama 4 tahun.

Di tanah air, Dahlan hanya setahun. Soalnya, pada tahun 1903 ia kembali ke Mekkah untuk masa 3 tahun, khusus mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama yang sudah ia dapatkan sebelumnya. Ia juga tercatat sebagai murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Pada periode kedua kehadiran di Mekkah ini, Ahmad Dahlan juga mempelajari pembaharuan Islam yang gencer-gencernya dilakukan oleh tokoh-tokoh pembaru seperti Jamaluddin Al-Afghani, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan juga Muhammad Rasyid Ridha yang dikenal dengan tafsir Al-Manarnya itu.

Dari tafsir al-Manar pula, gagasan-gagasan pembaru memunculkan inisiatif untuk ditumbuhkembangkan di bumi Indonesia. Pada tahun 1906 Ahmad Dahlan kembali ke Yogyakarta, dan ia menjadi guru agama di kampungnya, Kauman. Selain itu, ia juga mengajar di kweek School (Sekolah Raja) di Yogyakarta dan Opeleiding Schol voor Inlandsche Ambtenaren, sebuah sekolah untuk pegawai pribumi di Magelang.

Oleh pihak Keraton Yogyakarta, sebagai anak dari K.H.  Abu Bakar yang menjadi khatib tetap di Masjid Agung Yogyakarta, Ahmad Dahlan Juga mendapat jatah yang sama.  Ia di percaya sebagai khatib tetap di Masjid Agung. Pamornya segera terlihat karena kepiawaiannya berdakwah, berwawasan luas, dan jujur. Itu sebabnya pihak Keraton Yogyakarta memberinya gelar Khatib Amin yang punya arti sebagai yang dipercaya.

Meskipun menjadi khatib di lingkungan Masjid Kerotan, bukan berarti jiwa pembaharuannya berhenti. Ia terus-menerus memikirkan lingkungan yang dinilai masih perlu banyak diperbaiki sana-sini. Salah satunya adalah arah kiblat di masjid-masjid Yogyakarta termasuk Masjid Kerotan yang dinilainya tidak tepat, dan arena itu perlu diubah arahnya. Tapi, karena Masjid Kareton adalah yang menjadi barometer, maka arah kiblat di masjid ini yang pertama mesti dilakukan perubahan arah kiblatnya.

Tapi, Ahmad Dahlan tak mau mengubah secara mendadak. Sebagaimana pembaharu, ia lebih menekankan dialog untuk meyakinkan sasaran dakwahnya. Ia tau betul bahwa dengan cara dialog masing-masing pihak akan mendapatkan informasi dan pengatahuan baru. Dialog, dalam pandangan Ahmad Dahlan, adalah alat atau sarana untuk mencapai kebenaran.

Itulah yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan, maka pada 1898, ia mengundang para ulama dari Yogyakarta dan sekitarnya untuk mendiskusikan masalah arah kiblat shalat. Terjadi diskusi yang cukup seru, muncul pro dan kontra. Ada yang setuju, tak sedikit yang ragu. Tapi, diskusi tentang arah kiblat itu cukup menguat ke arah ide Ahmad. Meski akhir dari dialog tersebut tidak membuah kesepakatan apa-apa, tapi atmosfirnya cukup bagus, dinamis dan ada pencerahan.

Baca Juga Ahmad Hassan Menjaga Akidah Umat

Karena tak ada kata putus itulah yang akhirnya Ahmad Dahlan membawa masalah arah kiblat tersebut ke Kepala Penghulu Kerotan yang waktu itu di jabat oleh K.H. Muhammad Chalil Kamaludiningrat. Tapi pak Penghulu tidak juga memberi restu. Sementara dari hari ke hari,sesuai dengan ilmu yang diyakini kebenarannya bahwa arah kiblat salah, Ahmad Dahlan semakin gelisah. Ia merasa, sebagai orang yang tahu, mestinya arah kiblat dibetulkan. Ia akhirnya sampai pada ijtihad bahwa arah kiblat yang salah harus dibetulkan dengan cara mengubahnya, tidak batas wacana.

Itulah yang mendorong Ahmad Dahlan, suatu malam, secara diam-diam, bersama dengan beberapa pengikutnya, meluruskan kiblat dengan memberi garis putih di shaff masjid tersebut. Tentu saja tindakan ini, menurut aturan Kerotan, merupakan pelanggaran besar yang tak termaafkan. Ganjarannya pun jelas: Ahmad Dahlan diberhentikan sebagai khatib di Masjid Agung Yogyakarta.

