31 Oktober 2019

Waktu: Kawan atau Lawan?


Imam Al Ghazali berpesan, " yang bisa mengisinya dengan hal-hal yang baik baginya waktu menjadi kawan. Begitu juga sebaliknya, yang tidak mengisinya dengan hal-hal yang baik baginya waktu menjadi lawan."

Menjadi  kawan atau  lawan itu tergantung bagaimana dan cara kita menempatkannya, sebab seseorang akan menjadi musuh alias lawan terhadap apa apa yang tidak diketahuinya. Imam Hasan al-Banna mengungkapkan, " Al wakibat aktsaru minal auqaat... Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia." Ini bisa kita maknai sebagai inspirasi untuk lebih mendisiplinkan waktu dalam praktik.  Memulainya dari diri sendiri bukan menuntut kepada orang lain.

Waktu dibutuhkan petani untuk mengukur dan mengatur waktu tanam, pemupukan, penyemprotan hama hingga pemanenan. Dibutuhkan pelajar untuk mengetahui daya serap pelajaran. Dibutuhkan pegawai untuk pengajian. Dibutuhkan ibu dalam mengetahui persalinan. Dibutuhkan pedagang untuk menghitung keuntungan dan baliknya modal untuk break ovent point. Dibutuhkan manusia untuk menentukan jeda dengan ibadah. Dibutuhkan para sopir, masinis, dan pilot untuk memperkirakan perjalanan. Semua orang membutuhkan. Orang yang sadar waktu itulah manusia yang hidup, tak peduli waktu sama saja seperti orang mati yang perlu ditakdirkan 4 kali.

Dalam menyikapi waktu kawan atau lawan ada beberapa tipe dan karakter manusia.

Lihat juga, Cinta Dunia Takut Mati

Karakter pertama,orang yang melewati kesempatan dan merugi karena ia tidak peduli atau tidak tahu adanya kesempatan itu. Waktu adalah musuh baginya karena ketidaktahuannya. Menjadi bencana. Rugi di dunia dan akhirat. Karena momentum kebaikan tak bisa dimanfaatkan dengan baik.

Karakter kedua, semoga orang-orang yang menunggu kesempatan tidak proaktif dan cenderung menguntungkan hidupnya pada tindakan orang lain, oportunis, dan cenderung munafik. Mengambil di air keruh, mencari kesempatan Dalam kesempitan. Memang ada sih orang sukses dari cara ini sebagaimana yang terjadi pada kaum munafik di Madinah, di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Saba' yang sering memicu konflik horizontal.

Karakter ketiga, orang yang menggunakan kesempatan untuk kebaikan. Baginya setiap kesempatan adalah ladang Amal, momentum prestasi, dan wahana aktualisasi diri. Dia berkawan dengan waktu agar bisa maju dan kreatif mengisi hari dengan lembaran amal unggulan.

Lihat Juga The Power of Deadline; Batas Akhir menjadi Kekuatan

Kelompok keempat, orang yang berupaya maksimal menciptakan momentum dan kesempatan dengan berkreasi, berinovasi dan pro-aktif membuka peluang peluang amal kebaikan. Memberi ruang yang luas untuk mendesain karya. Menggali gagasan cerdas, cemerlang dan brilian untuk selalu terdepan dalam perubahan. Pikiran besarnya adalah menciptakan pekerjaan bukan mencari kerja. Merintis Jalan bukan sekedar mendompleng pada kesuksesan orang lain.

Saudaraku, Mari berkawan dengan waktu seperti Al-A'msy yang usianya mendekati 70 tahun, namun belum pernah disaksikan ketinggalan takbiratul ihram dalam salat berjamaah. Bagaimana untuk bisa seperti ini, sobat? Tentu perlu direncanakan bukan?

  1. Ketenangan adalah cara menghemat energi.
  2. Perenungan adalah cara menyerap energi.
  3. Memberi adalah cara menyalurkan energi.(Anis Matta, Tarbawi edisi 154 Th.8/2007)

Ketenangan adalah syarat utama menjadi manusia produktif.




Daftar Pustaka

Solikhin Abu Izzuddin, Deadline Your Life; Ingin Mati, Agar Hidup Lebih Berarti. Yogyakarta, 2012. Pro-U Media

0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About