●Pengertian Pembangunan Masyarakat
Secara Bahasa, terdiri dari dua kata Pembangunan dan Masyarakat. Pembangunan ialah Perubahan - Perubahan ke arah yang lebih baik. Masyarakat ialah Sekelompok orang yang hidup bersama di suatu tempat dan saling berinteraksi satu sama lain.
Secara Istilah, Pembangunan Masyarakat adalah suatu kegerakkan yang direncanakan untuk peningkatan taraf kehidupan dari seluruh anggota masyarakat melalui partisipasi aktif dan dari inisiatif dari komunitas yang bersangkutan.
Menurut para Ahli, Pembangunan Masyarakat adalah :.
- Arthur Dunham (1958:3), usaha-usaha yang terorganisir untuk memperbaiki kondisi dari suatu kehidupan komunitas, dan yang memperbaiki kapasitas bagi integrasi dan arah tujuan diri dari komunitas yang bersangkutan. Upaya utama dari Pembangunan Masyarakat adalah bekerja melalui pendataan dan pengorganisasian secara mandiri dan usaha-usaha kerjasama dari pihak penduduk dari komunitas yang bersangkutan, tetapi juga mendapat bantuan secara teknis dari pemerintah atau lembaga sukarela.
- Christensen dan Robinson (1980) dalam Nasdian (2014: 32) bahwa pembangunan masyarakat (community development) merupakan suatu kelompok masyarakat yang bekerjasama didalam suatu posisi komunitas yang memiliki daya untuk mengambil keputusan bersama untuk menginisiasi suatu proses untuk mengubah ekonomi, sosial, budaya atau situasi lingkungan mereka.
- Luz. A. Einsiedel (1968:7) pada tahun 1960 dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang makna Pembangunan masyarakat (Community Development) telah teruji keotentikannya untuk menjelaskan esensi dari pembangunan itu sendiri. Pembangunan masyarakat (community development) didefinisikan Pembangunan Masyarakat adalah suatu proses dimana segala upaya dari masyarakat setempat disatukan dengan dari kelembagaan-kelembagaan yang berotoritas dari pemerintah untuk meningkatkan sektor ekonomi, sosial dan budaya dari kondisi masyarakat, untuk mengintergrasikan komunitas tersebut dengan kehidupan bangsa, dan memampukan mereka untuk berkontribusi secarah penuh pada kemajuan bangsa.
●Teori-Teori Pembangunan
A. Teori Modernisasi
Dalam seiringnya perjalanan waktu, tampak bahwa negara-negara industri semakin kaya, sedangkan negara-negara pertanian semakin tertinggal(miskin). Melihat keadaan ini maka terdapat kelompok teori dalam melihat kemiskinan: (1) Bahwa kemiskinan besarasal dari faktor-faktor internal atau faktor yang terdapat di dalam negeri negara bersangkutan. Teori kelompok pertama ini dikenal dengan nama Teori Modernisasi. (2) Teori-teori yang lebih banyak mempersoalkan faktor-faktor eksternal penyebab kemiskinan di lihat sebagai bekerjanya kekuatan-kekuatan luar disebut kelompok Teori Struktural.
Teori-teori pilihan yang termasuk dalam teori Modernisasi :
1. Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi
Teori Harrod-Domar merupakan salah satu teori yang terus dipakai dan terus dikemabangkan. Teori ini dicetuskan oleh Evsey Domar dan Roy Harrod, yang bekerja terpisah namun menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Jika tabungan dan investasi masyarakat rendah, maka pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga rendah. Hal ini bisa dijumpai pada negara maju dan berkembang, masyarakat di negara maju merupakan masyarakat yang memiliki investasi yang tinggi yang diwujudkan dalam saham, danareksa, indeks, dan bentuk investasi yang lain.
