13 Juni 2020

ROHANI; Kapan Bicara, Kapan Diam


Oleh : Siti Rosanti , Jurusan MD UIN Bandung.


Rasulallah shalallahu Alaihi wasalam telah bersabda :
“Menyendiri lebih baik dari pada berkawan dengan orang yang buruk, jahat, dan berkawan dengan orang sholeh lebih baik dari pada menyendiri. Berbincang bincang yang baik lebih baik dari pada berdiam dan berdiam adalah lebih baik dari pada berbicara lebih baik dari pada berbicara atau ngobrol yang buruk." (HR. Hakim)

Dalam hadits yang lain di sebutkan : “Barang siapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barang siapa banyak salah maka bnyak pula dosanya, dan barang siapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. "(HR.At-Thabrani).

Diam Adalah pondasi keselamatan dan merupakan sikap penyelesaian terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam di tetapkan oleh syariah, perintah, dan larangan. Sedangkan diam pada saat saaat tertentu adalah sifat para tertentu adalah sifat para pemimpin, sebagaimna ungkapan-ungkapan bahwa bicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.

Menyimpan mulut di depan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk menghindari kebohongan, umpatan dan kekejaman raja,

Dalam hal ini Rasulalah shalalhu alaihi wasalam telah bersabda : ”Barang siapa banyak diam maka dia akan selamat.(HR. Ahmad)

Ada kisah dialog antara luqman dan Dawud, Luqman masuk menemui Dawud yang sedang menjahit baju perang, Luqman ingin bertanya kepadanya, namun hikmah mencegahnya dan dia pun diam. Dawud setelah selesai mengerjakan jahitan nya, mengenakan baju tersebut dan berkata, ”Diam itu Hikmah namun sedikit sekali orang yang melakukannya" mendengar perkataan itu, Dawud berkata kepada Luqman, "Sungguh tepat aku menamkanmu hakim (orang yang bijaksana)"

Juga dalam hadist yang lain di sebutkan: "Sesungguhnyah allah tidak menyukai banyak ngobrol, omong, menghambur hamburkan harta dan terlalu banyak bertanya. (HR. Bukhari). Juga Nabi saw. bersabda : “Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk, kotor adalah kebengisan tabiat dan kebengisan tabiat di neraka. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

“Sesungguhnyah diam adalah sebuah pintu diantara pintu pintu hikmah." Tidak ada kebaikan bersikap diam (tidak berbicara ) dari hukum, sebagaimna tidak ada kebaikan berbicara dengan kebodohan.’’

Diam itu ada tiga macam :
1. Diam karena berpikir dan hikmah.
2. Diam dari mar makruf dan nahi mungkar, dan juga dari hukum.
3. Diam yang merupakan penyakit kejiwaan, seperti rasa malu yang berlebihan.  Diam bentuk pertama adalah diam yang di anjurkan, sedangkan diam bentuk kedua dan ketiga tertolak dalam Islam. Diam bentuk pertama mengarah kepada hikmah dan kebenaran. Diam bentuk ketiga adalah penyakit kejiwaan yang harus di sembuhkan.

“Dengan banyak diam tercipta wibawa “ Jika akal sempurna maka bicara akan sedikit’ -(sahabat).’’ Jika engkau melihat seorang mukmin diam (tidaklah banyak bicara berkata )maka dekatilah, karena dia akan melontarkan hikmah.’’ Al-Hadits

Diam karena berpikir dan hikmah berarti mengendalikan kehendak lisan melalui kekuatan akal. Karena, tidak pada semua tempat dan waktu seseorang layak bicara, bagaimana juga tidak pada setiap tempat dan waktu seseorang layak diam segala sesuatu mempunyai ukuranya, tidak berlebihan (Ifrath) dan tidak juga kekurangan (tafrith).

Diam hikmah adalah diam berpikir dan menggunakan akal pada hal-hal yang bermanfaat bukan asal diam dan asal berpikir. Diam hikmah adalah menyiapkan apa apa yang hendak di katakana ,di lakukan atau di teapkan pada jalan yang benar,bukan pada jalan yang batil,

Diam hikmah menuntut manusia untuk berbicara pada waktu bicara dan diam pada waktu diam. Tidak banyak berceloteh, dan omongan tidak keluar dengan deras dari lidahnya, karena terlalu banyak bicara mengakibatkan seseorang banyak jatuh kepada kesalahan kepribadiannya, menjadi lemah.

“Barang siapa yang banyak bicaranya maka dia akan tergelincir.’’ jika sedikit bicaranya maka banyak kebenarannya.’’ Sesungguhnya bicarah adalah kebaikan bagi yang bersangkutan, dan banyak bicara adalah di benci. Tidak akan tergelincir orang yang diam, dan tidak ada yang di peroleh orang yang bnyak bicara kecuali ketergilincirannya.

Jika bicara itu perak, maka diam itu mutiara yang di hiasi takut’’ (khulaur Rasidin). Sebuah ungkapan hikmah terkenal berkata tentang diam yang positif,’’ jika berbicara adalah perak, maka diam adalah emas.’’ semoga kita bisa menggunakan lidah (mulut) kita kapan waktu dan tempat bicara dan kapan waktu untuk diam.

 Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About