26 Oktober 2019

K.H. AHMAD DAHLAN SEBAGAI PEMBAHARU DARI KAUMAN


"Berbagai ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaharu dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara."


            KIAI Haji Ahmad Dahlan (Lahir di Kauman, Yogyakarta, tahun 1868), adalah putra dari K.H. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman, seorang khatib tetap di Masjid Agung Yogyakarta. Ketika lahir, Abu Bakar memberi si anaknya Muhammad Darwis.

Di usia belita, oleh kedua orang tuanya, Darwis sudah diperkenalkan dengan pendidikan agama. Yang pertama menggemblengnya pertama kali adalah ayahnya sendiri, lalu para kiai di sekitar Yogyakarta. Sebagaimana umumnya anak kiai, Darwis belajar Ilmu Agama dan Bahasa Arab. Dengan bekal Bahasa Arab da ilmu-ilmu agama yang diperolehnya di Yogyakarta itu, pada tahun 1888, Darwis menunaikan ibadah haji, sekaligus bermukim di Mekkah guna menuntut ilmu selama 4 tahun.

Di tanah air, Dahlan hanya setahun. Soalnya, pada tahun 1903 ia kembali ke Mekkah untuk masa 3 tahun, khusus mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama yang sudah ia dapatkan sebelumnya. Ia juga tercatat sebagai murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Pada periode kedua kehadiran di Mekkah ini, Ahmad Dahlan juga mempelajari pembaharuan Islam yang gencer-gencernya dilakukan oleh tokoh-tokoh pembaru seperti Jamaluddin Al-Afghani, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan juga Muhammad Rasyid Ridha yang dikenal dengan tafsir Al-Manarnya itu.

Dari tafsir al-Manar pula, gagasan-gagasan pembaru memunculkan inisiatif untuk ditumbuhkembangkan di bumi Indonesia. Pada tahun 1906 Ahmad Dahlan kembali ke Yogyakarta, dan ia menjadi guru agama di kampungnya, Kauman. Selain itu, ia juga mengajar di kweek School (Sekolah Raja) di Yogyakarta dan Opeleiding Schol voor Inlandsche Ambtenaren, sebuah sekolah untuk pegawai pribumi di Magelang.

Oleh pihak Keraton Yogyakarta, sebagai anak dari K.H.  Abu Bakar yang menjadi khatib tetap di Masjid Agung Yogyakarta, Ahmad Dahlan Juga mendapat jatah yang sama.  Ia di percaya sebagai khatib tetap di Masjid Agung. Pamornya segera terlihat karena kepiawaiannya berdakwah, berwawasan luas, dan jujur. Itu sebabnya pihak Keraton Yogyakarta memberinya gelar Khatib Amin yang punya arti sebagai yang dipercaya.

Meskipun menjadi khatib di lingkungan Masjid Kerotan, bukan berarti jiwa pembaharuannya berhenti. Ia terus-menerus memikirkan lingkungan yang dinilai masih perlu banyak diperbaiki sana-sini. Salah satunya adalah arah kiblat di masjid-masjid Yogyakarta termasuk Masjid Kerotan yang dinilainya tidak tepat, dan arena itu perlu diubah arahnya. Tapi, karena Masjid Kareton adalah yang menjadi barometer, maka arah kiblat di masjid ini yang pertama mesti dilakukan perubahan arah kiblatnya.

Tapi, Ahmad Dahlan tak mau mengubah secara mendadak. Sebagaimana pembaharu, ia lebih menekankan dialog untuk meyakinkan sasaran dakwahnya. Ia tau betul bahwa dengan cara dialog masing-masing pihak akan mendapatkan informasi dan pengatahuan baru. Dialog, dalam pandangan Ahmad Dahlan, adalah alat atau sarana untuk mencapai kebenaran.

Itulah yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan, maka pada 1898, ia mengundang para ulama dari Yogyakarta dan sekitarnya untuk mendiskusikan masalah arah kiblat shalat. Terjadi diskusi yang cukup seru, muncul pro dan kontra. Ada yang setuju, tak sedikit yang ragu. Tapi, diskusi tentang arah kiblat itu cukup menguat ke arah ide Ahmad. Meski akhir dari dialog tersebut tidak membuah kesepakatan apa-apa, tapi atmosfirnya cukup bagus, dinamis dan ada pencerahan.

Baca Juga Ahmad Hassan Menjaga Akidah Umat

Karena tak ada kata putus itulah yang akhirnya Ahmad Dahlan membawa masalah arah kiblat tersebut ke Kepala Penghulu Kerotan yang waktu itu di jabat oleh K.H. Muhammad Chalil Kamaludiningrat. Tapi pak Penghulu tidak juga memberi restu. Sementara dari hari ke hari,sesuai dengan ilmu yang diyakini kebenarannya bahwa arah kiblat salah, Ahmad Dahlan semakin gelisah. Ia merasa, sebagai orang yang tahu, mestinya arah kiblat dibetulkan. Ia akhirnya sampai pada ijtihad bahwa arah kiblat yang salah harus dibetulkan dengan cara mengubahnya, tidak batas wacana.

