POTENSI DAN PROFESI MASYARAKAT KEPULAUAN MADURA
1. Pulau Sapudi
Nelayan di Pulau Sapudi umumnya menggunakan alat tangkap Sambalangan serta pancing olor dan Prawe. Sambalangan atau lebih dikenal dengan sebutan pancing tonda digunakan untuk berpartisipasi ikan cakalang / tongkol dan tengiri. Sungguh sambalangan diaperasikan miliknya dengan pancing olor oleh nelayan yang sambil naik pancing menarik-narik pancing olor dengan ritmik. Jika sambalangan dalam 1 unitnya (gulung) berisi pancing 15-25 mata pancing maka untuk pancing olor hanya berisi satu mata pancing. Umpan benang-sutera yang menjadi umpan buatan dilakukan setiap akan berangkat melaut tetapi tergantung juga pada umpan buatannya, jika masih bagus maka tidak diganti. Sekali perbaikan satu unit sambalangan membutuhkan biaya sebesar Rp. 5000.
Jenis Perahu yang digunakan untuk sambalangan adalah kapal kapalan dan ethek. Tipe kapal-kapalan memiliki konstruksi mirip kapal tempur (sangat ramping), berbeda dengan lethek yang mirip dengan ijo-ijo Jenis kapal-kapalan pasti digunakan untuk sambalangan namun untuk jenis lethek selain digunakan untuk sambalangan ada juga yang digunakan untuk prawe. Kisaran ronnage 1-3 ton. Beberapa pemancing sambalangan di Pulau Sapudi menerima pekerjaan sebagai pemancing pada awalnya mereka melakukan hanya sebagai pekerjaan sampingan mengingat mereka sebenarnya adalah pegawai negeri seperti guru, pegawai Kecamatan, Polisi dll.
Orang Bajo Suku Pengembara Laut
Nelayan sambalangan pada umumnya bekerja harian. Ini berbeda dengan nelayan yang bekerja sebagian besar dengan cara ngeboks. Nelayan biasanya bekerja di sekitar Kepulauan Kangean dan Masa Lembu, biasanya selama 7 hari per perjalanan. Sebelum melaut / menuju Fishing ground, para nelayan harus pergi ke Jangkar (Situbondo) terlebih dahulu untuk membeli Es balok. Perjalanan menuju Jangkar sekitar 8-12 jam, sekitar 20-24 jam dan sekitar 150 liter solar mereka terbuang hanya untuk membeli es. Seringkali masyarakat nelayan khusunya bekerja prawe berharap di Sapudi ada Pabrik yang mampu menyuplai kebutuhan mereka. Dalam satu perjalanan mereka membutuhkan kurang dari 30 balok, dengan harga Rp. 4000, - / balok di Jangkar. Seandainya di Sapudi tersedia untuk dibeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga jangkar.
Hasil untuk memilih pembeli di Pulau Sapudi adalah jenis ikan kerapu, kakap merah, dan putihan dll. Hasil tangkapan ini dijual ke Jawa (Jangkar) karena di Sapudi juga belum terlalu banyak ikan.
Ritual-ritual Yang Biasa Dilakukan Orang Bajo
Saat musim paceklik para nelayan prawe ini ada yang bekerja harian dengan mengambil lokasi tangkap di sekitar Sapudi. Selain itu ada juga yang bertani dan menyiapkan ternak sapi dan kambing. Perlu diketahui di sini bahwa Pulau Sapudi memiliki produk unggulan berupa sapi yang setiap bulan dilempar ke Jawa dan Bali. Salah satu yang terkenal sejak lama di Pulau Sapudi ini adalah tentang manajemen pengelolaan sapi hingga pulau ratunya sapi Madura ada di Pulau Sapudi ini terkait dengan pengiriman sapi yang berasal dari pulau ini. Ratusan sapi yang dikirim dalam setiap periode pengirimannya yang dikirim dari pulau ini. Pertanyaan tentang manejemen yang perlu kita bahas dalam usaha ini.
Daftar Pustaka
• Faqih, Abdurrahem. Prospek Pengembangan Potensi Sumberdaya Kelautan Madura Kepulauan. Malang, 2014. UB Press


0 komentar:
Posting Komentar