21 November 2019

MENGELOLA SAMPAH DI TAMAN EDAN

 Membludaknya sampah begitu memprihatinkan. Bukannya menyusut, dari hari ke hari sampah justu makin menggunung. Tak hanya volume yang meningkat, namun jenisnya pun semakin beragam. Jenis sampah hari ini semakin beragam jika dibandingkan dua dekade lalu. Padahal, di antara sampah-sampah tersebut, ada yang tak dikelola dengan baik.

   Kompas, 7 Maret 2014, mencatat jumlah sampah nasional sebanyak 200.000 ton per hari. Perkiraan jumlah timbunan sampah perkotaan di Indonesia 38,5 juta ton per tahun dengan laju Peningkatan 2-4% per tahun. Sampah tersebut berasal dari rumah tangga 48%; pasar tradisional 24%; kawasan komersial 9%; dan fasilitas umum, sekolah, kantor, dan jalan sebanyak 19%. Berdasarkan survei, setiap orang menghasilkan 0,8-1,5 kg sampah dalam setiap harinya. 60% organik (sisa makanan / tumbuh-tumbuhan) 17% logam, karet, kain, dan perca; 9% kertas; dan 14% plastik. Sementara itu, pengelolaan sampah. yang dilakukan adalah 68% diangkut dan ditimbun, 9% dikubur, 6% diolah menjadi kompos daur ulang, 5% dibakar, dan 7% tak terkelola.

   Sebagai perbandingan, kota Malang dengan penduduk 895.338 jiwa, dan ditambah penghuni yang tak tercatat sekitar 250.000 jiwa menghasilkan sampah 607,44 ton per hari. Dari jumlah itu, tak kurang dari 412,98 ton sampah masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan komposisi 65% sampah organik; 6,2% kertas; 15,7% plastik; 0,6% kaca; 0,2% logam; dan 3% kain (bdk. Kompas, 14 Maret 2014).

   Data-data yang mencerminkan masyarakat Indonesia secara umum menghasilkan sampah yang  tak sedikit dan belum bisa mengelola sampahnya dengan baik. Padahal sampah yang semakin menggunung dan tak terkelola dengan baik, terutama sampah anorganik, berpotensi merusak ekosistem. Manusia pun tak luput dari ancaman itu.

   Mengabaikan pengelolaan sampah merupakan bentuk kesalahan cara pandang manusia terhadap alam ini. Menurut Alexander Sonny Keraf (2010: 79) kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang memiliki nilai dan berharga pada dirinya sendiri, sedangkan alam dan segala isinya yang lain hanya sekedar sarana atau alat untuk memenuhi kepentingan manusia.

   Bahkan dalam kenyataannya, tak hanya itu. Manusia satu terhadap manusia lainnya pun tidak saling menghormati sebagai sesama manusia yang sama-sama memiliki nilai. Membuang sampah sembarangan dan berpotensi menyulitkan hidup tetangga rumah, tetangga kampung, atau pun tetangga wilayah, kerap terjadi. Kebiasaan membuang sampah dengan semangat Not in My Back Yard (NIMBY) adalah contoh nyata manusia yang tak menghargai sesamanya. Bencana banjir memperlihatkan bahwa sampah yang dibuang masyarakat di aliran sungai bagian atas menyengsarakan masyarakat yang tinggal di daerah bagian bawah. Sampah seperti itu pulalah yang memperparah banjir di Jakarta.

   Di Indonesia, telah terbit Udang-undang Nomor 18, Tahun 2008, tentang Pengelolaan Sampah yang mengharuskan masyarakat melakukan pengurangan sampah dan mengusahakan pengelolaan sampah di tingkat individu ataupun komunitas, jadi bukan bersifat sukarela. Namun, pada kenyataannya sangat sulit menerapkan hal itu, mengingat penegakan dan pemberian sanksi terhadap pelanggar tidak berjalan dengan baik dan semestinya.

   Di samping kesalahan filosofis dan cara pandang terhadap alam, Alexander Sonny Keraf (2010:78) menuliskan faktor-faktor yang menjadi akar dari krisis dan bencana lingkungan global, yakni faktor paradigma pembangunan dan kebijakan permerintah, faktor kemajuan peradaban manusia berupa modernisasi, faktor buruknya tata kelola pemerintahan, faktor desentralisasi dan liberalisasi politik yang berkembang di Indonesia, faktor lemahnya komitmen moral, dan faktor lemahnya penegakan hukum. Permasalahan sampah yang tak pernah selesai pun, tak lepas dari faktor-faktor tersebut.

