26 Oktober 2019

Ahmad Hassan Sebagai Penjaga Aqidah Umat


AHMAD HASSAN ;
PENJAGA AKIDAH UMAT
Seorang pejuang yang langka. Lewat lisan dan penanya, Ahmad Hassan membela agama allah dan berjuang untuk menghindarkan umat dari kesesatan”
oleh : Fairus Utami

  • Biografi dan Perjalanan Hidup Ahmad Hassan

AHMAD Hassan (lahir di Singapura, tahun 1887). Ia terlahir hasil dari pernikahan Ahmad dan Muznah. Mereka menikah di Surabaya, ketika Ahmad sedang melakukan perjalanan perdagangannya di kota dagang itu. Usai menikah,  Ahmad memboyong Muznah ke Singapura. Meski lahir di Surabaya, Muznah berasal dari Palekat, Madras.
Selain berdagang, Ahmad adalah seorang wartawan. Ia adalah pemimpin Koran Nurul Islam yang terbit di Singapura. Ahmad ahli dalam bahasa dan agama, dan ia tak jarang terlibat perdebatan mengenai dua soal itu. Di dalam surat kabarnya Ahmad mengasuh rubrik Tanya jawab.
Ibarat pepatah, “buah tak akan jauh dari pohonnya.” Begitu pula dengan Hassan, rupanya, juga mewarisi tradisi intelektual ayahnya. Sejak usia 7 tahun, Hassan sudah belajar Al-Qur’an dan ilmu lainya. Lalu, ia masuk sekolah Melayu, dan belajar Bahasa Melayu, Arab, Inggris dan Tamil. Dengan ilmu itu;ah Hassan secara otodidak memperdalam agama, seperti Fara’id, Fiqh, Mantiq, Tafsir, dan lain-lainnya.
Secara formal, Hassan tak pernah menamatkan pelajarannya di sekolah dasar yang ditempuhnya, di usia 12 tahun, Hassan sudah ikut berdagang, menjaga toko milik iparnya, Sulaiman. Sambil berdagang, Hassan memperdalam ilmu agamanya pada Haji Ahmad di Bukkittiung dan Muhammad Thaib di Minto Road untuk belajar ilmu Nahwu dan Sharaf.
Ketika usia masih remaja, Hassan sudah mencari nafkah, dari pelayan toko sampai membuka vulkanisir ban. Setelah ilmunya dirasa cukup, pada tahun 1910, Hassan mengajar di Madrasah, dari tingkat Ibtidaiyah sampai Tsanawiyah.
Pada tahun 1912, Hassan bekerja di Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapura Press. Hassan menulis artikel yang berisikan nasihat-nasihat, mengajak pada kebaikan, dan menjauhi kemungkaran. Tidak jarang, Hassan menulis dalam bentuk puisi yang cukup gelitik dan menyentuh hati.
Dalam perkembangannya, tulisan Hassan mulai menemukan bentuknya. Yakni, punya sikap yang tegas terhadap persoalan yang menurut dia, masuk ke wilayah prinsip. Hassan, misalnya, mengancam keras kepada Qoldi (hakim) yang memeriksa perkara dan mengumpulkan Antara pria dan wanita ditempat duduk yang sama. Di surat kabar ini, Hassan bekerja sampai tahun 1916.
            Suratan takdir Hassan rupanya tidak hanya mukim di Singapura. Pada tahun 1921, Hassan berangkat ke Surabaya, mengelola toko milik pamannya sekaligus gurunya, Abdul Lathif. Sebelum berangkat, Abdul Lathif berpesan pada sang keponakannya, jangan bergaul dengan Faqih Hasyim yang dianggap sesat karena paham Wahabi.
Rupanya, di Surabaya, waktu itu, sedang terjadi konflik Antara kaum tua dangan kaum muda yang di pelopori oleh Faqih Hasyim, seorang pedagang sekaligus pendakwah. Faqih Hasyim, yang berasal dari padang itu, menggunakan rujukan dari buku yang dikarang oleh Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Zainuddin Labay, ketiganya asal dari Sumatra, dan Ahmad Soorkati, ulama asal Sudan yang mukim di Jakarta (Dulu masih bernama Batavia).
      Hassan datang ke Surabaya, awalnya, semata-mata hanya sebagai pedagang. Ia tinggal dirumah pamannya yang lain, Abdullah Hakim. Suatu ketika, sang paman meminta agar Hassan menemui K.H.A. Wahab Hasbullah. Belakangan, kiai Wahab menjadi terkenal karena ia adalah salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
            Dalam pertemuan ini,  Kiai Wahab bertanya pada Hassan, hukum membaca ushalli.
“Pak kiai, ushalli itu hukumnya sunnat” jawab Hassan.
“Dasarnya apa?” pak kiai kembali bertanya.
“Kalau itu, bisa dicari di kitab mana pun” jawab Hassan. Dalam benaknya, Hassan bertanya-tanya,  masalah yang ringan seperti ini kok ditanyakan?
            Rupanya, kiai Wahab sedang menjajagi Hassan. Pak kiai juga menyampaikan pada Hassan, bahwa di Surabaya sedang terjadi “perang dingin” Antara kaum tua dan kaum muda. Kiai Wahab lalu meminta Hassan untuk mencari dalil-dalilnya di dalam AL-Qur’an dan Hadits. Hassan meminta waktu sehari. Ia semalaman mencari dalilnya ushalli di kitab sahih Bukhari dan Muslim, juga ayat-ayat Al-Qur’an. Ternyata, masalah ushalli tidak ditemukannya. Hassan akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa pandangan kaum muda berada di jalur yang benar. Maka, ia pun bersahabat dengan Faqih Hasyim yang mewakili kaum muda.

