Selamat datang di Jurnal harian Fairus

Jangan pernah katakan "tidak" pada dunia, tapi katakanlah aku bisa menggenggamnya dengan caraku sendiri.

NEVER GIVE UP

SEMANGAT :)

Find Out More Purchase Theme

Official Account

Youtube

Bantu Subcribe yaa :)

Read More

Instagram

Bantu Follow Yaa :)

Read More

Facebook

Bantu Add Friends Yaa :)

Read More

Twitter

Bantu Follow Yaa :)

Read More

LATEST POST

26 Januari 2020

SEJARAH PERANG BANI MUSTALIQ

SEJARAH PERANG BANI MUSTALIQ


Disebut perang Bani Mustaliq karena perang tersebut melawan kaum Yahudi Bani Mustaliq. Selain itu, perang ini terjadi di wilayah Bani Mustaliq. Perang Bani Mustaliq dikenal pula sebagai Perang Muraisi karena di wilayah Bani Mustaliq terdapat sebuah sumur yang bernama Muraisi. Perang ini terjadi sekitar bulan Syawal 5 Hijriah. 

1. Sebab-sebab Terjadinya Perang Bani Mustaliq

Perang ini terjadi karena seorang ketua dari kabilah Bani Mustaliq bernama Hars bin Dirar telah menghasut kaumnya dan beberapa kaum yang lain untuk memerangi kaum muslimin di Madinah. Hars bin Dirar juga pernah mengirimkan bantuan kepada pasukan Quraisy Mekah pada saat terjadinya Perang Uhud.

Berita tersebut didengar oleh Rasulullah Saw. sehingga beliau mengutus sahabatnya bernama Buraidah bin Al-Hasib Al-Aslami untuk menyelidiki kebenarannya. Dengan sigap Buraidah menemukan bukti bahwa Hars memang berniat untuk menghancurkan umat Islam.

2. Peristiwa terjadinya Perang Bani Mustaliq 

Berdasarkan keterangan dari Buraidah tersebut, Rasulullah Saw. segera menghimpun pasukan. Bendera pasukan muslimin dari Muhajirin diserahkan kepada Abu Bakar, sedangkan dari Ansar diserahkan kepada Sa'ad bin Ubadah. 
Di dalam pasukan ini terdapat beberapa orang munafik seperti 'Abdullah bin Ubay dan Zaid bin Salt yang ikut bergabung karena ingin mendapatkan harta rampasan perang. Rasulullah Saw. juga mengajak istrinya, Aisyah r.a. dan Ummi Salamah. Sebelum Rasulullah saw. berangkat, pimpinan umat di Madinah diserahkan kepada Zaid bin Harisah.

Sesampainya di kampung Bani Mustaliq, 'Umar bin Khattab mengumumkan bahwa barang siapa yang bersyahadat maka jiwa dan hartanya akan selamat. Akan tetapi, apabila menolak maka itu berarti akan terjadi peperangan.

Kaum Bani Mustaliq tampaknya tidak bersedia menerima ajakan 'Umar bin Khattab. Bahkan mereka membentuk barisan yang berhadapan dengan pasukan kaum muslimin. Tak berapa lama kemudian, kedua pasukan sudah saling melontarkan anak panah. 

Perang anak panah ini tidak berlangsung lama karena pasukan kaum muslimin mulai mendesak pasukan Bani Mustaliq. Akhirnya mereka lari menyelamatkan diri. Namun, pasukan kaum muslimin terus mengejar hingga semua pasukan dari Bani Mustaliq dapat ditawan. Hars bin Dirar sendiri telah melarikan diri entah kemana. Harta milik penduduk Bani Mustaliq menjadi harta rampasan perang. Dalam perang ini, pasukan Bani Mustaliq yang tewas berjumlah 10 orang, sedangkan dari kaum muslimin hanya 1 orang. Perang pun akhirnya dimenangkan oleh Rasulullah saw. dan pasukannya.

3. Mengambil ibrah terjadinya Perang Bani Mustaliq 

Dari peristiwa Perang Bani Mustaliq kita dapat mengambil beberapa ibrah, di antaranya sebagai berikut. 

  • Menghasut merupakan perbuatan tidak terpuji dan dapat menimbulkan permusuhan. 
  • Siapa pun yang memusuhi Islam akan menerima akibat buruk. 
  • Kebenaran pasti akan menang. 

Terimakasih sudah membaca sampai selesai semoga tulisan ini bermanfaat bagi dari pribadi dan terlebih khusus pada umat muslim seluruhnya.

Ingin lihat lebih banyak artikel tentang peperangan pada zaman Rasulullah Saw kita disini:
Sumber Rujukan: Syurfah, Ariany. (2016). Mari Belajar Tarikh Islam. Bandung: CV. Rizqi Bandung.

SEJARAH PERANG BANI NADIR

SEJARAH PERANG BANI NADIR


Disebut Perang Bani Nadir karena perang tersebut melawan kaum Yahudi Bani Nadir. Selain itu, perang ini terjadi di perkampungan kaum Yahudi Bani Nadir. Perang ini terjadi pada tahun ke 3 Hijriah.

1. Sebab-sebab Terjadinya Perang Bani Nadir

Setelah Perang Uhud usai dengan korban yang cukup banyak dari pihak kaum muslimin, beberapa kelompok seperti dari kaum Yahudi di Madinah mulai merencanakan untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka membuat persekutuan dengan pihak kaum kafir Quraisy di Mekah. Sikap tokoh munafik, yaitu 'Abdullah bin Ubay dan pengikutnya semakin nyata memusuhi Islam. Belum lagi dari kelompok lainnya yang berada di luar Madinah.

