Siapakah Orang Bajo?
Orang Bajo Atau Suku Bajo lazimnya dikenal sebagai orang orang laut, karena tidak seperti sebagian besar orang lainnya yang hidup di darat, mereka hidup di laut. Orang Bajo pada zaman dahulu hidup mengembara atau nomadik di lautan dengan perahu-perahu tradisional mereka yang disebut dengan leppa, namun saat ini mereka banyak bermukim di tepi-tepi pantai atau gugusan-gugusan karang. Walaupun demikian, mereka tetap membangun permukiman di atas air laut, hal itu menunjukkan kehidupan mereka masih tidak bisa dilepaskan dari laut.
Orang Bajo Atau Suku Bajo lazimnya dikenal sebagai orang orang laut, karena tidak seperti sebagian besar orang lainnya yang hidup di darat, mereka hidup di laut. Orang Bajo pada zaman dahulu hidup mengembara atau nomadik di lautan dengan perahu-perahu tradisional mereka yang disebut dengan leppa, namun saat ini mereka banyak bermukim di tepi-tepi pantai atau gugusan-gugusan karang. Walaupun demikian, mereka tetap membangun permukiman di atas air laut, hal itu menunjukkan kehidupan mereka masih tidak bisa dilepaskan dari laut.
Sesungguhnya,
sebutan “Bajo”, “Suku Bajo”, “Orang Bajo”, pada umumnya digunakan penduduk
wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut ini, yang tersebar
di berbagai wilayah. Sedangkan di wilayah Indonesia Barat, kelompok ini disebut
“Orang Bajo”, “Suku Laut”, Atau “Rakyat Laut”, sebutan yang biasa digunakan
orang Melayu di Riau dan penduduk Pulau Sumatera pada umumnya, juga di
Kepulauan Natuna, Malasia Barat, juga di Brunei Darusalam dan Filipina, mereka
biasa di sebut “Orang Bajau”, “Suku Asli”, “Sama Bajau”, “Sama Di laut”, “Bajau
Di laut”, “Orang Samal”, atau “Samal Bajo Laut”. Di wilayah Myanmar dan Thailand
mereka disebut sebagai “Orang Mawken” atau “Choa Nam”.
Sementara
itu, orang Bajo sendiri menyebut diri mereka sebagai sama atau orang
sama, dan menyebut orang lain di luar mereka sebagai bagai atau orang
bagai. Karena hidup mereka dilaut, maka sebutan sama atau orang
sama berarti menunjuk pada orang laut dan kehidupan laut, sedangkan
sebaliknya, sebutan bagai atau orang bagai menunjukkan kepada orang darat atau orang
darat. Menurut mereka, sebutan sama berarti juga orang laut, itu
dimana-mana tinggalnya adalah tetap satu suku dan sama, dalam arti mereka
sama-sama orang laut dimana pun mereka berada. Sebaliknya, sebutan bagai bagi
orang bagi orang darat juga menunjukkan bahwa orang darat bukan satu dan tidak
sama, melainkan banyak macam atau berbagai-bagai, Antara satu tempat dan tempat
lainnya di darat berbeda-beda lah orangnya.
Meskipun
orang laut disebut dengan nama yang berbeda-beda tergantung letak pada
geografis tempat mereka bermukim, namun dari sisi kebudayaan mereka mempunyai
kesamaan yang menjadi ciri khas, karakteristik yang sangat jelas adalah pola
permukiman mereka yang didirikan diatas air di pesisir pantai atau
gugusan-gugusan karang, dan mata pencaharian mereka sebagai nelayan
tradisional. Selain itu, mereka menggunakan bahas yang sama, adat istiadat
kepercayaan dan pola perilaku yang cenderung sama, yang semua itu menunjukkan
suatu kesamaan budaya. Berdasarkan kebudayaan ini, maka bisa dikatakan mereka
termasuk atau berasal dari satu rumpun yang sama.
Lihat juga Ritual Besar Orang Bajo Saat Ramadhan Akan Datang
Lihat juga Ritual Besar Orang Bajo Saat Ramadhan Akan Datang
Sebagai
orang yang hidupnya dilaut, orang Bajo
mempunyai keyakinan asli yang berasal dan terbentuk dari lingkungan hidupnya. Mereka
percaya pada penguasa laut, yang mereka sebut dengan Mbo Ma Dilao, yang
diyakini sebagai inkarnasi dari arwah nenek moyang mereka yang memiliki kekuatan
luar biasa sehingga mampu menguasai dan menjaga lautan. Namun demikian,
disamping memiliki keyakinan asli mereka sendiri, orang Bajo juga mengaku
mereka muslim. Hal ini menunjukkan Islam telah diterima orang Bajo dan menjadi
bagian dari identitas keagamaan mereka.
Lihat juga, Bisa Merasa dan Bukan Merasa Bisa
Lihat juga, Bisa Merasa dan Bukan Merasa Bisa
DAFTAR
PUSTAKA
-Baskara, Benny. Islam Bajo; Agama Orang Bajo. Banten, 2016. PT Kaurama Buana Antara
-Baskara, Benny. Islam Bajo; Agama Orang Bajo. Banten, 2016. PT Kaurama Buana Antara


0 komentar:
Posting Komentar