2. Max Weber: Etika Protestan
Teori Weber tertarik untuk membahas masalah manusia yang dibentuk oleh budaya di sekitarnya, khususnya agama. Weber tertarik untuk mengkaji pengaruh agama, pada saat itu adalah protestanisme yang mempengaruhi munculnya kapitalisme modern di Eropa. Pertanyaan yang diajukan oleh Weber adalah mengapa beberapa negara di Eropa dan Eropa mengalami kemajuan yang pesat di bawah system kapitalisme. Setelah itu, Weber melakukan analisis dan mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebabnya adalah Etika Protestan. Kepercayaan atau etika protestan menyatakan bahwa hal yang menentukan apakah mereka masuk surge atau masuki neraka adalah keberhasilan kerjanya selama di dunia.
3. David McClelland: Dorongan Berprestasi
Pertanyaan besar yang dimunculkan oleh McClelland adalah apakah yang menyebabkan kemiskinan dan keterbelakangan pada banyak masyarakat di dunia. McClelland sangat terpengaruh oleh pandangan Weber dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang memandang bahwa semangat kapitalisme sangat dipengaruhi oleh nilai individual yang dimiliki oleh seseorang. Dasar ini menajdi sangat penting dalam pengembangan teorinya tentang dorongan berprestasi. McClelland berpendapat bahwa pada dasarnya jika sebuah masyarakat menginginkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka yang perlu diubah adalah dorongan berprestasi individu yang ada dalam masyarakat.
4. W.W. Rostow: Lima Tahap Pembangunan
Perhatian terhadap pembangunan yang dilakukan Rostow adalah pengkajian terhadap proses pembangunan, dimana Rostow menjabarkan menjadi Lima Tahap Pembangunan, yaitu:
a. Masyarakat Tradisional
b. Prakondisi untuk Lepas Landas
c. Lepas Landas
d. Bergerak ke Kedewasaan
e. Jaman Konsumsi Masal yang Tinggi
5. Bert F. Hoselitz: Faktor-faktor Non-ekonomi
Hoselitz mengkaji faktor-faktor non-ekonomi yang tidak dikaji oleh Rostow. Faktor tersebut sebagai factor kondisi lingkungan yang penting dalam proses pembangunan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa factor ekonomi sangat penting dalam proses pembangunan, namun factor kondisi lingkungan seperti perubahan kelembagaan yang terjadi dalam masyarakat sehingga dapat mempersiapkan kondisi yang mendukung untuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Faktor non ekonomis yang penting antara lain pemasokan tenaga ahli dan terampil.
6. Inkeles-Smith: Manusia Modern
Inkeles dan Smith juga mengkaji tentang pentingnya faktior manusia sebagai factor penting dalam penopang pembangunan. Pembangunan bukan sekedar masalah pemasokan modal dan teknologi saja. Aspek manusia penting sekali sebagai pelaksana teknologi atau pelaku utama proses pembangunan yang berlangsung. Maka Inkeles dan Smith kemudian memberikan ciri-ciri manusia modern, antara lain: keterbukaan terhadap terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi pada masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa menguasai alam.
●Faktor-Faktor/Indikator Yang Mempengaruhi Pembangunan Masyarakat
Factor – Faktor yang mempengaruhi pembangunan masyarakat tentunya banyak sekali dan berbeda-beda di tiap wilayah atau suatu negara. Berikut ini adalah indicator yang mempengaruhi pembangunan masyarakat menuruut Deddy T. Tikson (2005) yaitu:
1. Pendapatan perkapita
Pendapatan per kapita, baik dalam ukuran GNP maupun PDB merupakan salah satu indikaor makro-ekonomi yang telah lama digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif makroekonomi, indikator ini merupakan bagian kesejahteraan manusia yang dapat diukur, sehingga dapat menggambarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tampaknya pendapatan per kapita telah menjadi indikator makroekonomi yang tidak bisa diabaikan, walaupun memiliki beberapa kelemahan. Sehingga pertumbuhan pendapatan nasional, selama ini, telah dijadikan tujuan pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Seolah-olah ada asumsi bahwa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara otomatis ditunjukkan oleh adanya peningkatan pendapatan nasional (pertumbuhan ekonomi). Walaupun demikian, beberapa ahli menganggap penggunaan indikator ini mengabaikan pola distribusi pendapatan nasional. Indikator ini tidak mengukur distribusi pendapatan dan pemerataan kesejahteraan, termasuk pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.
