"Berbagai
ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaharu dari Timur Tengah, K.H. Ahmad
Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara."
KIAI Haji Ahmad Dahlan (Lahir di
Kauman, Yogyakarta, tahun 1868), adalah putra dari K.H. Abu Bakar bin Kiai
Sulaiman, seorang khatib tetap di Masjid Agung Yogyakarta. Ketika lahir, Abu
Bakar memberi si anaknya Muhammad Darwis.
Di
usia belita, oleh kedua orang tuanya, Darwis sudah diperkenalkan dengan
pendidikan agama. Yang pertama menggemblengnya pertama kali adalah ayahnya
sendiri, lalu para kiai di sekitar Yogyakarta. Sebagaimana umumnya anak kiai,
Darwis belajar Ilmu Agama dan Bahasa Arab. Dengan bekal Bahasa Arab da
ilmu-ilmu agama yang diperolehnya di Yogyakarta itu, pada tahun 1888, Darwis
menunaikan ibadah haji, sekaligus bermukim di Mekkah guna menuntut ilmu selama 4
tahun.
Di tanah
air, Dahlan hanya setahun. Soalnya, pada tahun 1903 ia kembali ke Mekkah untuk
masa 3 tahun, khusus mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama yang sudah ia
dapatkan sebelumnya. Ia juga tercatat sebagai murid dari Syekh Ahmad Khatib
Minangkabau. Pada periode kedua kehadiran di Mekkah ini, Ahmad Dahlan juga
mempelajari pembaharuan Islam yang gencer-gencernya dilakukan oleh tokoh-tokoh
pembaru seperti Jamaluddin Al-Afghani, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan juga
Muhammad Rasyid Ridha yang dikenal dengan tafsir Al-Manarnya itu.
Dari
tafsir al-Manar pula, gagasan-gagasan pembaru memunculkan inisiatif untuk
ditumbuhkembangkan di bumi Indonesia. Pada tahun 1906 Ahmad Dahlan kembali ke
Yogyakarta, dan ia menjadi guru agama di kampungnya, Kauman. Selain itu, ia
juga mengajar di kweek School (Sekolah Raja) di Yogyakarta dan Opeleiding
Schol voor Inlandsche Ambtenaren, sebuah sekolah untuk pegawai pribumi di
Magelang.
Oleh
pihak Keraton Yogyakarta, sebagai anak dari K.H. Abu Bakar yang menjadi khatib tetap di Masjid
Agung Yogyakarta, Ahmad Dahlan Juga mendapat jatah yang sama. Ia di percaya sebagai khatib tetap di Masjid
Agung. Pamornya segera terlihat karena kepiawaiannya berdakwah, berwawasan
luas, dan jujur. Itu sebabnya pihak Keraton Yogyakarta memberinya gelar Khatib
Amin yang punya arti sebagai yang dipercaya.
Meskipun
menjadi khatib di lingkungan Masjid Kerotan, bukan berarti jiwa pembaharuannya
berhenti. Ia terus-menerus memikirkan lingkungan yang dinilai masih perlu
banyak diperbaiki sana-sini. Salah satunya adalah arah kiblat di masjid-masjid
Yogyakarta termasuk Masjid Kerotan yang dinilainya tidak tepat, dan arena itu
perlu diubah arahnya. Tapi, karena Masjid Kareton adalah yang menjadi
barometer, maka arah kiblat di masjid ini yang pertama mesti dilakukan
perubahan arah kiblatnya.
Tapi,
Ahmad Dahlan tak mau mengubah secara mendadak. Sebagaimana pembaharu, ia lebih
menekankan dialog untuk meyakinkan sasaran dakwahnya. Ia tau betul bahwa
dengan cara dialog masing-masing pihak akan mendapatkan informasi dan
pengatahuan baru. Dialog, dalam pandangan Ahmad Dahlan, adalah alat atau sarana
untuk mencapai kebenaran.
