02 Mei 2020

Aliran-aliran dalam filsafat


ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT


Oleh: Fairus Utami

1. Filsafat Idealisme
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme, ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengatahuan a priori atau deduktif dapat di peroleh manusia dengan akalnya. 

Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi.

Plato sering disebut sebagai seorang idealis, idea-nya tidak khusus (spesifik) mental, tetapi lebih merupakan objek universal (mirip dengan definisi Aristoteles, pengertian umum pada Socrates). Begitu juga dengan Kant yang menyebut dirinya sebagai seorang idealis empiris, ia menyebutkan bahwa ruang dan waktu adalah cara manusia memahami suatu objek; jadi, raung dan waktu baginya tidak eksis.

Dalam sejarah Idealisme tentunya berkaitan dengan masa depan manusia masih percaya bahwa dunia ini dikendalikan oleh sesuatu diluar hal yang material. Kepercayaan pada benda gaib, agama animisme dan dinamisme, anggapan daulitas ruh (jiwa) dan raga, zaman banyak dewa, hingga agama monoteisme adalah bentuk cara pandang idealisme.

2. Filsafat Realisme
Menurut Filsafat Realisme, pengatahuan yang benar ialah pengatahuan yang sesuai dengan kenyataan. Kenyataan mempunyai “diri” terhadap subjek yang mengenalnya. Pengatahuan hanya disebut objektif kalau subjek mendengarkan apa yang dinyatakan kenyataaan. Maka dari itu, dalam filsafat realisme, subjek aktif namun keaktifanya bersifat resensif.

Idealisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

Menurut para realis sesuatu tidak boleh diperindah atau dilukiskan dengan lebih buruk dari keadaaan yang sebenarnya itu. Dalam aliran realisme, pernah dibedakan realisme-langsung dan realisme tidak-langsung. Realisme-tidak langsung berpendapat bahwa yang ertama dikenal adalah objek yang imanen, gambar kenyatan dalam kesadaran (gambar pohon) baru melalui gambar itu (bagaikan gambar dalam kaca cermin) dilihat kenyatan pohon dari sebenarnya.

3. Filsafat  Materialisme
Materialsme memandang kejasmaniaan (materi) sebagai keseluruhan manusia. Materialisme menganggap suatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Lalu bagaimana pandangan materialisme tentang manusia? Dalam pandangan materialisme, baik yang kolot ataupun yang modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya batu dan kayu. Mameng orang materalis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda dan batu. Akan tetapi, aliran materialisme mengatakan dan pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir manusia hanyalah suatu yang material; dengan kata lain materi, betul betul materi.
Materialisme adalah suatu paham ilmiah. 

Materialisme memandang dunia ini adalah saling keterkaitan atau keterhubungan atau interaksi objek-objek materi dalam berbagai kondisi, baik kondisi tetap maupun bergerak. Kaum materialis memandang kebudayaan manusia sebagai realitas konkret bersama-sama dengan produk pikiran dan produk manusia. Produk pemikiran dan perilaku itu terwujud sebagai objek fisik seperti peralatan dan benda-benda lainnya, yang bersama-sama hadir dengan produk pemikiran seperti ilmu pengatahuan, pengatahuan teknologi, nilai-nilai, hukum, dan agama. Materialisme berpendapat bahwa kebudayaan tidak mungkin berada terpisah dari manusianya, oleh karena itu dimensi fisik, pengatahuan dan kelakuan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi.

4. Filsafat Pragmatisme
Kata pragmatisme sering kali diucapkan orang. Orang-orang menyebutkan kata itu biasanya dalam pengetian praktis. Jika orang berkata, “Rancangan ini kurang pragmatis”, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dengan pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme itu sendiri.

Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. William James adalah tokoh paling bertanggungjawab yang membuat pragmatisme menjadi terkenal di seluruh dunia. Ia mengatakan bahwa secara ringkas pengertian pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui. 