Diberhentikan sebagai khatib di Masjid Agung tak membuat dakwahnya berhenti. Bahkan, ia semakin meluaskan wilayah dakwahnya, menyentuh ke semua komunitas, baik dari kalangan terdidik dan priyayi maupun awan. Dengan pendekatan kemoderenan ia mulai mengajar tanpa ada hijab atau Antara pemisah Antara pria dan wanita.

Ahmad Dahlan juga mulai memberi pengajian di kalangan ibu-ibu, dan membolehkan perempuan keluar rumah diluar urusan majelis taklim. Untuk ukuran di zamannya, langkah-langkah yang ditempuh Ahmad Dahlan cukup maju. Ia pun dianggap nyleneh, kritik, kecaman dan juga ancaman bermunculan. Ahmad Dahlan, oleh para pengkritiknya, sudah dianggap keluar dari batas dakwah yang berlaku saat itu. Tapi, tekat telah bulat, dan perjuangan mesti istiqomah. Ia mensikapi semua hambatan dan rintangan itu dengan penuh kesabaran.

Guna memperluas jangkauan dakwahnya itulah Ahmad Dahlan bergabung dengan organisasi yang ada. Ini terlihat misalnya, ketika pada tahun  1909, Ahmad Dahlan menjadi anggota Budi Utomo, sebuah organisasi modern yang ada waktu itu. Di kalangan Budi Utomo ini, banyak kalangan terpelajar dan priyayi bergabung. Ahmad Dahlan punya misi untuk berdakwah di kalangan mereka itu. Ternyata, para aktivis Budi Utomo banyak yang menghargai dan memberi apresiasi terhadap langkah-langkah dakwahnya.

Lihat juga Cermin Spiritual Kehidupan

Bahkan, atas dorongan pengurus Budi Utomo sendiri Ahmad Dahlan akhirnya berhasil mendirikan sekolah di Yogyakarta, tahun 1911. Sistem yang didirikannya itu menggunakan system modern, dengan memadukan pelajaran agama dan umum dalam satu paket. Tempat belajarnya menggunakan kelas, tidak surau, dan murid pria dan wanita tidak di pisah.

Sebagai pembaharu, Ahmad Dahlan tidak mau ketinggalan informasi, terutama dengan para pembaharu yang ada di Timur Tengah. Adapun akses informasi tersebut, secara intensif dilakukan oleh Jami’at Khair. Karena itu pula, Ahmad Dahlan memasuki organisasi ini, tahun 1910. Ketika Serikat Islam berdiri, Ahmad Dahlan pun ikut serta menjadi anggota.

Rupanya , dengan masuk ke Budi Utomo, Jami’at Khair, dan Sarekat Islam, dakwah yang dilakukan Ahmad Dahlan meluas, dan mendapat dari dukungan dari banyak pihak. Ide-ide pembaharuannya juga di dukung oleh kalangan modernis dan perkotaan. Maka, setelah mendapat masukan dan dukungan dari berbagai pihak, pada 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Adapun misi dakwah yang pertama dari Muhammadiyah adalah kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Ia melihat, bahwa umat Islam sudah jauh melenceng dari apa yang digariskan oleh Nabi Muhammad saw. Pada saat bersamaan, system pendidikan yang membuat mereka kembali ke jalan yang benar, masih minim jumlahnya. Karena itu, tugas Muhammadiyah, ia berdakwah dengan karya nyata.

Sebagai organisasi masyarakat yang berbasis agama, apalagi ajarannya untuk kembali pada sumber aslinya, Al-Qur’an dan Al-Hadits, ditengah-tengah masyarakat yang berpesta dengan tahayyul, bid’ah, dan khurafat, bukan kecil hambatan, rintanganya, yang mesti di hadapinya. Cobaan demi cobaan silih berganti, Tidak hanya dari lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan sosialnya.

Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup oleh pelakunya, kecuali di praktik kan. Betapa pun bagusnya suatu program, menurut Dahlan, jika tidak di praktik kan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama. Karena itu, Ahmad Dahlan  tak terlalu banyak mengelaborasikan ayat-ayat Al-Qur’an, tapi ai lebih banyak mempraktikkannya dalam amal nyata.