Itulah
yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan, maka pada 1898, ia mengundang para ulama dari
Yogyakarta dan sekitarnya untuk mendiskusikan masalah arah kiblat shalat.
Terjadi diskusi yang cukup seru, muncul pro dan kontra. Ada yang setuju, tak
sedikit yang ragu. Tapi, diskusi tentang arah kiblat itu cukup menguat ke arah
ide Ahmad. Meski akhir dari dialog tersebut tidak membuah kesepakatan apa-apa,
tapi atmosfirnya cukup bagus, dinamis dan ada pencerahan.
Baca Juga Ahmad Hassan Menjaga Akidah Umat
Baca Juga Ahmad Hassan Menjaga Akidah Umat
Karena tak ada kata putus itulah yang akhirnya Ahmad Dahlan membawa masalah arah
kiblat tersebut ke Kepala Penghulu Kerotan yang waktu itu di jabat oleh K.H.
Muhammad Chalil Kamaludiningrat. Tapi pak Penghulu tidak juga memberi restu.
Sementara dari hari ke hari,sesuai dengan ilmu yang diyakini kebenarannya bahwa
arah kiblat salah, Ahmad Dahlan semakin gelisah. Ia merasa, sebagai orang yang
tahu, mestinya arah kiblat dibetulkan. Ia akhirnya sampai pada ijtihad bahwa
arah kiblat yang salah harus dibetulkan dengan cara mengubahnya, tidak batas
wacana.
Itulah
yang mendorong Ahmad Dahlan, suatu malam, secara diam-diam, bersama dengan
beberapa pengikutnya, meluruskan kiblat dengan memberi garis putih di shaff masjid tersebut. Tentu saja tindakan ini, menurut aturan Kerotan, merupakan
pelanggaran besar yang tak termaafkan. Ganjarannya pun jelas: Ahmad Dahlan
diberhentikan sebagai khatib di Masjid Agung Yogyakarta.
Diberhentikan
sebagai khatib di Masjid Agung tak membuat dakwahnya berhenti. Bahkan, ia
semakin meluaskan wilayah dakwahnya, menyentuh ke semua komunitas, baik dari
kalangan terdidik dan priyayi maupun awan. Dengan pendekatan kemoderenan ia
mulai mengajar tanpa ada hijab atau Antara pemisah Antara pria dan wanita.
Ahmad
Dahlan juga mulai memberi pengajian di kalangan ibu-ibu, dan membolehkan
perempuan keluar rumah diluar urusan majelis taklim. Untuk ukuran di zamannya,
langkah-langkah yang ditempuh Ahmad Dahlan cukup maju. Ia pun dianggap nyleneh,
kritik, kecaman dan juga ancaman bermunculan. Ahmad Dahlan, oleh para
pengkritiknya, sudah dianggap keluar dari batas dakwah yang berlaku saat itu.
Tapi, tekat telah bulat, dan perjuangan mesti istiqomah. Ia mensikapi semua
hambatan dan rintangan itu dengan penuh kesabaran.
Guna
memperluas jangkauan dakwahnya itulah Ahmad Dahlan bergabung dengan organisasi
yang ada. Ini terlihat misalnya, ketika pada tahun 1909, Ahmad Dahlan menjadi anggota Budi
Utomo, sebuah organisasi modern yang ada waktu itu. Di kalangan Budi Utomo ini,
banyak kalangan terpelajar dan priyayi bergabung. Ahmad Dahlan punya misi untuk
berdakwah di kalangan mereka itu. Ternyata, para aktivis Budi Utomo banyak yang
menghargai dan memberi apresiasi terhadap langkah-langkah dakwahnya.