2. Struktur ekonomi
Telah menjadi asumsi bahwa peningkatan pendapatan per kapita akan mencerminkan transformasi struktural dalam bidang ekonomi dan kelas-kelas sosial. Dengan adanya perkembangan ekonomi dan peningkatan per kapita, konstribusi sektor manupaktur/industri dan jasa terhadap pendapatan nasional akan meningkat terus. Perkembangan sektor industri dan perbaikan tingkat upah akan meningkatkan permintaan atas barang-barang industri, yang akan diikuti oleh perkembangan investasi dan perluasan tenaga kerja. Di lain pihak , kontribusi sektor pertanian terhadap pendapatan nasional akan semakin menurun.
3. Urbanisasi
Urbanisasi dapat diartikan sebagai meningkatnya proporsi penduduk yang bermukim di wilayah perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan. Urbanisasi dikatakan tidak terjadi apabila pertumbuhan penduduk di wilayah urban sama dengan nol. Sesuai dengan pengalaman industrialisasi di negara-negara eropa Barat dan Amerika Utara, proporsi penduduk di wilayah urban berbanding lurus dengn proporsi industrialisasi. Ini berarti bahwa kecepatan urbanisasi akan semakin tinggi sesuai dengan cepatnya proses industrialisasi. Di Negara-negara industri, sebagain besar penduduk tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan di Negara-negara yang sedang berkembang proporsi terbesar tinggal di wilayah pedesaan. Berdasarkan fenomena ini, urbanisasi digunakan sebagai salah satu indicator pembangunan.
4. Angka Tabungan
Perkembangan sector manufaktur/industri selama tahap industrialisasi memerlukan investasi dan modal. Finansial capital merupakan factor utama dalam proses industrialisasi dalam sebuah masyarakat, sebagaimana terjadi di Inggeris pada umumnya Eropa pada awal pertumbuhan kapitalisme yang disusul oleh revolusi industri. Dalam masyarakat yang memiliki produktivitas tinggi, modal usaha ini dapat dihimpun melalui tabungan, baik swasta maupun pemerintah.
5. Indeks Kualitas Hidup
IKH atau Physical Qualty of life Index (PQLI) digunakan untuk mengukur kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Indeks ini dibuat indicator makroekonomi tidak dapat memberikan gambaran tentang kesejahteraan masyarakat dalam mengukur keberhasilan ekonomi. Misalnya, pendapatan nasional sebuah bangsa dapat tumbuh terus, tetapi tanpa diikuti oleh peningkatan kesejahteraan sosial. Indeks ini dihitung berdasarkan kepada (1) angka rata-rata harapan hidup pada umur satu tahun, (2) angka kematian bayi, dan (3) angka melek huruf. Dalam indeks ini, angka rata-rata harapan hidup dan kematian b yi akan dapat menggambarkan status gizi anak dan ibu, derajat kesehatan, dan lingkungan keluarga yang langsung beasosiasi dengan kesejahteraan keluarga. Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf, dapat menggambarkan jumlah orang yang memperoleh akses pendidikan sebagai hasil pembangunan. Variabel ini menggambarkan kesejahteraan masyarakat, karena tingginya status ekonomi keluarga akan mempengaruhi status pendidikan para anggotanya. Oleh para pembuatnya, indeks ini dianggap sebagai yang paling baik untuk mengukur kualitas manusia sebagai hasil dari pembangunan, disamping pendapatan per kapita sebagai ukuran kuantitas manusia.
6. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
The United Nations Development Program (UNDP) telah membuat indicator pembangunan yang lain, sebagai tambahan untuk beberapa indicator yang telah ada. Ide dasar yang melandasi dibuatnya indeks ini adalah pentingnya memperhatikan kualitas sumber daya manusia. Menurut UNDP, pembangunan hendaknya ditujukan kepada pengembangan sumberdaya manusia. Dalam pemahaman ini, pembangunan dapat diartikan sebagai sebuah proses yang bertujuan m ngembangkan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan oleh manusia. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa peningkatan kualitas sumberdaya manusia akan diikuti oleh terbukanya berbagai pilihan dan peluang menentukan jalan hidup manusia secara bebas.
Pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai factor penting dalam kehidupan manusia, tetapi tidak secara otomatis akan mempengaruhi peningkatan martabat dan harkat manusia. Dalam hubungan ini, ada tiga komponen yang dianggap paling menentukan dalam pembangunan, umur panjang dan sehat, perolehan dan pengembangan pengetahuan, dan peningkatan terhadap akses untuk kehidupan yang lebih baik. Indeks ini dibuat dengagn mengkombinasikan tiga komponen, (1) rata-rata harapan hidup pada saat lahir, (2) rata-rata pencapaian pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMU, (3) pendapatan per kapita yang dihitung berdasarkan Purchasing Power Parity. Pengembangan manusia berkaitan erat dengan peningkatan kapabilitas manusia yang dapat dirangkum dalam peningkatan knowledge, attitude dan skills, disamping derajat kesehatan seluruh anggota keluarga dan lingkungannya.
●Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat
Strategi Pembangunan Masyarakat Dalam mewujudkan tujuan pembangunan masyarakat terdapat paling sedikit empat jenis srategi :
1. Strategi pembangunan (growth strategy)
2. Strategi kesejahteraan (welfare strategi)
3. Strategi yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (responsive strategy)
4. Strategi terpadu atau strategi yang menyeluruh (integrated or holistic
strategy)(Raharjo Adisasmita, 2006)
Pada dasarnya strategi pembangunan masyarakat adalah mirip dengan strategi pembangunan pedesaan. Azas atau karakteristik masyarakat adalah memiliki sifat semangat masyarakat bergotong royong dan saling tolong menolong, tidak bersifat individualitas, membangun secara bersamasama, pelibatan anggota masyarakat atau peran serta masyarakat adalah besar. Demikian pula dengan masyarakat pedesaan, oleh karena itu strategi pembangunan masyarakat atau community development strategi mempunyai azas yang serupa dengan strategi pembangunan pedesaan. Apa bila dikaji lebih dalam dan lebih luas konsep community development dapat dikembangkan sebagai mekanisme perencanaan pembangunan yang bersifat bottom-up yang melibatkan peran serta masyarakat dalam berbagai kegiatan perencanaan dan pembangunan perkotaan.
Dalam sistem pemerintahan yang desentralistik seperti sekarang, dimana otonomi daerah telah dilaksanakan secara luas ternyata masih menghadapi banyak kendala, di antaranya dana pembangunan relatif terbatas di samping kendala operasional dan fungsional lainya, maka untuk mengatasi berbagai hambatan dalam pelaksanaan otoda tersebut. Salah satu strategi adalah mengembangkan dan menerapakan model community development atau model pembangunan masyarakat yang dapat diterima masyarakat luas (acceptable) dan dapat dilaksanakan dengan baik (Implementable). Strategi adalah cara yang dilakukan untuk mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai langkah-langkah pelaksanaan diperlukan perumusan serangkai kebijakan (policy formulation method and technique). Strategi untuk seluruh pembangunan adalah mewujudkan keadilan dan kemakmuran , sedangkan kebijakan untuk membangun sektor adalah mengatasi berbagai hambatan dan kendala yang dihadapi. Adapun tujuan dalam pembangunan dapat dirumuskan, sebagai berikut:
1.Terciptanya kondisi umum yang mendorong pembangunan.