Praktik amal yang fenomenal ketika menerapkan apa yang tersebut dalam surah Al-Ma'un ini adalah terealisirnya rumah-rumah yang menampung anak-anak yatim dan orang-orang miskin, terjadi di zaman penjajahan. Akibat kolonialisme menjerat ekonomi rakyat, kemiskinan merajalela. Ketika zaman jepang, tahun 1942-1945, kondisi rakyat Indonesia semakin parah. Ini antara lain nampak dengan adanya institusi romusja, yang merupakan lembaga pekerja paksa untuk usaha perang Jepang di Indonesia. Akibat romusja ini, dimana banyak yang meninggal dunia, anak-anak menjadi yatim, jumlah janda terus bertambah, kemiskinan semakin melilit. Inilah yang mendorong Muhammadiyah akhirnya mendirikan Penolong Kesensaraan Oemoem di Panarukan, Jawa Timur.

Ketika menerapkan Al-Qur’an surah 26 ayat 80, yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan sakit seseorang, Muhammadiyah mendirikan balai kesehatan masyarakat atau rumah sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberikan perawatan pada masyarakat rakyat umum, bahkan yang miskin di gratis kan, juga untuk memberi penyuluhan, betapa pentingnya arti sehat. Berbagai  bentuk penyuluhan diselenggarakan, agar, masyarakat bisa hidup sehat, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Bila umat sehat, mereka akan menjadi produktif yang mamfaatnya untuk keluarga, umat dan Negara.

Al-Qur’an surah 96 ayat 1 yang menekankan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Dengan pendidikan, buta huruf diberantas. Bila umat tak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah informasi lewat tulisan tentang agama. Dari lembaga-lembaga ini muncul pula bahan bacaan dalam bentuk buku-buku, Koran, dan sejenisnya.inilah yang terjadi pada tahun 1920-1930-an. Dengan melek huruf, mereka bisa membaca, mereka bisa melihat dunia. Membaca, kata pepatah, adalah membuka jendela dunia.

Amal nyata Muhammadiyah yang di komandoi oleh Ahmad Dahlan, tak lepas dari tiga unsur diatas : rumah yatim Dan fakir miskin, rumah sakit, dan lembaga pendidikan. Dan itu terus dilakukan oleh generasi Muhammadiyah, sampai kini.

Usaha keras yang di rintis oleh Ahmad Dahlan akhirnya berbuah juga. Muhammadiyah menjadi pelopor organisasi sosial kemasyarakatan yang berbasis agama, mempunyai corak pembaharuan yang dinamis. Karena itu, persyarikatan Muhammadiyah itu, awalnya lebih diminati oleh orang-orang perkotaan dan yang berpendidikan.

Tapi, seiring dengan meluasnya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah, sampai pelosok-pelosok, Ormas Islam yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu kini tidak hanya dikenal sebagai organisasi perkotaan saja.  Dikhotomi kota dan desakan lagi relavan bagi Muhammadiyah, kini. Sebelas tahun setelah Muhammadiyah berdiri, tepat pada 23 Februari 1923, Ahmad Dahlan meninggal dunia di Kauman di Yogyakarta tempat dimana pernah dilahirkan pada tahun 1868.

Kehadiran Ahmad Dahlan di pentas dakwah Indonesia memberi warisan tidak hanya bangunan-bangunan fisik seperti panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah, tapi juga adanya sebuah sikap dialog untuk memperkecil perdebatan. Sikap dialog ini akhirnya menimbulkan sikap ramah sekaligus peka pada lingkungan sosialnya.

 Dalam sejarah hidupnya kita bisa mengetahui bahwa Ahmad Dahlan sangat terbuka untuk menerima masukan, bahkan kritik. Amal-amal nyatanya adalah hasil dari sebuah dialog-dialog yang ia lakukan dengan berbagai kalangan, tidak hanya kalangan internal Muhammadiyah atau umat Islam pada umumnya. Tapi juga dengan kalangan non Muslim. Tentu saja, dengan melakukan dialog-dialog seperti itu kesempatannya melakukan dakwah, terbuka.

Dengan keterbukaan yang diaplikasikannya melalui dialog, kita bisa menyaksikan bahwa Persyarikatan Muhammadiyah di periode awal dikenal sebagai gerakan pembaharu yang terus menerus berinovasi. Kreatifitas dan amal nyata adalah buah dari dialog tersebut. Dan ini akan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik secara individu maupun institusi.