Lihat Juga Introspeksi diri, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

            Perkembangan alam pikiran dan sikap seseorang tak bisa lepas dari pengaruh keluarga, pergaulan, dan bacaannya, begitu pula Hassan. Tak kala masih di Singapura, di usia yang masih belia, ia sering melihat ayahnya, seusai mengubur jenazah, langsung pulang. Tak ada acara talqin, tahlil, dan sebagainya. Begitu pula ketika mau melaksanakan shalat, tak usah ushalli. Selain dari ayahnya, Hassan juga dipengaruhi oleh tiga ulama asal India. Mereka adalah Thalib Rajab Ali Abdurrahman, dan Jaelani. Tiga orang ini bersama ayahnya dikenal faham Wahabi, sebuah istilah yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1791 M).  Abdul Wahbi sendiri dikenal sebagai  ulama yang mengadakan permunian ajaran Islam, khususnya di bidang aqidah. Berawal dari daerah Nejed, dan akhirnya mendapat dukungan dari Ibnu Su’ud, cikal bakal penguasa kerajaan Arab Saudi sekarang.
Di awal aktivitasnya, gerakan Wahabi tak jarang menggunakan aksi-aksi kekerasan, dalam bentuk merobohkan bangunan-bangunan yang berpotensi dipakai untuk aktivitas yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Karena itu, gerakan ini tak segan-segan untuk menghancurkan kuburan para sahabat Nabi saw. Karena di nilai telah digunakan sebagai tempat pemujaan baru selain Allah. Hassan terpengaruh terhadap sikap dan semangat membersihkan noda syirik dari kalangan Wahabi ini. Adapun caranya, Hassan lebih suka melakukan dengan cara berdebat secara langsung, atau menulis dalam bentul artikel atau buku.
            Karena tertarik pada ilmu menenun, pada tahun 1924 Hassan pergi ke Bandung. Tujuannya hanya satu, memperdalam ilmu pertenunan selam 9 bulan. Ia tinggal bersama keluarga Muhammad Yunus, seorang pendiri Persis. Usai sekolah tenun, Hassan sempat dipercaya mengelola pabrik tenun selama setahun. Tapi, karena kesulitan bahan baku pabrik tersebut akhirnya di tutup pada tahun 1926. Selama di Bandung inilah Hassan sering ikut aktivitas di Persis, dan secara resmi menjadi anggota, tahun 1926.
            Hassan masuk Persis tak kala ormas Islam ini berusia tiga tahun. Dan rupanya, ia secara popular di kalangan kaum muda yang progresif tahun-tahun berikutnya, Hassan identic dengan Persis, begitu pula Persis, identik dengan Hassan.

  • TENTANG DEMOKRASI

Suatu hari, sesuai memberikan ceramahnya, Hassan ditanya oleh seseorang, “tuan tadi mengatakan bahwa pemerintah Islam itu berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan musyawarah. Sedangkan pemerintah demokrasi tulen, hanya dengan rembukan rakyat. Diantara kedua ini, manakah yang lebih baik?”
            “Pemerintahan cara demokrasi atau kedaulatan rakyat, semata-mata kemauan rakyat. Kalau rakyat mau halalkan zina, mengizinkan produksi minuman beralkohol, dan seterusnya, niscaya boleh. Sedangkan menurut Islam, yang haram tetaplah haram; yang makruh tetaplah makruh, dan yang sunnah tetaplah sunnah. Kedaulatan rakyat berlaku di urusan-urusan luar dari yang tersebut.
            “Dalam pemerintahan dengan cara Islam, maksiat tak bisa jadi perkara biasa. Dalam system pemerintah demokrasi tulen, yang haram bisa jadi hala, yang wajib bisa jadi haram, asal di kehendaki oleh rakyat. Dari sini, tuan bisa tahu mana yang lebih baik.”