Mereka semua berpikir bahwa keadaan Rasulullah saw. dan kaum muslimin sudah di ambang kehancuran. 

Rasulullah Saw. menyadari betul keadaan di atas. Oleh karena itu, Rasulullah saw. senantiasa bersikap waspada dan tetap berusaha menjaga keamanan kota Madinah. 

Suatu hari, Amir bin Umayyah melapor kepada Rasulullah Saw. bahwa dirinya tanpa sengaja telah membunuh 2 orang dari Bani Amir. Bani Amir merupakan kabilah yang sangat dekat dengan Bani Nadir. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersama Abu Bakar, 'Umar bin Khattab, 'Ali bin Abi Talib, Zubair bin Awwam, dan Țalhah bin 'Ubaidillah, datang kepada ketua Bani Nadir untuk meminta bantuan agar Bani Amir mau meringankan denda atas peristiwa di atas. 

Rasulullah Saw, dan para sahabat diterima dengan baik oleh ketua Bani Nadir. Mereka pun dijanjikan akan mendapat bantuan untuk menyelesaikan permasalahan dari kaum muslimin. Akan tetapi, sikap yang ditunjukkan oleh ketua Bani Nadir tersebut rupanya hanya sandiwara belaka. Mereka ternyata telah membuat rencana untuk membunuh Rasulullah Saw. Huyayi bin Akhtab, salah seorang kepala Bani Nadir telah memerintahkan 'Amr bin Jihasy untuk membawa batu besar dan menjatuhkan-nya di atas kepala Rasulullah Saw. Salam bin Misykam, salah seorang ketua lain, mencoba menghentikan rencana ini, namun 'Amr bin Jihasy bersikeras untuk melakukannya. 

Pada saat itulah turun Malaikat Jibril dan memberitahukan rencana Huyayi dan 'Amr tersebut kepada Rasulullah Saw. Dengan diam-diam dan bergerak cepat, Rasulullah saw. pergi dan pulang ke Madinah secepatnya. Apa yang dilakukan oleh Huyayi dan 'Amr telah membuat perjanjian di antara kaum Yahudi Bani Nadir dan kaum muslimin sudah tidak berlaku lagi. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. dan kaum muslimin di Madinah tidak punya kewajiban lagi untuk menjaga perjanjian sebelumnya. 

2. Peristiwa Terjadinya Perang Bani Nadir

Dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Bani Nadir tersebut, Rasulullah Saw. pun kemudian memerintahkan sahabatnya,  Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan peringatan kepada Bani Nadir. Peringatan itu menyatakan bahwa penduduk Bani Nadir diharuskan pergi keluar dari Madinah dan sekitarnya. Namun mereka tidak menghiraukan peringatan tersebut. Bahkan Huyayi bin Akhțab menyatakan untuk berperang melawan kaum muslimin.

Kabar mengenai keputusan kaum Yahudi Bani Nadir untuk tetap tinggal dan tidak mau pergi membuat Rasulullah Saw. dengan pasukannya mengepung benteng yang ditempati oleh kaum Bani Nadir bersama pasukannya.

Dalam pengepungan itu, beberapa orang dari Bani Nadir berusaha melontarkan anak panahnya ke arah pasukan muslimin. Mereka tetap bersikeras tidak mau meninggalkan tempat tinggalnya karena mereka yakin akan mendapat bantuan dari 'Abdullah bin Ubay. 

20 hari telah berlalu, bantuan pasukan dari 'Abdullah bin Ubay belum juga datang. Kaum Yahudi Bani Nadir mulai ragu dengan bantuan yang dijanjikan oleh 'Abdullah bin Ubay. Mereka mulai

ketakutan dan kebingungan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berdamai dengan Rasulullah Saw. dan pasukannya. Permintaan mereka pun diterima oleh Rasulullah saw. asalkan mereka keluar dari Madinah. Kaum Bani Nadir pun kemudian berkemas dan akhirnya pergi meninggalkan tempat tinggal mereka selama ini, Mereka diperkenankan membawa harta mereka, kecuali peralatan perang.

3. Mengambil Ibrah Terjadinya Perang Bani Nadir

Dari peristiwa Perang Bani Nadir, kita dapat mengambil beberapa ibrah, di antaranya sebagai berikut. 

  • Niat buruk merupakan perbuatan tidak baik dan pelakunya akan mendapatkan balasan. 
  • Allah pasti akan memberi kabar kepada Rasulullah saw. ketika ada orang-orang yang akan berbuat jahat kepada beliau. 
  • Melanggar hal dalam sejarah merupakan hal yang dilarang.

Terimakasih sudah membaca sampai selesai, semoga menjadi penambah ilmu dan memperluas wawasan kita tentang sejarah Islam.

Lihat juga:


Sumber referensi:
Syurfah, Ariany. (2016). Mari Belajar Tarikh Islam. Bandung: CV. Rizqi Bandung

24 Januari 2020

SEJARAH PERANG UHUD

SEJARAH PERANG UHUD



Disebut Perang Uhud karena perang ini terjadi di sebuah gunung bernama Uhud yang terletak di dekat Madinah. Perang ini terjadi pada tanggal 13 Syawal 3 H atau bertepatan tanggal 23 Maret 625 M.