2.Termanfaatkannya potensi sumber daya sehingga memberikan manfaat bagi pembangunan oleh pemerintah setempat (yang bersangkutan), dunia usaha dan masyarakat umum.
3.Terlaksananya sejumlah investigasi dalam berbagai sektor.
4.Terlaksananya langkah-langkah dalam melaksanakan kemudi dan dorongan bagi kegiatan dan investasi swasta.
Secara teknis perbedaan antara strategi dan kebijakan hanya terletak dalam ruang lingkup. Strategi merupakan siasat memenangkan suatu peperangan (the war) sedangkan kebijakan merupakan siasat untuk memenangkan suatu pertempuran (the battle), sering keduanya dipersatukan menjadi “strategi kebijakan”.
Strategi kebijaksanaan pembangunan pedesaan diarahkan kepada:
1. Pengembangan kelembagaan yang dapat mempercepat proses modernisasi perekonomian masyarakat pedesaan melalui pengembangan agribisnis, jaringan kerja produksi dan jaminan pemasaran.
2.Peningkatan investigasi dalam pengembangan sumber daya manusia yang dapat mendorong produktivitas, kewiraswastaan dan ketahanan social masyarakat pedesaan.
3. Peningkatan ketersediaan pelayanan prasarana dan sarana pedesaan untuk mendukung proses produksi, pengolahan, pemasaran dan pelayanan social masyarakat.
4. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengolahan lahan untuk menopang kegiatan usaha ekonomi masyarakat pedesaan secara berkelanjutan.
5. Peningkatan kemampuan organisasi pemerintah dan lembaga masyarakat pedesaan untuk mendukung pengembngan agribisnis dan pemberdayaan petani dan nelayan.
6. Penciptaan iklim social yang memberi kesempat masyarakat pedesaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan, pengawasan, terhadap jalannya pemerintahan di pedesaan.
Dalam pembangunan masa depan dimana pemerintah dan bangsa Indonesia menghadapi banyak tantangan (ekonomi, social, politik) yang berat dan berkepanjangan, maka partispasi masyarakat sangat diperlukan sebagai kekuatan dinamisasi dan perekat masyarakatakar rumput/bawah (pedesaan) untuk menunjang pembangunan masyarakat pedesaan.
Peningkatan partisipasi masyarakat merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat (social empowerment) secara aktif yang berorientasi pada pencapaian hasil pembangunan yang dilakukan masyarakat. Pemberdayaan masyarakt adalah upaya pemanfaatan dan pengolahan sumber daya masyarakat secara lebih efektif dan efesien dilihat dari : (a) aspek masukan atau input (SDM, dana, peralatan/sarana, data, rencana, dan teknologi. (b) dari aspek proses (pelaksanaan, monitoring, dan pengawasan). (c) dari aspek keluaran atau output (pencapaian sasaran, efektivitas dan efesien).(Raharjo Adisasmita, 2006) Dengan partisipasi masyarakat, perencanaan pembangunan diupayakan menjadi lebih terarah, artinya rencana atau program pembangunan yang disusun itu adalah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat, berarti dalam penyusunan rencana/program pembangunan dilakukan penentuan prioritas (urutan berdaarkan besar kecilnya tingkat kepentingannya) dengan demikian pelaksanaan (implementasi) program pembangunan akan terlaksana pula secara efektif dan efesien.
Berpijak dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan memberikan tekanan pada otonami pengambilan keputusan dari suatu kelompok masyarakat. Penerapan aspek demokrasi dan partisipasi dengan titik focus pada lokalitas akan menjadi landasan bagi upaya penguatan potendi lokal. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan ini adalah menempatkan masyarakat tidak sekedar sebagai obyek melainkan juga sebagai subyek.
Untuk menjaring dan menyaring program-program pembangunan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat ditempuh melalui FGD (Fokus Group Discussion) atau diskusi kelompok terfokus. Bukan suara terbanyak yang menjadi kriteria penentuan dari suatu program, dalam menentukan prioritas program pembangunan harus digunakan criteria terukur. Dalam proses komunikasi dan diskusi dalam kelompok masyarakat adalah kesepakatan dari semua peserta.