Sebenarnya istilah pragmatisme lebih banyak berarti sebagai metode untuk memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan. Istilah ini mengingatkan kepada kita bahwa betapa pentingnya tindakan dan tujuan manusia dalam pengalaman, pengatahuan dan pengertian.

5. Filsafat Eksistensialisme
Kata dasar eksistensi (existecy) adalah exis yang berasal dari latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Eksisensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas. 

Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Artinya ialah bahwa manusia adalah subjek. Subjek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut objek.

Eksistensialisme juga lahir dari reaksi terhadap idealisme. Materialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrem. Kedua-duanya berisi benih-benih kebenaran, tetap kedua-duanya juga salah. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas itu. 

Soren Kierkegaard (1813-1855) adalah tokoh eksisensialisme. Menurutnya, filsafat tidak merupakan suatu system, tetapi suatu pengekspresian eksistensi individual. Karena ia menantang filsafat yang bercorak sitematis. Pengaruh Kierkegaard belum tampak ketika ia masih hidup, bahkan bertahun-tahun namanya tidak dikenal orang di luar negerinya. itu antara lain karena karyanya di tulis dalam bahasa Denmark. Barulah akhir abad ke-19 karya-karya Kierkegaard mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Karyanya menjadi sumber penting untuk filsafat abad ke-20 yang disebut dengan eksistensialisme.

Begitu juga tokoh terpenting dalam filsafat eksistensialisme yaitu Jean Paul Satre (1905-1980) dialah menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar, bahkan mejadi semacam mode, sekalipun dia bukan pendiri eksistensialisme, melainkan Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855). Jean Paul Satre selain seorang guru besar ia juga seorang pejuang dalam perang dunia kedua. Dalam perang dunia kedua ia menjadi salah satu pemimpin pertahanan. Sebagai novelis dan dramawan namanya amat terkenal juga.

6. Filsafat  Progresivisme
Aliran progresivisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang pesat pada permulaan abad XX dan sangat berpengaruh dalam pembaruan pendidikan. Progresivisme dalam pandangannya. Aliran ini mempunyai konsep yang mempercayai manusia sebagai subjek yang memiliki kemampuan dalam menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya. Progresivisme menganggap bahwa pendidikan juga mempu mengubah dan menyelamatkan manusia dari ketidaktahuan. Tujuan pendidikan selalu diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus dan bersifat progresif. Dengan demikian, progresif merupakan sifat positif dari aliran ini.

Progresivisme merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.

Dalam pandangan progresivisme pendidikan merupakan suatu saran atau alat yang dipersiapakan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik supaya tetap survive terhadap semua tanangan kehidupannya yang secara praktis akan senantiasa mengalami kemajuan. Menurut progresivisme proses pendidikan mempunyai dua segi, yaitu psikologis dan sosiologis. Dari segi psikologis, pendidikan harus dapat mengatahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada anak didik yang akan dikembangkan. Psikologinya seperti yang berpengaruh di Amerika, yaitu psikologi dari aliran Behaviorisme dan Pragmatisme. Dari segi sosiologis, pendidikan harus mengatahui kemana tenaga-tenaga itu harus dibimbingnya.

7. Filsafat Esensialisme
Esensialisme berasal dari bahasa latin essentia yang berarti hakekat koderat. Aliran ini berlawanan dengan filsafat eksistensialisme. Bagi esensialisme ini merupakan sebuah aliran filsafat yang berdasar pada Parmenides dan Plato. 

Esensialiseme merupakan salah satu corak yang telah lama berkembang dalam dunia keilmuan. Akal corak pikiran ini dapat dilacak pertama kali dalam pemikiran plato (428-348), yang menjelaskan bahwa esensi sesuatu itu tetap, dan setiap entitas memiliki esensi yang berbeda dengan entitas lainnya. Menurut Richard, corak pemikiran esensialisme ini memandang bahwa setiap entitas memliki kerakteristiknya masing-masing dalam entitas dan fungsinya.