1. Sebab-sebab terjadinya Perang Uhud

Kekalahan pasukan kafir Quraisy di Perang Badar membuat beberapa tokoh seperti 'Abdullah bin Abi Rabi'ah, Ikrimah bin Abi Jahal, Safwan bin Umayyah, serta beberapa tokoh lainnya meminta kepada Abu Sufyan untuk membalas kekalahan mereka di Perang Badar. Abu Sufyan dan beberapa orang yang bersamanya kemudian mengabulkan permintaan mereka. 

Abu Sufyan dan padagang-pedagang Quraisy lainnya setuju untuk memberi bantuan kepada mereka dengan menyertakan Ahabisy, yaitu kabilah-kabilah Arab di luar kabilah Quraisy. Abu Sufyan menjadi komandan perang yang ditemani oleh istrinya, Hindun binti Utbah. Ikrimah berangkat bersama istrinya, Ummu Hakim binti AI-Haris. Al Haris bersama Fatimah bin Al-Walid, Safwan bin Umayyah bersama Barzah binti Mas'ud As Saqafiyah, dan Amr bin 'As bersama Birithah bin Munabbih bin Al-Hajjaj.

2. Peristiwa terjadinya Perang Uhud

Pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 3000 orang berangkat dari Mekah hingga tiba di sebuah gunung bernama Sabkhah. Berita yang sampai sungguh sangat mengejutkan Rasulullah Saw, dan kaum Muslimin. 3000 pasukan Quraisy adalah pasukan yang sangat besar. Kemudian Rasulullah saw. bermusyawarah dan memutuskan untuk menyongsong pasukan Quraisy di luar Madinah. Setelah mempersiapkan diri, Rasulullah saw. pun berangkat bersama pasukannya yang berjumlah 1000 orang. Bersama pasukan kaum muslimin terdapat seorang tokoh munafik bernama 'Abdullah bin Ubay.

Ilustrasi 1000 pasukan Quraisy

Ketika Rasulullah Saw. bersama para sahabatnya tiba di Asy-Syaut, daerah antara Madinah dan Uhud, 'Abdullah bin Ubay bin Salul bersama 300 orang pengikutnya mundur dan kembali ke Madinah.

Rasulullah saw. dan pasukannya terus berjalan hingga sampai di sebuah jalan menuju gunung Uhud. Pada saat bersamaan, pasukan Quraisy telah beradai di Asy-Syamgah dekat dengan tempat kaum muslimin berada. 

Rasulullah Saw. bersama 700 pasukannya mulai mengatur strategi. Beliau menunjuk 'Abdullah bin Zubair sebagai komandan pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang. Rasulullah saw. berpesan kepada mereka agar mereka melindungi Rasulullah saw. dan pasukan kaum muslimin dari pasukan berkuda Quraisy dengan anak panah mereka. Tujuannya agar pasukan berkuda Quraisy tidak bisa menyerang pasukan kaum muslimin dari belakang. Rasulullah Saw. juga berpesan agar pasukan tetap di posisinya, baik pasukan kaum muslimin menang maupun kalah. Kemudian Rasulullah saw. menyerahkan bendera kepada Mus'ab bin 'Umair. Rasulullah saw. juga menyerahkan pedangnya kepada Abu Dafanah.

Sementara itu, pasukan kafir Quraisy menunjuk Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan berkuda sayap kanan dan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai komandan pasukan berkuda sayap kiri. Hindun binti Utbah berdiri bersama kaum perempuan lainnya sambil menabuh rebana di belakang pasukan kafir Quraisy untuk memberi semangat.

Tidak lama kemudian, dua pasukan itu pun saling berhadapan dan akhirnya pertempuran pun terjadi. Abu Dujanah bertempur dengan gagah beraninya. Zubair bin Al-Awwam dan Hamzah bin Abdul Muțalib ke sana kemari memukul musuh-musuhnya hingga berhasil menewaskan pembawa bendera pasukan kafir Quraisy.

Di antara pasukan kafir Quraisy terdapat seorang budak yang bernama Wahsyi. la dipersiapkan oleh Hindun dengan tujuan membunuh Hamzah. Jika ia berhasil membunuh Hamzah maka ia akan menjadi orang merdeka. Hindun merasa dendam karena ayahnya tewas di tangan Hamzah dalam Perang Badar. Tanpa menunggu lama, Wahsyi mengarahkan tombaknya dan melemparkannya ke arah Hamzah. Hamzah tak mampu menghindari serangan yang mendadak tersebut, sehingga Hamzah pun jatuh dan gugur sebagai syahid. Di sisi lain, Mus'ab bertempur hingga gugur sebagai syahid pula. Lalu Rasulullah saw. menyerahkan bendera kepada 'Ali bin Abi Talib yang kemudian bertempur bersama yang lainnya. 

Beberapa waktu kemudian, pasukan kaum muslimin berhasil mendesak pasukan kafir Quraisy hingga mundur dan mencoba melarikan diri. Kekalahan pasukan kaum kafir Quraisy telah di depan mata. Hal ini tentu saja membuat pasukan kaum muslimin semakin bersemangat, tidak terkecuali pasukan pemanah yang berada di atas bukit. Mereka melihat sendiri bagaimana musuh meninggalkan barang-barang berharganya untuk menyelamatkan diri. Mereka merasa kemenangan telah di depan mata, sehingga mereka pun turun dari atas bukit untuk mengambil barang-barang tersebut. Mereka lupa dengan ucapan Rasulullah Saw. untuk tidak meninggalkan tempat mereka dalam keadaan apa pun.

