16 November 2019

MENIKAH DENGAN DUA DIRHAM



Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan pernah meminang Putri seorang ulama besar, Sa'id bin Al-Musayyib untuk dinikahkan dengan putranya Walid bin Abdul Malik.

Putri Sa'id bin Al-Musayyib adalah seorang wanita yang cantik dan sempurna, paling mengerti tentang Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah. Namun, Sa'id bin Al-Musayyib tidak ragu untuk menolaknya, meskipun Amirul mukminin terus mendesaknya, bahkan menyakitinya dengan menjatuhkan hukuman  seratus kali cambukan. Karena Sa'id bin Al-Musayyib tahu bahwa akhlak Walid bin Abdul Malik itu kurang baik. Lihat Emosi Cinta

Adalah Abdullah bin Abi Wada'ah (juga disebut dengan Katsir bin Abi Wada'ah) adalah seorang muridnya. Sa'id bin Al-Musayyib bertanya tentang keadaannya, ia imgin mengetahui tentang sebab apa kematian istri Abdullah bin Abi Wada'ah.

Sa'id bin Al-Musayyib bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak menikah lagi?" Abdullah bin Abi wada'ah menjawab, "Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepadamu, siapakah yang sudi menikahkan aku, aku hanya memiliki dua atau tiga dirham saja." Lihat Motivasi Cinta

Sa'id bin Al-Musayyib berkata kepadanya, "Aku yang akan menikahkan mu." Abdullah bin Abi Wada'ah bertanya, "Apakah engkau benar-benar akan melakukan itu?" Sa'id bin Al-Musayyib menjawab, "Ya." Akhirnya, Sa'id bin Al-Musayyib menikahkan putrinya dengan Abdullah bin Abi Wada'ah dengan mahar dua dirham.

Demikianlah, Sa'id bin Al-Musayyib lebih memilih seorang yang fakir tapi bertaqwa, yang memiliki kemampuan dalam agama, dari pada putra raja yang kaya raya, tapi akhlak anaknya kurang baik. Tidak cukup hanya sampai di situ saja, bahkan Sa'id bin Al-Musayyib juga merasa tenang dan percaya akan keagamaan Abdullah bin Abi Wada'ah yang miskin itu.

Abdullah bin Abi Wada'ah bercerita, "Aku pun bangkit, Aku tidak tahu apa yang mesti aku lakukan, karena aku sangat bahagia. Aku segera kembali ke rumahku, aku berpikir, dari mana aku bisa mendapatkan uang, dari siapa aku bisa mendapatkan pinjaman? Maka, aku laksanakan shalat Magrib, kemudian aku kembali ke rumahku, aku nyalakan lampu, siang hari itu aku berpuasa, aku siapkan makanan untuk makan malam, hanya ada roti dan minyak."

Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu. Aku bertanya, "Siapakah itu?" Ia menjawab, "Sa'id." Aku berpikir tentang semua orang yang bernama Sa'id, kecuali Said bin Al-Musayyib. Karena selama 40 tahun yang dilihat dari dirinya hanyalah berjalan dari rumahnya ke masjid. Maka, aku keluar menemuinya, ternyata Ia adalah Sa'id bin Al-Musayyib. Aku menyangka dia telah berubah pikiran. Anak Panah Syetan

Aku berkata kepadanya, "Wahai Abu Muhammad, andai engkau mengirim pesan kepada aku, tentulah aku yang datang kepadamu." Sa'id Al-Musayyib menjawab, "Tidak, engkaulah yang lebih layak untuk didatangi." Aku katakan, "apa yang ingin engkau perintahkan." Sa'id bin Al-Musayyib berkata, "Dulu engkau seorang pemuda, kemudian engkau menikah. Aku tidak ingin engkau tidur sendirian malam ini. Ini adalah istrimu. Putri Said bin Al-Musayyib berdiri di belakangnya.

Kemudian Said bin Al-Musayyib menarik tangan putrinya ke pintu, kemudian menyerahkannya kepada Abdullah bin Abi Wada'ah. Putri Sa'id merasa malu. Abdullah bin Abi wada'ah melanjutkan kisahnya, "Kemudian aku menutup pintu, lalu aku menghadap ke piring yang di dalamnya hanya ada roti dan minyak. Kemudian aku letakkan di bawah lampu agar putri Sa'id tidak melihatnya. Kemudian aku naik ke atas rumah, aku beritahukan kepada para tetangga, mereka datang ke rumahku.

Mereka bertanya, "Ada apa denganmu?" Sa'id bin Al-Musayyib telah menikahkan putrinya dengan ku hari ini. Ia membawanya malam ini secara mendadak."

Abdullah bin Abi Wada'ah berkata, "Ternyata Ia seorang wanita yang sangat cantik, hafal Al-Qur'an, paling mengerti sunnah dan paling mengerti hak suami. Satu bulan lamanya Sa'id bin Al-Musayyib tidak datang menemuiku, aku juga tidak datang menemuinya. Setelah satu bulan lamanya, aku datang menemuinya di majelis pengajiannya, aku ucapkan salam kepadanya, Ia membalas salamku. Ia tidak berbicara kepadaku hingga majelisnya bubar.

Kemudian ia bertanya, "Bagaimana kabarnya?" Aku jawab, "Baik wahai Abu Muhammad, sama seperti yang disukai teman dan tidak disukai musuh. "Kemudian Sa'id bin Al-Musayyib berkata, "Jika ada suatu perkara yang meragukanmu, maka itu menjadi hakmu." Kemudian aku kembali ke rumahku. Said bin Al-Musayyib memberikan dua puluh ribu dirham kepadaku.





Daftar Pustaka
-Syaikh Mahmud Al-Mishri. 2011. Semua Ada Saatnya. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar


0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About