Keberhasilan pembangunan dalam masyarakat tidak selalu ditentukan oleh tersedianya sumber dana keuangan dan manajemen keuangan, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh peran serta dan respon masyarakat dalam pembangunan, atau dapat disebut sebagai “partisipasi masyarakat”. Untuk mencapai keberhasilan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan diperlukan kepemimpinan lokal yang cakap, berwibawa dan diterima oleh masyarakat (capable and acceptable local leadership) yang mampu mensinergiskan tradisi social budaya dengan proses pembangunan modern.
●Konsep Pembangunan Berbasis Masyarakat
Pembangunan berbasis masyarakat, secara sederhana dapat diartikan sebagai pembangunan yang mengacu kepada kebutuhan masyarakat, direncanakan. Dilaksanakan oleh masyarakat dengan sebesar-besarnya memanfaatkan potensi sumber daya (alam, manusia, kelembagaan, nilai-nilai sosial budaya, dan lain-lain.) Yang ada dan dapat diakses oleh masyarakat setempat.
Karena itu, pembangunan berbasis masyarakat seharusnya pembangunan berangkat dari kebutuhan masyarakat dan bukannya dirumuskan oleh "orang luar" atau elit masyarakat yang merasa tahu dan lebih pandai untuk merumuskan pembangunan yang cocok bagi masyarakatnya. Pembangunan berbasis masyarakat, berarti pembangunan harus berbasis pada sumber daya lokal, berbasis pada modal sosial, berbasis pada budaya lokal, menghormati atau berbasis pada kearifan lokal, dan berbasis pada modal spiritual yang dimiliki dan atau diyakini oleh masyarakat setempat.
Sejalan dengan itu, telaahan tentang pembangunan berbasis masyarakat akan mencakup:
1. Pembangunan dari atas dan atau dari bawah (Top-down/Bottom-up)
2. Pembangunan berbasis sumberdaya lokal.
3. Pembangunan berbasis modal sosial.
4. Pembangunan berbasis kebudayaan.
5. Pembangunan berbasis kearifan lokal.
6. Pembangunan berbasis modal spiritual.
Pembangunan masyarakat (community development) mengandung upaya untuk meningkatkan partisipasi dan rasa memiliki (participating and belonging together) terhadap program yang dilaksanakan, dan harus mengandung unsur pemberdayaan masyarakat dan Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah untuk :
1) memiliki akses terhadap sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan.
2) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Namun kenyataannya seringkali proses ini tidak muncul secara otomatis, melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi masyarakat setempat dengan pihak luar atau pekerja sosial baik yang bekerja berdasarkan dorongan karitatif maupun perspektif professional,
Para pekerja social atau (community development ) ini berperan sebagai pendamping sosial. Pendamping sosial hadir sebagai agen perubahan yang turut terlibat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi mereka.maka korelasi pembangunan serta pengembangan harus bersatu padu dalam menjalankan segala aspek yang sifatnya demi kepentingan komunal, sehingga Pendampingan social atau kata lain ( community development ) dapat diartikan sebagai interaksi dinamis antara kelompok miskin dan pekerja social untuk secara bersama-sama menghadapi beragam tantangan.
●Realitas Pembangunan di Indonesia
Salah satu realitas pembangunan di Indonesia adalah munculnya kesenjangan pembangunan antar daerah dan antar kawasan. Menyadari akan hal tersebut maka pemerintah mencoba untuk melakukan perubahan konsep pembangunan dari pendekatan sektoral menjadi pembangunan regional.Perbedaan laju pembangunan antar daerah menyebabkan terjadinya kesenjangan kemakmuran dan kemajuan antar daerah, terutama daerah jawa dengan luar Jawa. Kawasan Indonesia Barat dengan Kawasan Indonesia Timur. (Haeruman 1996, Kuncoro 2002). Salah satu kebijakan yang diambil pemerintah untuk mempersempit kesenjangan regional yaitu diterapkan kebijakan pembangunan daerah memalui konsep kawasan andalan, yang dilakukan berdasar potensi yang dimiliki daerah.