Pada saat itulah pasukan berkuda kafir Quraisy muncul di belakang pasukan kaum muslimin. Mereka menyerang dengan cepat hingga kaum muslimin tercerai berai. Keadaan yang genting tengah dihadapi oleh Rasulullah saw, dan kaum Muslimin. Salah seorang dari pasukan kafir Quraisy yang bernama Utbah bin Abi Waqqas berhasil melempar batu yang mengenai wajah Rasulullah saw. hingga terjatuh dalam keadaan miring. Darah mengalir di wajah Rasulullah saw. 

Serangan lain datang dari Ibnu Qami'ah yang melemparkan dua buah mata rantai besi hingga melukai bagian atas pipi beliau. Rasulullah Saw. pun terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir. Melihat keadaan tersebut, 'Ali bin Abi Talib segera memegang tangan Rasulullah Saw. dan dibantu oleh Talhah bin 'Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan mengusap darah beliau. 

Keadaan pasukan kaum muslimin bertambah kacau ketika terdengar teriakan dari Ibnu Qami'ah yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. telah terbunuh. Pasukan kaum muslimin semakin panik dan mulai putus asa. Di saat genting itulah, Ka'ab bin Malik melihat Rasulullah saw. masih dalam keadaan hidup. la pun berteriak bahwa Rasulullah saw. masih hidup. Serentak kaum muslimin yang mendengar teriakan Ka'ab bergerak ke arah Rasulullah saw. dan secara otomatis melindungi beliau dari serangan musuh. Namun, teriakan Ka'ab tersebut justru memancing kedatangan pasukan musuh sehingga jumlah musuh yang hendak membunuh Rasulullah saw. semakin banyak.

Orang-orang kafir terus berusaha menerobos barisan pertahanan kaum muslimin yang mencoba melindungi Rasulullah saw. 30 orang sahabat membuat pertahanan di sekitar Rasulullah saw. Abu Bakar, Umar bin Khattab, 'Ali bin Abi Talib, Talhah bin Ubaidillah, Abu Dujanah, Abdurrahman bin 'Auf, dan lainnya terus berusaha melindungi Rasulullah saw. dari setiap serangan yang mengarah kepada beliau.

Semakin keras keinginan orang- orang kafir untuk mendekati Rasulullah saw., semakin kokoh pula pertahanan yang diperlihatkan oleh para sahabat yang melindungi Rasulullah saw. Setiap ada musuh yang mendekat, langsung diterjang hingga musuh tewas atau mundur karena ketakutan.

Orang-orang kafir Quraisy menyadari keadaan yang mulai tidak menguntungkan mereka. Mereka mulai takut dengan sepak terjang para sahabat Rasulullah saw. Akhirnya pasukan musuh mulai mengendurkan serangan mereka. Tidak lama kemudian pertempuran pun berhenti. Rasulullah saw. dan pasukannya beristirahat sejenak di atas sebuah bukit sambil mengobati luka-lukanya. Pasukan kafir Quraisy mulai bergerak kembali ke Mekah. Mereka memutuskan untuk pulang dan mengakhiri pertempuran tanpa membawa tawanan satu pun dan harta rampasan perang.

Setelah memastikan kepulangan pasukan kafir Quraisy, Rasulullah saw. dan pasukannya kembali ke Madinah. 70 orang kaum muslimin telah gugur di pertempuran Uhud. Sebelum pulang, Rasulullah saw. menguburkan semua jenazah mereka, termasuk jenazah pamannya, Hamzah bin 'Abdul Muțalib. Perang Uhud adalah ujian dan pembersihan. Dengan perang itu, Allah ingin menguji siapa yang benar-benar beriman dan membongkar topeng orang-orang munafik yang menampakkan keimanan dengan lisan, namun menyembunyikan kekafiran di hati mereka. Allah juga ingin memberikan penghargaan dan kemuliaan kepada kaum muslimin yang bertempur hingga mati syahid.

Sehubungan dengan berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang Uhud. Allah SWT menurunkan wahyu-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ 

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman." (QS. Ali 'Imran[3]: 139)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ 

"Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman." (QS. Ali 'Imran[3]: 175)

3. Mengambil Ibrah dari Perang Uhud

Dari peristiwa perang Uhud, kita dapat mengambil Ibrah diantaranya:


  • Mentaati pemimpin dapat memudahkan meraih kemenangan.
  • Jangan mudah tergoda oleh dunia atau kekayaan harta. 
  • Perang Uhud telah memperlihatkan kepada kita bahwa siapa orang-orang yang beriman dan siapa orang-orang yang munafik.

Terimakasih sudah membaca sampai selesai semoga bermanfaat juga memperluas wawasan kita tentang sejarah peperangan pada zaman Rasulullah Saw.

Lihat lebih banyak sejarah peperangan pada zaman Rasulullah Saw:


Sumber referensi:
- Syurfah, Ariany. (2016). Mari Belajar Tarikh Islam. Bandung: CV. Rizqi Bandung

22 Januari 2020

SEJARAH PERANG GATAFAN

SEJARAH PERANG GATAFAN



Disebut perang Gatafan karena perang ini terjadi di sebuah desa bernama Gatafan, perang ini terjadi pada bulan Rabiulawwal 3 Hijriyah.

