Suatu hari, Albert Einstein, seorang ilmuwan terkemuka, pernah ditanya seorang anak SD mengenai kesulitannya memecahkan persoalan matematika. Kemudian Albert Einstein pun menjawab, "Kalau kalian merasa kesulitan dengan persoalan matematika, Jangan khawatir, karena saya juga punya persoalan matematika saya sendiri".
Seorang ilmuwan terkenal, bahkan seorang jenius pun tidak berarti serta-merta terbebas dari persoalan dan kesulitan. Bedanya, Iya punya tingkat persoalan dan kesulitan yang berbeda dengan kita. Setiap orang memang punya kesulitan yang berbeda-beda, ada yang levelnya mudah, ada yang levelnya sulit. Bahkan level itu juga bisa dilihat tergantung dengan tingkat kemampuan kita. Kalau misalnya kita yang sudah kuliah diberi level persoalan tingkat SD, tentu saja itu sangat mudah untuk dikerjakan. Tapi jika seorang anak SD diberi persoalan setingkat universitas, jelas-jelas itu sangat sulit dan sangat mustahil untuk dikerjakan. Tapi Tuhan kan Maha Adil. Dia memberikan permasalahan pada manusia sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Baca Juga: Kita ini punya apa sih?
Sungguh aneh kalau ada seorang mahasiswa yang mengeluh saat diberi persoalan selevel mahasiswa dan memilih persoalan level anak SD, misalnya. Karena itu berarti dia tidak menghargai potensi dirin sendiri dan tidak mau belajar untuk berkembang. Seorang dosen yang baik tentu saja akan menyesuaikan soal ujian yang ia berikan dengan kemampuan mahasiswa dan tidak memberikan soal diluar batas kemampuan mahasiswa. Kalau mahasiswa belum bisa mengerjakan itu berarti ia harus lebih banyak lagi belajar dan berusaha.
Baca Juga: Kita ini punya apa sih?
Sungguh aneh kalau ada seorang mahasiswa yang mengeluh saat diberi persoalan selevel mahasiswa dan memilih persoalan level anak SD, misalnya. Karena itu berarti dia tidak menghargai potensi dirin sendiri dan tidak mau belajar untuk berkembang. Seorang dosen yang baik tentu saja akan menyesuaikan soal ujian yang ia berikan dengan kemampuan mahasiswa dan tidak memberikan soal diluar batas kemampuan mahasiswa. Kalau mahasiswa belum bisa mengerjakan itu berarti ia harus lebih banyak lagi belajar dan berusaha.
Banyak orang yang berupaya buat menghindari kesulitan. Wajar saja sih, namanya manusia tentu saja ingin yang mudah. Tapi jika menyadari bahwa dibalik kesulitan itu ada kemudahan, apakah manusia akan terus berusaha untuk menggapainya, atau malahan takut melangkah dan bersembunyi terus dibalik kesulitan? Jika yang terakhir yang dipilih, maka ia mempersulit dirinya sendiri. Iya tidak bisa mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, yang walaupun sulit namun mempunyai potensi untuk bisa dipecahkan. Ketekunan, kerja keras, dan doa yang tidak putus-putus merupakan kunci untuk mengubah kesulitan menjadi kemudahan.
Baca juga: Belajar dari keledai, sebuah inspirasi kehidupan
Sumber pustaka:
Sumber: Sunindyo, Wikan Danar. (2017).
Inspirasi Harian - Bukan Inspirasi Biasa. Surabaya: CV Garuda Mas Sejahtera



0 komentar:
Posting Komentar