Esensialisme adalah suatu filsafat konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda.

8. Filsafat Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran filsafat dalam pendidikan yang lahir pada abad ke-20. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosiol kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. 

Perenialisme adalah sebuah penomena menarik yang selalu actual untuk dikupas. Dimensi perenial atau keabadiannyalah yang membuat filsafat ini selalu dapat “fitted” dengan persoalan-persoalan yang muncul sepanjang zaman. Karakter kepribadian filsafat ini terkandung dalam berbagai konsepsi dasarnya tentang realitas. Salah satu konsepsi dasar yang coba kita ungkapkan adalah konsep realitas yang hierarkis, konsep ini merupakan salah satu diantara berbagai konsepsi metafisika perenial yang mendasari berbagai konsepsi-konsepsi filsafat perenial lainnya, seperti: Psikologis atupun etika perenial.

Namun karakter keabadian filsafat perenial tidak menjamin bahwa filsafat ini terus berjaya, dalam arti menjadi pusat perhatian, didalam wacana pemikiran manusia sepanjang zaman. Dalam sejarah perkembangan pemikiran manusia, ada fakta bahwa filsafat perenial ini mengalami penomena timbul dan tenggelam.

9. Filsafat Rekonstruksionisme
Rekonsruksionalisme berasal dari bahasa inggris Reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionalisme adalah suatu lairan yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup dan membangun kebudayaan yang bercorak modern.

Rekonstruksionalisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.

Aliran rekonstruksionalisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia merupakan semua tugas umat manusia atau bangsa. Oleh karena itu, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Amril M menjelaskan karakteristik rekontruksionalisme yaitu. a. penciptaan masyarakat yang lebih baik dan tatanan dunia baru sebegai perkembangan industri dan teknologi yang ama cepat b. Terciptakan masyarakat yang baru yakni suatu masyarakat yang global yang interdependen, c. Sekolah sebagai pusat pembangunan dan perubahan, dan e. Kurikulum metode, peranan guru, dansekolah benar-benar ditempatkan sebagi usaha penciptaan masyarakat baru yang inklusif. Menurut Muhmidayeli landasan filosofis rekonstrusionalisme adalah filsafat pragmatisme.

Sumber Referensi

  • Tafsir, Ahmad. (2018). Filsafat Umum. Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  • Anwar, Muhammad. (2017). Filsafat Pendidikan. Jakarta: Kencana
  • K.Hadimadja, Aoh. (2017). Aliran-aliran Klasik, Romantik dan Realisme dalam Kesusateraan. Bandung: PT Dunia Pustaka Jaya
  • Snijders, Adelbert. (2010). Manusia dan Kebenaran. Sebuah Filsafat pengatahuan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
  • Wathoni, Lalu Muhammad Nurul. (2018). Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Filosofis Kurikulum 2013. Ponorogo: CV Uwais Inspirasi Bedagan.
  • Amirudin, Noor. (2018). Filsafat Pendidikan Islam. Konteks Kajian Kekinian, Kulon Gresik: Caremedia Communication
  • Wora, Emanuel. (2010) Perenialisme. Kritik atas Modernisme dan Postmodernisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Saifuddin, Achmad Fedyani. (2016) Logika Antropologi: Suatu Percakapan (Imanjiner) Mengenai Dasar Paradigma. Jakarta: Kencana
  • M. Fadlillah. (2017). Aliran Progresivisme Dalam Pendidikan di Indonesia. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 5 No. 1 Hal. 20
  • Jalaluddin, Abdullah Idi. (2002) Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pranata


0 komentar:

Contact

Hubungi saya

Silahkan hubungi saya bila ada keperluan. Insyaalah saya akan balas bila sedang tidak sibuk :).

Address:

Masjid As-Sakinah, Jl. Padasuka, Gg. Babakan Cihapit IV, Kota Bandung

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

0812 2337 7612

Cari Jurnal harian disini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

About