Lihat juga Cermin Spiritual Kehidupan
Lihat juga Cermin Spiritual Kehidupan
Bahkan,
atas dorongan pengurus Budi Utomo sendiri Ahmad Dahlan akhirnya berhasil
mendirikan sekolah di Yogyakarta, tahun 1911. Sistem yang didirikannya itu
menggunakan system modern, dengan memadukan pelajaran agama dan umum dalam satu
paket. Tempat belajarnya menggunakan kelas, tidak surau, dan murid pria dan
wanita tidak di pisah.
Sebagai
pembaharu, Ahmad Dahlan tidak mau ketinggalan informasi, terutama dengan para
pembaharu yang ada di Timur Tengah. Adapun akses informasi tersebut, secara
intensif dilakukan oleh Jami’at Khair. Karena itu pula, Ahmad Dahlan memasuki
organisasi ini, tahun 1910. Ketika Serikat Islam berdiri, Ahmad Dahlan pun ikut
serta menjadi anggota.
Rupanya
, dengan masuk ke Budi Utomo, Jami’at Khair, dan Sarekat Islam, dakwah yang
dilakukan Ahmad Dahlan meluas, dan mendapat dari dukungan dari banyak pihak.
Ide-ide pembaharuannya juga di dukung oleh kalangan modernis dan perkotaan.
Maka, setelah mendapat masukan dan dukungan dari berbagai pihak, pada 18
November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Adapun
misi dakwah yang pertama dari Muhammadiyah adalah kembali ke Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi Muhammad saw. Ia melihat, bahwa umat Islam sudah jauh melenceng dari
apa yang digariskan oleh Nabi Muhammad saw. Pada saat bersamaan, system
pendidikan yang membuat mereka kembali ke jalan yang benar, masih minim
jumlahnya. Karena itu, tugas Muhammadiyah, ia berdakwah dengan karya nyata.
Sebagai
organisasi masyarakat yang berbasis agama, apalagi ajarannya untuk kembali pada
sumber aslinya, Al-Qur’an dan Al-Hadits, ditengah-tengah masyarakat yang
berpesta dengan tahayyul, bid’ah, dan khurafat, bukan kecil hambatan,
rintanganya, yang mesti di hadapinya. Cobaan demi cobaan silih berganti, Tidak
hanya dari lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan sosialnya.
Bagi
Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup
oleh pelakunya, kecuali di praktik kan. Betapa pun bagusnya suatu program,
menurut Dahlan, jika tidak di praktik kan, tak bakal bisa mencapai tujuan
bersama. Karena itu, Ahmad Dahlan tak
terlalu banyak mengelaborasikan ayat-ayat Al-Qur’an, tapi ai lebih banyak
mempraktikkannya dalam amal nyata.
Praktik
amal yang fenomenal ketika menerapkan apa yang tersebut dalam surah Al-Ma'un ini
adalah terealisirnya rumah-rumah yang menampung anak-anak yatim dan orang-orang
miskin, terjadi di zaman penjajahan. Akibat kolonialisme menjerat ekonomi
rakyat, kemiskinan merajalela. Ketika zaman jepang, tahun 1942-1945, kondisi
rakyat Indonesia semakin parah. Ini antara lain nampak dengan adanya institusi romusja,
yang merupakan lembaga pekerja paksa untuk usaha perang Jepang di Indonesia.
Akibat romusja ini, dimana banyak yang meninggal dunia, anak-anak menjadi
yatim, jumlah janda terus bertambah, kemiskinan semakin melilit. Inilah yang
mendorong Muhammadiyah akhirnya mendirikan Penolong Kesensaraan Oemoem di
Panarukan, Jawa Timur.
Ketika
menerapkan Al-Qur’an surah 26 ayat 80, yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan
sakit seseorang, Muhammadiyah mendirikan balai kesehatan masyarakat atau rumah
sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberikan perawatan pada masyarakat
rakyat umum, bahkan yang miskin di gratis kan, juga untuk memberi penyuluhan,
betapa pentingnya arti sehat. Berbagai
bentuk penyuluhan diselenggarakan, agar, masyarakat bisa hidup sehat,
sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Bila umat sehat, mereka akan
menjadi produktif yang mamfaatnya untuk keluarga, umat dan Negara.