DAFTAR PUSTAKA

-Muhammad, Herry, DKK. 2006. Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh Pada Abad Ke-20. Depok. Gema Insani

FALSAFAH HIDUP ; Ngaji Diri Sebelum Mati

FALSAFAH HIDUP ; Ngaji Diri Sebelum Mati




"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Kadangkala, ada di antara kita yang bertambah usia bertambah pula kerinduan kepada amal ibadah sebagai bekal akhirat. Tapi, tak sedikit diantara kita yang diberi usia panjang, kosong atau sedikit sekali dalam beramal dan beribadah.

Sejatinya kita malu jika sejauh perjalanan usia kita hingga saat ini kita masih disibukkan dengan dunia. Seharusnya kita malu pada Allah dengan segala limpahan nikmat dari-Nya.

Mengapa seringkali kita lebih bahagia menghabiskan waktu-waktu malam hanya untuk menanti dan menyaksikan hal yang sia-sia? Tapi sudah berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan di waktu-waktu sepertiga malam?

Seharusnya sebagai Muslim, kita harus ‘Ngaji Diri’ agar kita selalu melihat sudah seberapa besar kontribusi kita kepada Islam dan kaum Muslimin. Atau sebaliknya, selama sayap usia kita terkembang, kita malah terlena dengan nikmat usia itu. Kita masih tak sadar betapa setiap desah nafas kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kuatkan zikir kita, kuatkan fikir kita, kuatkan hati kita, kuatkan ilmu kita, benahi akhlak kita. Kitalah yang perlu Allah. Kita yang lemah inilah semestinya yang menangis, merengek kepada Allah dalam setiap keadaan.

Kita ini hanya kumpulan makhluk teramat lemah. Jangan pernah kita merasa aman dari ancaman Allah. Jangan pernah kita merasa sudah jadi orang baik (takwa) sementara di mata Allah kita banyak aib. Jangan pernah merasa bangga dengan apa pun yang Allah titipkan pada kita sebab semuanya pasti akan Allah ambil jika saatnya tiba.

Bangkitlah untuk berbenah, mumpung Allah masih beri kita kekuatan. Kuatkan azzam (tekad) untuk meraih ridha Allah dengan mujahadah dan istiqomah di jalanNya.

Ingat, tanpa Allah, kita hanyalah debu yang pasti akan terombang ambing diterpa peradaban masa. Ingat, tanpa Allah, kita ibarat ‘mayat’ hidup yang tak akan pernah berarti apa-apa, apalagi memberi arti kepada yang lain. Ingat, tanpa Allah, kita hanyalah makhluk yang hina dina
Saudaraku,

Mari kita Ngaji Diri sebelum masa itu terlambat. Masa di mana dada kita menjadi sesak, nafas kita tersengal, badan mulai dingin dan kaku. Jika masa menakutkan itu tiba, apa yang bisa kita lakukan?
Masihkah kita mampu menyogok Malaikat Maut dengan harta melimpah kita agar nyawa diundur masa mencabutnya walau satu detik? Atau bisakah kita minta bantuan anak-anak dan isteri agar membantu menahan datangnya maut itu?

Tidak, maut itu datang tanpa diundang. Maut itu datang tanpa salam. Saat maut itu datang, tak satupun dari makhluk di muka bumi ini mampu menahannya. Takutlah kita, takutlah pada suatu hari dimana segala yang kita miliki tak lagi bermakna. Jika masa itu tiba, maka semua tinggal kenangan.

Sadarilah, setiap kita adalah petarung dalam mengarungi kehidupan fana ini. Karena kita petarung, maka diantara kita pun bersaing. Kita berkompetisi walau itu antara ayah dan anak, anak dan ibu, atau bahkan antara suami dan isteri pun bersaing.

Tahukah apa yang kita perebutkan satu sama lain dalam hidup ini? Disadari atau tidak, sesungguhnya kita sedang memperebutkan kematian. Ya, kematian. Lihat, betapun kita melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tetap saja pada akhirnya kematianlah yang akan kita temui.

Pertanyaannya? Saat kereta kematian itu datang menjemput, maka dengan cara apa kita menghadapinya? Lalu, mau mati dalam keadaan apakah kita sahabat?
Karena hidup ini pilihan, maka pilihlah akhir kematian kita sebagai Husnul Khatimah (akhir kematian yang baik), dan jangan pilih kematian kita dalam keadaan Su’ul Khatimah (akhir kematian yang buruk), nauzubillah.