1. Sebab-sebab Terjadinya Perang Gatafan

Perang ini dimulai ketika Rasulullah Saw. mendengar berita bahwa Kabilah Bani Muharib dan Bani Sa'labah bersatu mengumpulkan kekuatan untuk memerangi kaum muslimin di Madinah. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Da'sur bin Al-Haris Al-Gatafani dari Bani Muharib yang berasal dari desa Gatafan. Rasulullah Saw. pun kemudian menghimpun pasukannya hingga berjumlah 450 orang menuju Bani Muharib dan Bani Sa'labah. 

2. Terjadinya Perang Gatafan

Kedatangan Rasulullah Saw. dan pasukannya tentu saja membuat Da'sur dan penduduknya ketakutan. Mereka telah mendengar bagaimana Rasulullah Saw. dan pasukannya mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang besar dan dengan persenjataan yang lengkap. Mereka pun tidak mau ambil resiko. Mereka kemudian membuat keputusan untuk pergi meninggalkan tempat tinggal mereka. Mereka akhirnya lari ke puncak-puncak gunung yang berada di sekitarnya. 

Pada saat sampai di sebuah dusun yang bernama Zi Amara, Rasulullah Saw. dan pasukannya disambut dengan hujan yang cukup lebat. Saat hujan reda, beliau menjemur pakaiannya di bawah pohon sambil berbaring untuk beristirahat melepas lelah. Saat itu beliau sengaja menyendiri agak berjauhan dengan pasukannya. 

Rupanya ada beberapa orang dari Bani Muharib dan Bani Sa'labah yang tidak lari ke gunung. Mereka memata-matai keadaan Rasulullah Saw. dan pasukannya. Dengan segera mereka menemui Da'sur dan memintanya agar mendatangi Rasulullah Saw. dan membunuhnya. Da'sur pun setuju untuk melakukannya karena memang dari awal ia sangat membenci Rasulullah Saw.

Dengan cara mengendap-ngendap dan menyamarkan penampilannya, Da'sur mendekat ke tempat di mana Rasulullah Saw, sedang berbaring di bawah sebuah pohon. Tanpa ada suara, Da'sur menghunus pedangnya sambil bergerak di belakang Rasulullah Saw. Setelah berada sangat dekat dengan Rasulullah Saw. Da'sur pun meletakkan pedangnya di atas kepala Rasulullah Saw. sambil berkata, "Siapa yang akan melindungimu dari aku, hai Muhammad?"

Rasulullah Saw. tidak terlihat kaget atau panik. Beliau dengan tenang dan penuh keyakinan menjawab, "Allah." Mendengar hal itu, tiba-tiba saja tubuh Da'sur bergetar. Tangannya tak mampu lagi menggenggam pedangnya yang ia hunuskan ke kepala Rasulullah Saw. hingga pedang itu pun jatuh ke tanah.

Rasulullah Saw. mengambil pedang itu dan kini giliran beliau yang menghunus pedang dan mengarahkannya ke kepala Da'sur. "Sekarang siapa yang akan melindungimu dari aku?" Tanya Rasulullah saw. Dengan suara gemetar dan ketakutan, Da'sur pun menjawab, "Tidak ada seorang pun." Peristiwa itu membuat Da'sur sadar bahwa Muhammad memang seorang Rasul Allah yang mulia. Tanpa ragu, Da'sur pun kemudian bersyahadat dan beriman kepada Allah serta Rasul-Nya. Rasulullah Saw. memaafkan sikap Da'sur tersebut. Akhirnya Da'sur pun kembali kepada kaumnya dan menyeru Hindun agar mengikuti agama yang telah dibawa oleh Rasulullah saw.

3. Mengambil Ibrah dari Peristiwa Perang Gatafan

Dari peristiwa perang ghathafan, kita dapat mengambil beberapa ibrah diantaranya sebagai berikut:
• Kekuatan Rasulullah Saw dan pasukannya yang dilandasi keimanan disegani oleh musuh.
• Keyakinan terhadap Allah yang kuat dapat menjadi perisai bagi diri seseorang.
• Sikap Memaafkan yang dapat menarik simpati orang lain.

Terimakasih sudah membaca sampai selesai, semoga menjadi penambah ilmu dan memperluas wawasan kita tentang sejarah Islam.
Lihat juga:

Sumber referensi: Syurfah, Ariany. (2016). Mari Belajar Tarikh Islam. Bandung: CV. Rizqi Bandung.

21 Januari 2020

SEJARAH PERANG BADAR

SEJARAH PERANG BADAR



Disebut Perang Badar karena perang ini terjadi di salah satu lembah bernama Badar. Perang ini terjadi pada hari Jumat pagi 17 Ramadhan 2 Hijriyah atau bertepatan tanggal 13 Maret 624 Masehi.

1. Sebab-sebab terjadinya Perang Badar

Pada suatu hari, Rasulullah SAW mendengar berita  bahwa sekelompok pedagang Quraisy dari Mekah sedang melakukan perjalanan menuju Syam. Kelompok pedagang ini terdiri atas 30 orang yang dikepalai oleh bangsawan bernama Abu Sufyan bin Harb.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW bersama para orang sahabatnya langsung berangkat dari Madinah menuju jalan yang akan dilewati oleh para pedagang Quraisy itu. Rasulullah SAW bermaksud untuk melakukan penjagaan dari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama gangguan orang-orang Mekah terhadap kaum Muslim di Madinah. Namun, ternyata rombongan pedagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan setelah melalui jalan itu menuju Syam.  Mereka tidak sempat bertemu dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW bersama para sahabatnya pun kemudian kembali pulang ke Madinah sambil menunggu berita kepulangan mereka.

