Dilema Warga Indonesia
Report foto tempo.co
Pandemi bukan hanya merupakan penyakit menular yang telah menyebar di berbagai negara, juga merupakan bencana sosial, ekonomi, pendidikan pembatasan usaha warga memunculkan teriakan keras akan perihnya penderitaan. Hal ini membuat tatanan siklus kehidupan sosial rusak dibuatnya.
Baca juga : Isu Perpanjangan PPKM Darurat, Masyarakat: Sudah Biasa!
Suara-suara dilematik terdengar dimana-mana, suara tangisan,
keluhan, kesengsaraan, penindasan, ketidakberdayaan, keegoisan, kesombongan membuat
suasana hati yang mendengar riuhan dilema tersebut menaruh rasa iba juga tergores
perih melihatnya.
Hari demi hari suara-suara dilema itu semakin keras terdengar,
penindasan terasa hanya dijadikan main-main semata tanpa adanya edukasi serta memikirkan
rintihan pilu, pedih, keluhan yang masyarakat rasakan. Mereka hanya mengatakan “sabar,
sabar” tanpa adanya insentif bantuan pada mereka yang merasakan sakitnya penderitaan
itu.
Sepintas perlakuan itu menimbulkan statement mematikan gerak
langkah mereka para pemangku kewenangan, “Bpk, bapak mah enak, duduknya digaji.
Kalau kami, harus mati-matian dulu kejalan cari sesuap nasi”, “Bpk, memang sabar
bisa dimakan, bisa mengenyangkan, bisa meredakan kelaparan? Tidak bpk. Tidak ada
ceritanya sabar bisa menghilangkan semua itu”, “Bpk, kalau usaha kita ditutup, apakah
ada jaminan dari negara membiayai kebutuhan kami? Tidak ada pak, tidak ada!”, “Bpk,
saya tidak percaya Covid, kalau usaha ditutup saya harus makan apa?”. Serentak statement
itu menjatuhkan mental.
Memang sedih mendengar berita hari-hari ini, keluhan demi keluhan rasanya tidak dipedulikan lagi. Lantas, apa tanggapanmu terhadap problematika sosial hari ini. Silahkan comen dibawah.
Penulis : Fairus Utami





