Masalahnya adalah jika kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya, dan bahkan tidak bisa menyukai diri kita, maka kita mulai mencari topeng, ada sesuatu alternatif yang akan membuat kita merasa nyaman dengannya. Misalkan koleksi barang bermerek. Ada orang-orang yang menjadikan barang-barang branded itu sebagai simbol statusnya. Seorang pemilik handphone Vertu, handphone fashion yang harganya bisa sampai ratusan juta, di saat ditanya mengapa dia punya HP mahal seperti itu, ia menjawab, "Ya gimana ya, barang kayak gini kan jarang, limited, jadi kalau kita punya, wah kesannya sih keren. Kita merasa hebat dan berharga karena barangnya berharga!" Bagi orang ini, berharga dan aksesori menentukan identitasnya!
Ada seorang yang bangga menjadi pemilik mobil BMW misalkan. Setelah dia dapat tempat parkir, dia sedang keluar dari mobilnya dan tiba-tiba ada mobil lain dari belakang datang dengan kecepatan sangat tinggi menabrak dan menghancurkan pintu mobilnya bersama dengan keseluruhan lengannya! Saat polisi datang untuk memeriksa kecelakaan, mereka melihat pria ini berteriak dengan histeris sambil memandang mobilnya itu, "Ya ampun, mobil saya! Mobil saya! Hancur!" Seorang polisi menyapanya, "Maaf bapak, apa bapak tidak sadar bahwa sudah kehilangan lengan?" Saat ia melihat bahwa memang tangannya sudah tidak ada, ia berteriak, "Ya ampun, di mana jam tangan Rolex saya?" Kita bisa menjadi begitu terobsesi dengan yang tidak penting sehingga kita kehilangan fokus dan prioritas! Dan akhirnya itulah yang menjadi kacamata gelap yang mewarnai pandangan dan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap sesama.
Baca juga: Belajar dari Keledai, Sebuah Inspirasi Kehidupan
Baca juga: Belajar dari Keledai, Sebuah Inspirasi Kehidupan
Jadi mengapa kita harus sungguh-sungguh menyukai dan mengasihi diri sendiri apa adanya? Karena kita begitu disuka dan dikasihi Tuhan apa adanya. Bagi Dia kita lebih penting dari segalanya dan kita sangat berharga di mata-Nya.


0 komentar:
Posting Komentar