Disebut perang Gatafan karena perang ini terjadi di sebuah desa bernama Gatafan, perang ini terjadi pada bulan Rabiulawwal 3 Hijriyah.
1. Sebab-sebab Terjadinya Perang Gatafan
Perang ini dimulai ketika Rasulullah Saw. mendengar berita bahwa Kabilah Bani Muharib dan Bani Sa'labah bersatu mengumpulkan kekuatan untuk memerangi kaum muslimin di Madinah. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Da'sur bin Al-Haris Al-Gatafani dari Bani Muharib yang berasal dari desa Gatafan. Rasulullah Saw. pun kemudian menghimpun pasukannya hingga berjumlah 450 orang menuju Bani Muharib dan Bani Sa'labah.
2. Terjadinya Perang Gatafan
Kedatangan Rasulullah Saw. dan pasukannya tentu saja membuat Da'sur dan penduduknya ketakutan. Mereka telah mendengar bagaimana Rasulullah Saw. dan pasukannya mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang besar dan dengan persenjataan yang lengkap. Mereka pun tidak mau ambil resiko. Mereka kemudian membuat keputusan untuk pergi meninggalkan tempat tinggal mereka. Mereka akhirnya lari ke puncak-puncak gunung yang berada di sekitarnya.
Pada saat sampai di sebuah dusun yang bernama Zi Amara, Rasulullah Saw. dan pasukannya disambut dengan hujan yang cukup lebat. Saat hujan reda, beliau menjemur pakaiannya di bawah pohon sambil berbaring untuk beristirahat melepas lelah. Saat itu beliau sengaja menyendiri agak berjauhan dengan pasukannya.
Rupanya ada beberapa orang dari Bani Muharib dan Bani Sa'labah yang tidak lari ke gunung. Mereka memata-matai keadaan Rasulullah Saw. dan pasukannya. Dengan segera mereka menemui Da'sur dan memintanya agar mendatangi Rasulullah Saw. dan membunuhnya. Da'sur pun setuju untuk melakukannya karena memang dari awal ia sangat membenci Rasulullah Saw.
Dengan cara mengendap-ngendap dan menyamarkan penampilannya, Da'sur mendekat ke tempat di mana Rasulullah Saw, sedang berbaring di bawah sebuah pohon. Tanpa ada suara, Da'sur menghunus pedangnya sambil bergerak di belakang Rasulullah Saw. Setelah berada sangat dekat dengan Rasulullah Saw. Da'sur pun meletakkan pedangnya di atas kepala Rasulullah Saw. sambil berkata, "Siapa yang akan melindungimu dari aku, hai Muhammad?"
Rasulullah Saw. tidak terlihat kaget atau panik. Beliau dengan tenang dan penuh keyakinan menjawab, "Allah." Mendengar hal itu, tiba-tiba saja tubuh Da'sur bergetar. Tangannya tak mampu lagi menggenggam pedangnya yang ia hunuskan ke kepala Rasulullah Saw. hingga pedang itu pun jatuh ke tanah.
Rasulullah Saw. mengambil pedang itu dan kini giliran beliau yang menghunus pedang dan mengarahkannya ke kepala Da'sur. "Sekarang siapa yang akan melindungimu dari aku?" Tanya Rasulullah saw. Dengan suara gemetar dan ketakutan, Da'sur pun menjawab, "Tidak ada seorang pun." Peristiwa itu membuat Da'sur sadar bahwa Muhammad memang seorang Rasul Allah yang mulia. Tanpa ragu, Da'sur pun kemudian bersyahadat dan beriman kepada Allah serta Rasul-Nya. Rasulullah Saw. memaafkan sikap Da'sur tersebut. Akhirnya Da'sur pun kembali kepada kaumnya dan menyeru Hindun agar mengikuti agama yang telah dibawa oleh Rasulullah saw.
3. Mengambil Ibrah dari Peristiwa Perang Gatafan
Dari peristiwa perang ghathafan, kita dapat mengambil beberapa ibrah diantaranya sebagai berikut:
• Kekuatan Rasulullah Saw dan pasukannya yang dilandasi keimanan disegani oleh musuh.
• Keyakinan terhadap Allah yang kuat dapat menjadi perisai bagi diri seseorang.
• Sikap Memaafkan yang dapat menarik simpati orang lain.
Terimakasih sudah membaca sampai selesai, semoga menjadi penambah ilmu dan memperluas wawasan kita tentang sejarah Islam.
Lihat juga:
Lihat juga:
Sumber referensi: Syurfah, Ariany. (2016). Mari Belajar Tarikh Islam. Bandung: CV. Rizqi Bandung.


0 komentar:
Posting Komentar