-Big Push
Big Push pertama kali dicetuskan oleh Paul Narcyz Rosenstein-Rodan, ia menekankan perlunya rencana dan program aksi dengan investasi skala besar untuk mempercepat industrialisasi di Eropa Timur dan Tenggara. Big Push merupakan dorongan besar untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain yang memanfaatkan dampak jaringan kerjasama antar daerah melalui economics of scale and scope, serta keluar dari perangkap keseimbangan yang rendah.
Pada tahun 2009 ditargetkan oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal 20% dari 199 daerah bisa terlepas dar ketertinggalannya. Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal telah mengalokasikan 170 triliun untuk mengentaskan kemiskinan di daerah tertinggal.
Kementrian telah merumuskan suatu kebijakan RAN ( Rencana Aksi Nasional ) yaitu :
Berkurangnya kesenjangan antar wilayah yang tercermin dari meningkatnya peran pedesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Meningkatnya pembangunan di daerah tertinggalMeningkatnya pengembangan wilayah yang didorong oleh daya saing kawasan.Meningkatnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan.
KAPET DAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN
○Kawasan Timur Indonesia
Ciri yang paling mencolok aktivitas ekonomi secara geografis adalah konsentrasi dan ketimpangan. Konsentrasi aktivitas ekonomi secara spasial dalam suatu negara menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan proses selektif dipandang dari segi geografis.
KAPET merupakan kristalsasi dari ide pengembangan Kawasan Timur Indonesia. Prinsip dasarnya :
Pemerataan,. Pertumbuhan, dan pengembangan wilayahLandasanya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam waktu singkat secara efisien
○KAWASAN PENGEMBANGAN STRATEGISA
Adalah kawasan pengembangan yang mempunyai sumber daya yang produktif untuk dikembangkan baik tingkat regional maupun nasional, aglomerasi regional, posisi strategis danmempunyai implikasi terhadap pengembangan regional dan nasional.
Beberapa factor penting yang memengaruhi lokasi KPS adalah :
Lokasi Geografi, Sumber Daya Alam, Insfrastruktur regional,Keterkaitan antar Daerah.
17 KPS dibagi menjadi 4 Kelompok :
1. KPS yang menjadi pintu gerbang regional dengan negara-negara APEC : Batam, Pontianak, Samarinda, Manado, Biak.
2. Pintu gerbang Uni Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan : Lhoksumawe, Padang, Medan, Batam.
3. Pintu gerbang Australia : Timika, Kupang, Denpasar.
4. Pusat Distribusi antar kawasan : Medan, Lampung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Makasar.
STRATEGI PERCEPATAN DAERAH TERTINGGAL
Strategi pembangunan ekonomi lokal perlu menekankan dimensi spasial. Integrasi antar pembangunan desa dan kota big push bagi percepatan pembangunan daerah tertinggal.
REFERENSI :
HUKUM - MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN - Oleh : Prof. Dr. SATJIPTO RAHARDJO SH., ALUMNI BANDUNG
Theresia, Aprilia. Dkk. (2015). Pembangunan Berbasis Masyarakat. Bandung: Alfabeta.
http://digilib.uinsgd.ac.id/3650/1/SOSIOLOGI%20PEMBANGUNAN.pdf
https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/teori-dan-indikator-pembangunan-12
https://www.neliti.com/publications/218025/teori-pembangunan-dunia-ke-3-dalam-teori-modernisasi-sub-teori-harrod-domar-tabu
https://repository.uksw.edu › ...PDFBab II Pembangunan Masyarakat, Indikator dan Penggeraknya
Pengeresume : Blog Tanissa Puti Rahmadiva


0 komentar:
Posting Komentar