   Menurut penulis, yang terpenting adalah memperbaharui cara pandang manusia terhadap alam, Menurut memperbarui alam, dari cara pandang antroposentrisme menjadi biosentrisme atau biotisme, dan bahkan menjadi eko-sentrisme. Karena pada prinsipnya, manusia itulah yang akan menjadi penentu dalam 'cara berada' di alam semesta ini, entah di pemerintahan, masyarakat sipil, maupun dunia usaha (pasar). 

   Jika biosentrisme mendasarkan bahwa tidak hanya manusia yang mempunyai nilai pada dirinya sendiri, namun juga alam dan semua makhluk hidup lainnya, maka ekosentrisme akan menukik pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak. Dalam konteks ekologis, antara makhluk hidup (biotik) dan benda abiotik, selalu terjalin hubungan yang saling memengaruhi, maka konsep ekosentrisme tak hanya memperhatikan makhluk hidup. 

   Manusia berada dalam sebuah komunitas kehidupan. Ia menjadi salah satu entitas warga kehidupan yang berada bersama makhluk hidup maupun benda abiotik/tak hidup lainnya. Maka, 'cara berada' manusia juga memengaruhi kondisi yang ada dalam komunitas kehidupan itu sendiri.

   Meminjam narasi Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian, terlihat bahwa manusia lekat dengan keserakahan. Setelah mencipta alam semesta yang sungguh amat baik (Kej. 1:31), selanjutnya TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kcj. 2:15), disertai dengan perintah dan larangan-Nya. Namun pada kenyataannya, manusia lebih menunjukkan kerakusannya, memakan buah larangan. Semestinya, manusia menjaga Taman Eden dengan tidak melanggar larangan-Nya.

   Hal itu juga masih berlangsung hingga hari ini Manusia cenderung merusak alam, dalam hal ini manusia lebih suka membuang/memproduksi sampah secara tak bertanggung jawab. Bukannya mengurangi manusia entah yang berada dalam masyarakat sipil pclaku usaha, bahkan pemerintah sekalipun, cenderung terlibat dalam perusakan bumi dengan "memproduksi sampah" secara tidak bertanggung jawab.

   Tak hanya merusak lingkungan hidup, sampah nyata-nyata mengancam kehidupan manusia. Berbagai penyakit mengintai manusia secara langsung. Sampah juga berdampak pada turunnya kualitas lingkungan hidup yang menjadi sandaran hidup, tak hanya manusia, namun juga makhluk hidup lainnya. Sungai- sungai kotor dan tercemar logam berat, sehingga ikan-ikan keracunan, mati, dan punah. Turunnya daya dukung alam akibat sampah, juga menurunkan kualitas kehidupan manusia.

   Dalam kondisi itu, manusia dipanggil kembali untuk menjadi penjaga Taman Eden. Manusia, kita semua, adalah salah satu warga dalam Taman Eden itu. Tak hidup sendiri, tak hanya sebagai makhluk sosial yang bergaul dengan sesama manusia, namun juga makhluk ekologis yang hidup dan bereaksi timbal balik dengan alam lingkungan dan menggantungkan hidupnya pada alam lingkungan.

   Dalam hal itu, tak ada yang lain, manusia harus meruntuhkan egonya yang meyakini bahwa dirinya sebagai pusat dari alam semesta dan satu-satunya makhluk yang bernilai. Kalaupun tidak menganut biotisme, menurut Emil Salim, minimal kita harus anut paham humanisme, menghentikan krisis lingkungan yang menjadikan manusia sebagai korbannya. Semangat humanisme ini mendorong manusia untuk berbuat (Alcxander Sonny Keraf (2010:8).

   Bersamaan dengan itu, menjaga alam adalah juga memperjuangkan keadilan kehidupan untuk generasi yang akan datang. Tak hanya membangun keadilan saat ini, keadilan masa depan pun harus diwujudkan. Jika kita masih merasakan segarnya air hari ini, keturunan kita kelak pun harus tetap bisa menikmati seperti yang kita nikmati saat ini.

   Jangan sampai sampah-sampah kita mengancam kehidupan tetangga-tetangga kita, lingkungan alam kila, bahkan generasi yang akan datang.


Daftar Pustaka
  1. - Tristanto, Lukas Awi. (2016). Hidup Dalam Realitas Alam : Sketsa-sketsa Ekoinspirasi. Yogyakarta : Penerbit PT Kanisius.

0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About