08 Mei 2020

Mimesis


Manusia adalah makhluk peniru (homo mimesis) benarkah demikian?

Dan sejak kecil, kita melihat sekeliling kita. Mencoba mengamati lingkungan di sekitar kita. Melihat apa yang dilakukan oleh orang lain. Kita berusaha bergerak, kita meniru gerakan gerakan itu. Sehingga kita bisa merayap, merangkak, dan berjalan meskipun sambil tertatih-tatih.

Saat bayi, kita terbiasa mengoceh sendirian. Menciptakan bahasa sendiri yang aneh-aneh dan tidak dimengerti orang lain. Selanjutnya bayi mulai memahami bahasa dan mencoba mengikuti kata-kata orang dewasa. Iya belajar dengan cara meniru kata-kata seperti papa, mama, yang kemudian memberi arti tertentu pada dirinya.

Lambat laun kosakatanya bertambah. Semakin sering diajak ngobrol dan berkomunikasi, bayi semakin cerdas dan menguasai bahasa dan bercakap-cakap. mula-mula kalimat sederhana hingga akhirnya kalimat sempurna yang semakin kompleks.

Iya belajar membaca dan menulis dengan menirukan pola-pola yang ada. Dengan meniru orang belajar, sebelum akhirnya menemukan kemampuannya sendiri.

Pola belajar juga sama aja atau mirip. Guru memberikan mata pelajaran yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya. Untuk kemudian diberikan latihan dan ujian untuk memastikan pemahaman sang murid terhadap materi yang diberikan.

Kapan mau meniru atau menyontek menjadi suatu yang dilarang? Dan mengapa demikian? Hakikat belajar adalah menguasai dan mampu memproduksi pengetahuannya sendiri melalui kemampuan anak didik. Di sinilah kemampuan logika dan pencerapan dibutuhkan, tidak hanya sekedar mengikuti apa yang diajarkan tapi mencari kebenarannya sendiri melalui cara cara sistematis dan metode ilmiah yang telah diajarkan.

Sebagian cara diajarkan melalui metode meniru atau menduplikasi pola-pola yang sudah jelas dan berhasil dilaksanakan di masa lalu, sebagian lagi menantang dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan pola-pola yang baru melalui fenomena yang disajikan. Dan saat ujian, siswa diberikan suatu persoalan yang tertutup, yang memungkinkan mereka untuk memproduksi gagasan-gagasan terhadap kebenaran seperti yang telah diajarkan sebelumnya. di dalam hujan inilah meniru atau menyontek menjadi dilarang atau tidak diperbolehkan. Karena meniru hanya menghasilkan suatu karya yang tidak jauh berbeda dari apa yang telah ditiru, sementara ilmu pengetahuan berkembang melalui hipotesis dan tantangan terhadap hal-hal yang baru yang belum pernah diuji sebelumnya.

Ilmu pengetahuan meletakkan penghargaan terhadap paya upaya kreatif yang dilakukan oleh individu manusia dalam menjawab persoalan fenomena alam semesta. Maka upaya peniruan, duplikasi eksperimentasi, penyontekan, dan penjiplakan hanya diperbolehkan an2 Dakar langkah pembelajaran untuk mengetahui pola pikir dan menguji metode yang telah dilakukan oleh orang lain, bukan untuk mengaku hasil karya atau pemikiran orang lain sebagai miliknya.

Makalah plagiarisme selalu menjadi isu yang menarik di kaji di kalangan dunia pendidikan. Sampai di masa batas peniruan menjadi diperbolehkan? Di negara maju, di mana proses kreativitas telah diajarkan Saya dari kecil dan menjadi bagian utama dari proses pembelajaran diatas peniruan, plagiarisme bisa dicegah dan diminimalisasi. Meskipun demikian, tetap saja ada kasus plagiarisme pada satu dua kasus tertentu yang segera didapatkan perhatian dan tindakan dari komunitas ilmiah.

Bagaimana halnya di Indonesia? Jika bangsa ini masih permisif terhadap upaya peniruan dan penyontekan, tidak menghargai proses dan hak cipta, dan lebih mengutamakan hasil akhir tanpa memperdulikan kaidah dan norma ketimbang proses yang benar yang harus dilalui, berarti PR bangsa ini masih besar.

Jangan sampai menyatakan mencari jati diri bangsa yang membenarkan tindakan yang salah hanya demi mendapatkan hasil secara cepat dan instan. Kebanggaan terhadap hasil kerja keras diri sendiri perlu lebih diaresiasi ketimbang menghargai karya yang bagus tapi bukan karya pribadi, dan ini perlu dimulai dari diri sendiri dan dari lingkungan terkecil di sekeliling kita.

Sumber: Sunindyo, Wikan Danar. (2017).


 Inspirasi Harian - Bukan Inspirasi Biasa. Surabaya: CV Garuda Mas Sejahtera

0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About