Setelah beberapa lama, Rasulullah SAW mendengar berita kepulangan rombongan pedagang Quraisy dari Mekah. Dengan segera beliau memerintahkan sebagian kaum muslimin untuk mengawasi rombongan tersebut agar tidak sampai mengganggu keamanan dan ketenangan kota Madinah.

Pada tanggal 3 Ramadhan 2 Hijriyah, Rasulullah SAW menghimpun pasukannya hingga berjumlah kurang lebih 300 orang dengan persenjataan yang cukup lengkap.  Rasulullah SAW dan pasukannya pun kemudian berangkat dari Madinah dan meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menggantikan kepemimpinan beliau di Madinah selama kepergiannya.

Ketika Rasulullah SAW dan pasukannya tiba di suatu tempat yang berdekatan dengan dusun Safra', beliau memerintahkan Basis bin Amr Al-Juhani dan Adi bin Ra'ba Al-Juhani pergi ke Badar untuk mencari keterangan mengenai rombongan pedagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Apa yang akan dilakukan oleh Rasulullah SAW dan pasukannya rupanya terdengar oleh Abu Sufyan dan yang lainnya. Abu Sufyan pun kemudian meminta Damdam bin Amr Al-Ghifari untuk secepatnya pulang ke Mekah dan menyampaikan hal tersebut kepada para pemimpin yang ada di Mekah.

Berita yang disampaikan Damdam membuat para pemimpin Quraisy di Mekah sangat terkejut. Mereka mempersiapkan 1000 pasukan dengan persenjataan yang sangat lengkap. Mereka berangkat menuju tempat yang diberitahukan oleh Abu Sufyan dengan dipimpin oleh Abu Jahal.

2. Peristiwa terjadinya Perang Badar

Sementara itu, Rasulullah SAW dan pasukannya sedang berusaha untuk terus mencari rombongan pedagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Di dekat dusun Badar, beliau mendengar rombongan pedagang Quraisy itu telah berjalan menuju jalan di tepi Laut Merah. 

Pada saat Rasulullah SAW dan pasukannya tiba di sebuah lembah yang bernama Zafiran, terdengar berita bahwa kaum Quraisy setelah menghimpun pasukan dalam jumlah yang sangat besar untuk melindungi rombongan pedagang pimpinan Abu Sufyan.

Rombongan Abu Sufyan berhasil selamat. Namun Abu Jahal tetap bersikap keras untuk berperang melawan kaum muslimin. Sesampainya di Badar, Abu Jahal dan pasukannya tinggal di Badar selama 3 hari 3 malam. Dengan penuh kesombongan, mereka mengejek dan menghina kaum muslimin. Mereka berpesta pora dengan minum-minuman keras. Mereka merasa jika terjadi pertempuran maka pasti pasukan merekalah yang akan menang.

Setelah mengetahui berita tentang pasukan kaum Quraisy yang telah datang di Badar, kemudian Rasulullah saw. bermusyawarah dan akhirnya sepakat untuk berperang melawan pasukan Quraisy di Badar. Dalam perjalanan menuju Badar, Rasulullah saw. menerima wahyu yang isinya menyatakan bahwa Allah Swt. telah memberikan janjinya untuk kemenangan pasukan kaum muslimin. 

Ketika sampai di Badar, Rasulullah saw. mengambil tempat yang banyak air. Hal ini atas saran Hubbab bin Al-Munzir. Sementara itu, Abu Bakar mendirikan tenda untuk Rasulullah saw. sebagai tempat berlindung. 

Tidak berapa lama kemudian, pasukan Quraisy datang ke tempat di mana Rasulullah saw. dan pasukan kaum muslimin berada. Rasulullah SAW melihat kesombongan mereka. Akhirnya ke dua pasukan itu pun bertemu dan saling berhadapan. Terjadilah pertempuran satu lawan satu sebagai suatu pendahuluan. Hamzah bin Abdul Muttalib berhasil mengalahkan Syaibah, begitu juga Ali bin Abi Talib berhasil mengalahkan Walid bin Utbah. Namun Ubaidah bin Haris terluka hingga mati syahid terkena pedang Utbah bin Rabi'ah. Oleh karena itu, Utbah pun akhirnya bertempur kembali dan dikalahkan oleh 'Ali bin Abi Talib. 

Setelah pertempuran tadi, tak berapa lama kemudian terjadilah pertempuran sengit antara pasukan kaum muslimin dan pasukan Quraisy. Korban pun mulai berjatuhan. Rasulullah saw. terus berdoa dalam tendanya sambil mengawasi dan memberi semangat kepada pasukannya. Tidak berapa lama, pertolongan Allah Swt. pun datang. Ribuan malaikat membantu Rasulullah saw. dan pasukannya dengan caranya sendiri. Meskipun pasukan kaum Muslimin hanya berjumlah 300 orang, tetapi akhirnya mereka bisa mengalahkan 1000 pasukan Quraisy dengan persenjataannya yang lengkap.

Pemimpin pasukan Quraisy, yaitu Abu Jahal tewas di tangan Mu'az bin Afra. Umayyah bin khalaf yang sombong juga tewas di tangan Bilal bin Rabbah. Dalam pertempuran itu 70 orang pasukan Quraisy tewas dan 70 orang lain yang menjadi tawanan perang. Sementara itu dari pihak kaum muslimin, 14 orang gugur sebagai syahid. Dengan demikian, pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy.