Disinilah, di dunia ini, Allah telah menjadikan lahan agar kita mampu memilih cara kita kembali kepadaNya. Di dunia ini pula Allah beri kita kebebasan untuk memilih dengan cara apa kita hidup dan mati kelak. Jika kita memilih hidup dengan mentaatiNya, maka kebahagiaanlah yang kelak akan kita petik. Begitu juga sebaliknya.  Jika kita ingin mati dalam keadaan husnul khatimah, maka tarbiyah ruhiyah kita dengan taqarrub ilallah.

Rubah mindset berfikir kita bahwa Allah adalah penentu yang mengikuti sesuai apa yang kita pikirkan. Rubah cara merasa kita tentang apa pun yang Allah takdirkan. Berbaiksangkalah kepada Allah sebab Allah Maha Lembut kepada setiap hamba-Nya. Jadilah kita orang yang “Bisa Merasa dan bukan Merasa Bisa”.

Yang perlu jadi catatan bagi seorang Muslim, siapa dan apa pun profesinya di dunia ini, maka perjuangan terberat adalah bagaimana ia bisa mati dalam keadaan Husnul Khatimah,


 wallahua’lam.



Sumber;
- Bahron Ansori, wartawan MINA. https://minanews.net/ngaji-diri/


15 Oktober 2019

VIRUS MERAH JAMBU Dalam Perspektif Agama dan Sosial

VIRUS MERAH JAMBU Dalam Perspektif Agama dan Sosial

Resume Kajian Rutin Khalaqah Remaja Masjid As-Sakinah.
Pemateri : Fairuz Utami & Diah Anisa Fitri
Tempat : Madrasah As-Sakinah
Tema : VMJ Dalam Perspektif Agama dan Sosial.


Apa itu VMJ?
    VMJ adalah kepanjangan dari "Virus Merah Jambu" yang merupakan sebuah istilah halus pengganti istilah VIRUS CINTA.
Si merah jambu diidentifikasikan dengan hati yang sedang jatuh cinta lagi berbunga-bunga. VMJ menggambarkan kondisi dimana ada seseorang yang spesial telah mengisi ruang hatinya. Tapi, orang tersebut belum berstatus halal baginya.

KECINTAAN KEPADA LAWAN JENIS ITU MERUPAKAN FITRAH YANG ADA PADA SETIAP MANUSIA

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik". (QS. Ali-Imran : 14)

PERINTAH MENUNJUKKAN PANDANGAN

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ 

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya."(Qs. An-Nur : 30-31)

ALLAH MENGHARAMKAN ZINA

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
(QS. Al Isra: 32)

LARANGAN MEMANDANG TERUS-TERUSAN

يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

"Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan pandangan pertama dengan pandangan yg lain (berikutnya), sesungguhnya pandangan yang pertama (diampuni) bagimu dan tidak (diampuni) dan bukan yang setelahnya". [HR. Abu Daud No.1837].

SETAN ADA DI ANTARA KALIAN

Rasulullah bersabda;
"Janganlah sekali - kali salah seorang diantara kalian (kaum pria) berduaan dengan kaum wanita, karena sesungguhnya setan ada di antara ketiganya".
(HR. At-Tirmidzi , 2165 dan Ahmad  114.)

MEREKA YANG TERINFEKSI VMJ

- Selalu mencari perhatian dari sang pujaan hati.
- Lebih bersemangat dalam hidupnya.
- Mendadak jadi lebih kereatif.
- Rela berkorban demi sang kekasihnya.

KETIKA DITOLAK OLEH SANG PUJAAN

- Menurunkan proses semangat belajar dan berujung pada kegagalan studinya.
- Runtuhnya kepercayaan diri, selalu merasa cemas, tidak tenang dan masa depan suram.
- Ambruknya tatanan moral masyarakat dan semakin merabaknya penyakit sosial.
- Terjerumusnya ke lembah kemusyrikan.

SOLUSI EFEKTIF PENCEGAHAN VMJ
1. Menikah
2. Mendekatkan diri kepada Allah. yaitu dengan berpuasa, banyak membaca Alquran, menundukkan pandangan, no film 18+, aktif dalam setiap aktivitas, dll.

KESIMPULAN
1.VMJ tidak mengenal usia (anak anak,remaja,dewasa).
2. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap objek VMJ.

Our Blog

99 Rating
Tulisan yang populer
9850 like
Banyak orang yang menyukai dalam sebulan ini
459 Followers
Pengikut terakhir dalam sebulan kebelakang

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About