Al-Qur’an
surah 96 ayat 1 yang menekankan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Dengan pendidikan, buta huruf
diberantas. Bila umat tak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah informasi
lewat tulisan tentang agama. Dari lembaga-lembaga ini muncul pula bahan bacaan
dalam bentuk buku-buku, Koran, dan sejenisnya.inilah yang terjadi pada tahun
1920-1930-an. Dengan melek huruf, mereka bisa membaca, mereka bisa melihat dunia.
Membaca, kata pepatah, adalah membuka jendela dunia.
Amal
nyata Muhammadiyah yang di komandoi oleh Ahmad Dahlan, tak lepas dari tiga
unsur diatas : rumah yatim Dan fakir miskin, rumah sakit, dan lembaga
pendidikan. Dan itu terus dilakukan oleh generasi Muhammadiyah, sampai kini.
Usaha
keras yang di rintis oleh Ahmad Dahlan akhirnya berbuah juga. Muhammadiyah
menjadi pelopor organisasi sosial kemasyarakatan yang berbasis agama,
mempunyai corak pembaharuan yang dinamis. Karena itu, persyarikatan
Muhammadiyah itu, awalnya lebih diminati oleh orang-orang perkotaan dan yang
berpendidikan.
Tapi,
seiring dengan meluasnya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah,
sampai pelosok-pelosok, Ormas Islam yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu kini
tidak hanya dikenal sebagai organisasi perkotaan saja. Dikhotomi kota dan desakan lagi relavan bagi
Muhammadiyah, kini. Sebelas tahun setelah Muhammadiyah berdiri, tepat pada 23
Februari 1923, Ahmad Dahlan meninggal dunia di Kauman di Yogyakarta tempat
dimana pernah dilahirkan pada tahun 1868.
Kehadiran
Ahmad Dahlan di pentas dakwah Indonesia memberi warisan tidak hanya
bangunan-bangunan fisik seperti panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah, tapi
juga adanya sebuah sikap dialog untuk memperkecil perdebatan. Sikap dialog ini
akhirnya menimbulkan sikap ramah sekaligus peka pada lingkungan sosialnya.
Dalam sejarah hidupnya kita bisa mengetahui bahwa Ahmad Dahlan sangat terbuka untuk menerima masukan, bahkan kritik. Amal-amal nyatanya adalah hasil dari sebuah dialog-dialog yang ia lakukan dengan berbagai kalangan, tidak hanya kalangan internal Muhammadiyah atau umat Islam pada umumnya. Tapi juga dengan kalangan non Muslim. Tentu saja, dengan melakukan dialog-dialog seperti itu kesempatannya melakukan dakwah, terbuka.
Dalam sejarah hidupnya kita bisa mengetahui bahwa Ahmad Dahlan sangat terbuka untuk menerima masukan, bahkan kritik. Amal-amal nyatanya adalah hasil dari sebuah dialog-dialog yang ia lakukan dengan berbagai kalangan, tidak hanya kalangan internal Muhammadiyah atau umat Islam pada umumnya. Tapi juga dengan kalangan non Muslim. Tentu saja, dengan melakukan dialog-dialog seperti itu kesempatannya melakukan dakwah, terbuka.
Dengan
keterbukaan yang diaplikasikannya melalui dialog, kita bisa menyaksikan bahwa
Persyarikatan Muhammadiyah di periode awal dikenal sebagai gerakan pembaharu
yang terus menerus berinovasi. Kreatifitas dan amal nyata adalah buah dari
dialog tersebut. Dan ini akan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik secara
individu maupun institusi.
-Muhammad, Herry, DKK. 2006. Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh Pada Abad Ke-20. Depok. Gema Insani


0 komentar:
Posting Komentar