3. Mengambil Ibrah dari Peristiwa Perang Badar.

Dari peristiwa Perang Badar, kita dapat mengambil beberapa ibrah di antaranya sebagai berikut.

• Jumlah pasukan lebih sedikit daripada lawan tidak menjadi masalah selama keyakinan akan datangnya pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala tetap terjaga
• Allah subhanahu wa ta'ala pasti memberikan pertolongan kepada pihak yang benar.
• Jangan bersikap sombong karena dapat merugikan diri sendiri.

Terimakasih sudah membaca sampai selesai, semoga menjadi penambah ilmu dan memperluas wawasan kita tentang sejarah Islam.
Lihat juga:
Sumber referensi:
Syurfah, Ariany. (2016). Mari Belajar Tarikh Islam. Bandung: CV. Rizqi Bandung

20 Januari 2020

SEJARAH PERANG BANI QAINUQA'

SEJARAH PERANG BANI QAINUQA'



Disebut perang Qainuqa karena diambil dari nama salah satu Bani kaum Yahudi, yaitu Qainuqa di Madinah. Selain itu, peperangan ini terjadi di salah satu tempat di Madinah yang merupakan wilayah Bani Qainuqa. Perang Qainuqa terjadi pada bulan Syawal 2 Hijriyah.

  1.  Sebab-sebab terjadinya Perang Qainuqa
Terjadinya perang Qainuqa bermula ketika seorang Yahudi dari Bani Qainuqa memaksa perempuan Ansar untuk membuka cadar atau kain yang menutup wajahnya. Sebagai seorang muslimah, tentu saja ia menolak keinginan orang Yahudi itu dengan cara yang baik.

Pada saat yang bersamaan, seorang Yahudi lainnya mengendap-endap perempuan Ansar yang tengah duduk menjajakan dagangannya. Tanpa sepengetahuan perempuan tersebut, orang Yahudi itu menarik kain yang dipakai perempuan tersebut, orang Yahudi itu menarik kain yang dipakainya secara perlahan-lahan dan mengikatnya pada kayu yang berduri. Ketika perempuan tersebut bangkit dari duduknya, kain yang dipakainya tertarik hingga auratnya terbuka. Hal ini tentu saja membuat perempuan itu merasa sangat malu.

Seorang laki-laki muslim yang berada di dekat tempat tersebut, melihat kejadian itu. Tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu, ia langsung memukul orang Yahudi yang mengganggu perempuan Anshar tersebut hingga tewas. Hal ini tentu saja membuat orang-orang Yahudi yang ada di sekitar tempat itu marah dan langsung mengeroyok laki-laki muslim tadi hingga tewas pula.

Peristiwa di atas terdengar oleh Rasulullah Saw sehingga beliau segera mendatangi tempat pertikaian tersebut. Rasulullah SAW mencoba untuk memperingatkan kaum Yahudi itu dengan perjanjian yang sebelumnya telah dibuat. Peringatan yang diberikan oleh Rasulullah SAW ternyata tidak membuat orang-orang Yahudi dari bani Qainuqa itu sadar. Bahkan mereka menjawab dengan penuh kesombongan. "Perjanjian tinggal perjanjian, wahai Muhammad! Karena sebelumnya engkau bertempur dengan kaum yang tidak mengerti untuk berperang, sehingga engkau mendapatkan kemenangan. Demi Allah, Sesungguhnya jika kami memerangimu maka engkau akan tahu sendiri. Kami adalah manusia, Muhammad!".

Mendengar jawaban yang penuh kesombongan dari kaum Yahudi tersebut, Rasulullah SAW lalu pulang dengan tenang dan penuh kesabaran.

2.  Peristiwa terjadinya Perang Qainuqa

Tindakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Bani Qainuqa itu telah memperlihatkan bahwa mereka memang berniat merusak perjanjian damai yang sebelumnya telah disepakati. Rasulullah SAW pun kemudian menghimpun pasukannya untuk menyerang Bani Qainuqa. Rasulullah SAW tidak bisa lagi membiarkan mereka menginjak-injak kehormatan agama Islam.

Setelah Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan umat di Madinah kepada Basyir bin Abdul Munzir, kemudian berangkatlah Rasulullah SAW bersama pasukannya menuju tempat tinggal kaum Yahudi Bani Qainuqa. Hamzah bin Abdul Mutalib turut serta dalam barisan pasukan kaum muslimin dengan memegang bendera.

Setibanya Rasulullah SAW dan pasukan kaum muslimin di kediaman Bani Qainuqa, Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk mengepung tempat Bani Qainuqa selama 15 hari 15 malam tanpa berhenti.

Kaum Yahudi Bani Qainuqa mulai merasa  resah bahwa mereka tak akan mampu berbuat apa-apa lagi. Mereka semakin resah dan khawatir, sehingga mereka pun memutuskan untuk menyerah kepada Rasulullah SAW dan pasukannya.

Setelah melalui musyawarah, akhirnya Rasulullah SAW memutuskan untuk mengusir Bani Qainuqa dari tempat tinggal mereka. Mereka harus pergi dalam jangka waktu 3 hari dan hanya diperbolehkan membawa istri dan anak-anaknya. Mereka tidak diperkenankan membawa harta mereka. Rasulullah SAW menjadikan harta mereka yang ditinggalkan sebagai harta rampasan perang. Meskipun tidak terjadi pertempuran secara fisik, perang ini akhirnya dimenangkan oleh Rasulullah SAW dan pasukannya.

