Entah kenapa kata "seandainya" begitu cepat muncul dalam benak kita dan bahkan terlontar dari mulut kita. Terlebih lagi ketika apa yang kita usahakan yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Maka ada kata muncul "seandainya" : "seandainya aku secantik dia", "seandainya aku setampan dia", "seandainya kejadian memalukan itu tidak menimpaku", "seandainya"-"seandainya" dan "seandainya". Hari-hari kita begitu dipenuhi dengan kata "seandainya".
Ayo baca: Nothing Menjadi Something
Marilah kita berhenti mengucapkan dan berpikir tentang "seandainya" karena Sang Pencipta telah melengkapi hidup kita dengan berbagai hal yang baik. Marilah kita mulai menggali karunia yang telah dilimpahkannya bagi kita dan menjalani hidup dengan semangat tanpa seandainya.
Kristo, Imanuel. (2008). Momen Yogyakarta: ANDI


0 komentar:
Posting Komentar