Itulah yang mendorong Ahmad Dahlan, suatu malam, secara diam-diam, bersama dengan beberapa pengikutnya, meluruskan kiblat dengan memberi garis putih di shaff masjid tersebut. Tentu saja tindakan ini, menurut aturan Kerotan, merupakan pelanggaran besar yang tak termaafkan. Ganjarannya pun jelas: Ahmad Dahlan diberhentikan sebagai khatib di Masjid Agung Yogyakarta.

Diberhentikan sebagai khatib di Masjid Agung tak membuat dakwahnya berhenti. Bahkan, ia semakin meluaskan wilayah dakwahnya, menyentuh ke semua komunitas, baik dari kalangan terdidik dan priyayi maupun awan. Dengan pendekatan kemoderenan ia mulai mengajar tanpa ada hijab atau Antara pemisah Antara pria dan wanita.

Ahmad Dahlan juga mulai memberi pengajian di kalangan ibu-ibu, dan membolehkan perempuan keluar rumah diluar urusan majelis taklim. Untuk ukuran di zamannya, langkah-langkah yang ditempuh Ahmad Dahlan cukup maju. Ia pun dianggap nyleneh, kritik, kecaman dan juga ancaman bermunculan. Ahmad Dahlan, oleh para pengkritiknya, sudah dianggap keluar dari batas dakwah yang berlaku saat itu. Tapi, tekat telah bulat, dan perjuangan mesti istiqomah. Ia mensikapi semua hambatan dan rintangan itu dengan penuh kesabaran.

Guna memperluas jangkauan dakwahnya itulah Ahmad Dahlan bergabung dengan organisasi yang ada. Ini terlihat misalnya, ketika pada tahun  1909, Ahmad Dahlan menjadi anggota Budi Utomo, sebuah organisasi modern yang ada waktu itu. Di kalangan Budi Utomo ini, banyak kalangan terpelajar dan priyayi bergabung. Ahmad Dahlan punya misi untuk berdakwah di kalangan mereka itu. Ternyata, para aktivis Budi Utomo banyak yang menghargai dan memberi apresiasi terhadap langkah-langkah dakwahnya.

Lihat juga Cermin Spiritual Kehidupan

Bahkan, atas dorongan pengurus Budi Utomo sendiri Ahmad Dahlan akhirnya berhasil mendirikan sekolah di Yogyakarta, tahun 1911. Sistem yang didirikannya itu menggunakan system modern, dengan memadukan pelajaran agama dan umum dalam satu paket. Tempat belajarnya menggunakan kelas, tidak surau, dan murid pria dan wanita tidak di pisah.

Sebagai pembaharu, Ahmad Dahlan tidak mau ketinggalan informasi, terutama dengan para pembaharu yang ada di Timur Tengah. Adapun akses informasi tersebut, secara intensif dilakukan oleh Jami’at Khair. Karena itu pula, Ahmad Dahlan memasuki organisasi ini, tahun 1910. Ketika Serikat Islam berdiri, Ahmad Dahlan pun ikut serta menjadi anggota.

Rupanya , dengan masuk ke Budi Utomo, Jami’at Khair, dan Sarekat Islam, dakwah yang dilakukan Ahmad Dahlan meluas, dan mendapat dari dukungan dari banyak pihak. Ide-ide pembaharuannya juga di dukung oleh kalangan modernis dan perkotaan. Maka, setelah mendapat masukan dan dukungan dari berbagai pihak, pada 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Adapun misi dakwah yang pertama dari Muhammadiyah adalah kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Ia melihat, bahwa umat Islam sudah jauh melenceng dari apa yang digariskan oleh Nabi Muhammad saw. Pada saat bersamaan, system pendidikan yang membuat mereka kembali ke jalan yang benar, masih minim jumlahnya. Karena itu, tugas Muhammadiyah, ia berdakwah dengan karya nyata.

Sebagai organisasi masyarakat yang berbasis agama, apalagi ajarannya untuk kembali pada sumber aslinya, Al-Qur’an dan Al-Hadits, ditengah-tengah masyarakat yang berpesta dengan tahayyul, bid’ah, dan khurafat, bukan kecil hambatan, rintanganya, yang mesti di hadapinya. Cobaan demi cobaan silih berganti, Tidak hanya dari lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan sosialnya.

Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup oleh pelakunya, kecuali di praktik kan. Betapa pun bagusnya suatu program, menurut Dahlan, jika tidak di praktik kan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama. Karena itu, Ahmad Dahlan  tak terlalu banyak mengelaborasikan ayat-ayat Al-Qur’an, tapi ai lebih banyak mempraktikkannya dalam amal nyata.

Praktik amal yang fenomenal ketika menerapkan apa yang tersebut dalam surah Al-Ma'un ini adalah terealisirnya rumah-rumah yang menampung anak-anak yatim dan orang-orang miskin, terjadi di zaman penjajahan. Akibat kolonialisme menjerat ekonomi rakyat, kemiskinan merajalela. Ketika zaman jepang, tahun 1942-1945, kondisi rakyat Indonesia semakin parah. Ini antara lain nampak dengan adanya institusi romusja, yang merupakan lembaga pekerja paksa untuk usaha perang Jepang di Indonesia. Akibat romusja ini, dimana banyak yang meninggal dunia, anak-anak menjadi yatim, jumlah janda terus bertambah, kemiskinan semakin melilit. Inilah yang mendorong Muhammadiyah akhirnya mendirikan Penolong Kesensaraan Oemoem di Panarukan, Jawa Timur.

Ketika menerapkan Al-Qur’an surah 26 ayat 80, yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan sakit seseorang, Muhammadiyah mendirikan balai kesehatan masyarakat atau rumah sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberikan perawatan pada masyarakat rakyat umum, bahkan yang miskin di gratis kan, juga untuk memberi penyuluhan, betapa pentingnya arti sehat. Berbagai  bentuk penyuluhan diselenggarakan, agar, masyarakat bisa hidup sehat, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Bila umat sehat, mereka akan menjadi produktif yang mamfaatnya untuk keluarga, umat dan Negara.

Al-Qur’an surah 96 ayat 1 yang menekankan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Dengan pendidikan, buta huruf diberantas. Bila umat tak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah informasi lewat tulisan tentang agama. Dari lembaga-lembaga ini muncul pula bahan bacaan dalam bentuk buku-buku, Koran, dan sejenisnya.inilah yang terjadi pada tahun 1920-1930-an. Dengan melek huruf, mereka bisa membaca, mereka bisa melihat dunia. Membaca, kata pepatah, adalah membuka jendela dunia.

Amal nyata Muhammadiyah yang di komandoi oleh Ahmad Dahlan, tak lepas dari tiga unsur diatas : rumah yatim Dan fakir miskin, rumah sakit, dan lembaga pendidikan. Dan itu terus dilakukan oleh generasi Muhammadiyah, sampai kini.

Usaha keras yang di rintis oleh Ahmad Dahlan akhirnya berbuah juga. Muhammadiyah menjadi pelopor organisasi sosial kemasyarakatan yang berbasis agama, mempunyai corak pembaharuan yang dinamis. Karena itu, persyarikatan Muhammadiyah itu, awalnya lebih diminati oleh orang-orang perkotaan dan yang berpendidikan.

Tapi, seiring dengan meluasnya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah, sampai pelosok-pelosok, Ormas Islam yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu kini tidak hanya dikenal sebagai organisasi perkotaan saja.  Dikhotomi kota dan desakan lagi relavan bagi Muhammadiyah, kini. Sebelas tahun setelah Muhammadiyah berdiri, tepat pada 23 Februari 1923, Ahmad Dahlan meninggal dunia di Kauman di Yogyakarta tempat dimana pernah dilahirkan pada tahun 1868.

Kehadiran Ahmad Dahlan di pentas dakwah Indonesia memberi warisan tidak hanya bangunan-bangunan fisik seperti panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah, tapi juga adanya sebuah sikap dialog untuk memperkecil perdebatan. Sikap dialog ini akhirnya menimbulkan sikap ramah sekaligus peka pada lingkungan sosialnya.

 Dalam sejarah hidupnya kita bisa mengetahui bahwa Ahmad Dahlan sangat terbuka untuk menerima masukan, bahkan kritik. Amal-amal nyatanya adalah hasil dari sebuah dialog-dialog yang ia lakukan dengan berbagai kalangan, tidak hanya kalangan internal Muhammadiyah atau umat Islam pada umumnya. Tapi juga dengan kalangan non Muslim. Tentu saja, dengan melakukan dialog-dialog seperti itu kesempatannya melakukan dakwah, terbuka.

Dengan keterbukaan yang diaplikasikannya melalui dialog, kita bisa menyaksikan bahwa Persyarikatan Muhammadiyah di periode awal dikenal sebagai gerakan pembaharu yang terus menerus berinovasi. Kreatifitas dan amal nyata adalah buah dari dialog tersebut. Dan ini akan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik secara individu maupun institusi.




DAFTAR PUSTAKA

-Muhammad, Herry, DKK. 2006. Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh Pada Abad Ke-20. Depok. Gema Insani

0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About