3. Mengambil Ibrah dari Peristiwa Perang Qainuqa.

Dari peristiwa perang qainuqa, kita dapat mengambil beberapa ibrah, diantaranya adalah sebagai berikut.

• Tindakan mengganggu orang lain dapat mengakibatkan permusuhan.
• Melanggar perjanjian adalah perbuatan tidak terpuji dan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
• Sikap sombong dapat menghancurkan segala yang kita miliki.

12 Januari 2020

MASALAH MEMBANGUN KARAKTER KEPRIBADIAN

MASALAH MEMBANGUN KARAKTER KEPRIBADIAN

Cara kita merespon masalah dengan menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya. kita terbentuk oleh kristalisasi sikap terhadap segala masalah yang kita hadapi dan itu semua menjadi kebiasaan yang membentuk kepribadian.

Menurut para ahli ilmu psikologi, kebiasaan seseorang terbentuk dari tiga unsur utama, yaitu:

1. Pengetahuan, yakni dengan hal-hal teoritis atau kognitif mengenai suatu masalah yang ingin dikerjakan oleh seseorang. Kamu menyebutkan ini sebagai kecerdasan intelektual.

2. Kemauan, yakni dengan dorongan motivasi atau kecenderungan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Kami sebut sebagai kecerdasan spiritual.

3. Kemampuan, Jani kesanggupan seseorang untuk melakukan besar keahlian yang dimilikinya, keterampilan yang diasah nya dan latihan yang dijalaninya.

Dalam Al-Qur'an ketiga unsur itu telah dipaparkan sebagai trilogi tarbiyah dalam kerangka tilawah, tazkiyah, dan ta'lim. Sebagaimana Allah tegaskan dalam surat al-jumu'ah ayat 2.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah[62]: 2)

Baca juga:The Power of Deadline

Sumber: Solikhin Zero to Hero & Kang Puji Hartono. (2010). Spiritual Problem Solving. Yogyakarta: Pro-U Media.

11 Januari 2020

NIATKAN MENUNTUT ILMU KARENA ALLAH

NIATKAN MENUNTUT ILMU KARENA ALLAH


Setiap muslim haruslah berilmu bila ia tak berilmu maka muslimnya belum sempurna. Dalam Islam sendiri seorang muslim diwajibkan menuntut ilmu. Rasulullah bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah: 224)

Maka dari itu, sebelum menuntut ilmu, terlebih dahulu perbaiki dulu niat kita. Usahakan setiap aktifitas kita sehari-hari harus dibarengi dengan niat yang benar yaitu dengan niat ingin mendapatkan Ridha dari Allah SWT. Rasulullah bersabda, sanad dari Umar bin Khattab bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang (berniat) hijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Didalam hadits lain, orang yang menuntut ilmu niatnya bukan karna Allah, maka ia tak akan mencium baunya surga. Rasulullah bersabda:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat." (HR. Abu Daud: 3179)

Begitu pun sebaliknya, bila ia keluar rumahnya untuk mencari ilmu karena Allah dan Rasul-Nya. Maka ia akan ditunjukkan ke jalan menuju surga.

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu (dengan niat karena Allah), maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga." (HR. Muslim: 2699)

➡Share tulisan ini pada teman-teman kalian. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi kedepannya dalam menuntut ilmu. Aamiin🤲🏻

10 Januari 2020

ANJURAN BANYAK ISTRI

ANJURAN BANYAK ISTRI

🦋Motivasi Muda
Sumber foto https://ceritajengyuni.blogspot.com
ANJURAN BANYAK ISTRI

Oleh: Pairus Utami

Pada suatu hari Ibnu Abbas pernah bertanya kepada Sa'id bin Jubair tentang status dirinya, maka Sa'id bin Jubair menjawab "Saya belum menikah" maka Ibnu Abbas berkata:

 فَتَزَوَّجْ فَإِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً

 "Menikahlah, karena orang yang terbaik dari ummat ini adalah seorang yang paling banyak wanitanya." (HR. Bukhari: 4681) - http://hadits.in/bukhari/4681

Didalam hadits lain masih dalam bab dan kitab yang sama, didalam hadits Shohih Bukhari dari Anas ra. Bahwa Nabi Muhammad Saw.

  كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ وَلَهُ تِسْعُ نِسْوَةٍ

Pernah menggilir para isterinya dalam satu malam, sementara saat itu beliau memiliki sembilan orang isteri. (HR. Bukhari : 4680)

Penjelasan dari hadits diatas dijelaskan dalam Al-Qur'an surat An-nisa : 3 sebagai batasan bahwa untuk umat Nabi Muhammad Saw. Allah membatasi bilamana ingin menikahi perempuan maksimal empat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۚ  فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ    ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

"Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim." (QS. An-Nisa[4]: 3)

Semoga tulisan ini bermanfaat, share pada teman-teman mu yang belum tau.

من دل على خير فله مثل اجر فاعله.

"Barang siapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan (ilmu baru atau lain sebagainya) maka ia mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala orang yang berbuat itu". (HR. Bukhari)

Ctt: Siapa yang tidak mau didoakan oleh orang banyak.

Our Blog

99 Rating
Tulisan yang populer
9850 like
Banyak orang yang menyukai dalam sebulan ini
459 Followers
Pengikut terakhir dalam sebulan kebelakang

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About