  • ULAMA KODOK

Ada yang menarik ketika Hassan menganalogikan sesuatu. Suatu saat, ia ditanya oleh seseorang, “Menurut hukum Islam, apa saja yang tidak boleh dimakan?”
            “Yang diharamkan oleh agama adalah bangkai, darh, daging babi, dan segala sesuatu yang diperuntukkan selain Allah. Hanya itu yang haram dimakan, lainnya tidak,” jawab Hassan.
            “Kalau kodok bagaimana, halal atau tidak?”
            “Tentu saja halal,” jawab Hassan.
            “Apa tidak jijik makan daging kodok?”
            “Soal jijik itu urusan tuan. Hanya sekedar jijik tidak akan mengubah hukum yang ada di dalam Al-Qur’an.”
            “Kalau begitu, Tuan Hassan ini pantas dijuluki sebagai ulama kodok,” si penanya memberi komentar.
            Hassan tak kalah cerdiknya. Ia balik bertanya pada si penanya, “Kalau kerbau, bagaimana pendapat Tuan?”
            “Tentu, boleh di makan,” jawab si penanya.
“Kalau begitu, Tuan lebih cocok dinamakan ulama kerbau”.
            Itulah gaya Hassan, dalam berdebat maupun dialog dengan seseoang. Tangkis dan cerdas, terkadang juga jenaka.


Lihat juga K.H. Ahmad Dahlan Pembaharu Dari Kauman.

  • DARI SEKULARISME SAMPAI TAKLID
            Dalam pandangan Hassan, ide sekularisme sangat berbahaya, terutama dalam hubungannya Islam dan paham kebangsaan atau nasionalisme. Padahal kebangsaan awalnya muncul dan berkembang di Eropa, lalu pada abad XX masuk ke Indonesia, dibawa oleh Dr. Soetomo dan Ir. Soekarno. Paham kebangsaan ini mengusung ideology “asli” Indonesia Yang, dalam implementasinya, menjauhkan dari hal-hal yang berbau asing, termasuk unsur-unsur agama yang sudah beradab-adab dijalani umat Islam.
            Hassan tampil menolak paham kebangsaan yang diusung oleh kedua pelopor pergerakan Indonesia itu. Menurut Hassan, paham kebangsaan menurut Soekarno dan Soetomo itu sama dengan ashabiyah, fanatisme kesukuan yang, oleh Islam, sangat ditantang. Dalam mengemukakan pandangan-pandangannya, Hassan tak pandang bulu. Siapa saja, yang menurutnya tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan Hadits, akan menjadi sasaran kritiknya, dengan tajam dan dalam. Maka, debat terbuka pun jarang di gelar, dan masyarakat terbuka dibiarkan memberi penilaian, mana pendapat yang lebih kuat dan perlu diikuti dan tidak.
            Dalam sejarahnya, Hassan pernah mengkritik Hasbi ash-Shiddieqy Karena soal jabat tangan Antara pria dan wanita yang buka mahramnya; dengan Hamka tentang kebangsaan; dan dengan Wahab Hasbullah berkaitan dengan Taklid. Mazhab, menurut Hassan, sama dengan Taklid, dan karena itu haram hukumnya menurut agama. Dalam sejarah hidupnya, Hassan tidak hanya berdebat dalam arti meluruskan pandangan yang di anggap keliru, dengan sesama ulama saja, baik dari kalangan modernis maupun tradisionalis. Tapi, Hassan juga berdebat dengan para pendeta, tokoh-tokoh Ahmadiyah,dan mereka yang ateis.

  • Tahun-tahun Mendekati Wafatnnya

            Sepanjang hidup, Hassan mempunyai seorang istri, Maryam, yang dinikahinya di Singapura pada tahun 1911. Maryam adalah peranakan Tamil-Melayu, dari keluarga yang taat berpegang pada agama. Dari pernikahan ini, pasangan Hassan-Maryan punya 7 anak, satu diantaranya, Abdul Qadir Hassan, yang juga penerus ayahnya. Pada tahun 1940, Hassan pindah ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren  Persis. Pada 10 November 1958, Hassan menghadap pada-Nya.
            Ahmad Sookarti, ulama asal Sudan yang juga pendiri jamiyah Al-Irsyad itu, memberi komentar tentang Ahmad Hassan, ”Sebagai seorang yang terpelajar, mempunyai tingkat tauhid yang tinggi, dan seorang pembela agama Allah yang selalu berjuang menghindarkan umat Islam dari kesesatan.”
            Sebagai manusia, Hassan punya batas usia. Ia telah tiada. Tapi semangat pemurnian Islam yang dikumandangkannya, dan ilmu yang diwariskannya, tak pernah pudar. Selain buku Soal-Jawab dan at-Tauhid yang sangat terkenal itu, Hassan juga menulis tentang Pemerintahan Cara Islam, ABC Politik, Islam dan Kebangsaan, dan Merebut Kekuasaan. Buku Soal-Jawab, misalnya, merupakan rujukan bagi persoalan hidup sehari-hari, dari masalah fiqih, akhlak, sampai Akidah.
            Selama ini, ada kesan, bahwa Hassan berperangai keras dan kritisannya tajam menghujam, seakan tidak melihat kondisi psikologis orang yang di kritiknya. Tapi, pesan itu akan sirna ketika mereka melihat Hassan dalam pergaulan hidup sehari-hari yang ternyata sangat lembut, baik ucapan maupun  gerak.

DAFTAR PUSTAKA

-Muhammad, Herry, DKK. 2006. Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh Pada Abad Ke-20. Depok. Gema Insani
           


2 komentar:

Unknown mengatakan...

mudah2an ada penerus seperti beliau. aamiin

Fairus Utami mengatakan...

Aamiin

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About